30 May 2022, 21:15 WIB

Konten Kreator Perlu Kelola Kekayaan Intelektual


Ihfa Firdausya |

SETIAP konten kreator tentu berharap karyanya bisa terus hidup dan menghidupi si pembuat karya sampai akhir hayat. Termasuk mereka yang membuat karya di ranah digital.

Untuk itu, konten kreator perlu memperhatikan hak kekayaan intelektual mereka atau intellectual property (IP) agar karyanya tetap aman, menguntungkan, sekaligus dapat dinikmati secara legal oleh publik. Di sisi lain, karya yang telah memiliki IP dan berpotensi menjangkau publik lebih besar justru jarang dibekali dari sisi bisnis ketika berhadapan dengan pihak ketiga yang tertarik, terutama dalam menegosiasikan harga dan persyaratan perizinan.

Hal ini salah satunya menjadi perhatian KaryaKarsa, sebuah platform apresiasi kreator tempat fans dapat langsung mendukung kreator favoritnya dengan kesinambungan finansial. Sebagai wadah bagi 100 ribu kreator saat ini, KaryaKarsa menghadirkan layanan IP management untuk mengukuhkan perannya sebagai rumah pemberdayaan para storyteller.

"Peran KaryaKarsa sebagai rumah pemberdayaan tidak hanya memberi ruang untuk berkarya, tetapi juga memberikan kemudahan mereka dalam menjangkau para penggemar sekaligus karya ke skala yang lebih besar," ungkap Co-founder dan Chief Executive Officer KaryaKarsa Ario Tamat dalam konferensi pers di bilangan Jakarta Selatan, Senin (30/5).

Dengan menghadirkan program lP management di KaryaKarsa, para storyteller dapat menawarkan IP mereka, Iengkap dengan data ketertarikan penonton berbayar di KaryaKarsa kepada pihak ketiga yang tertarik untuk mengadaptasi IP asli ke dalam berbagai format lain. Kesepakatan dapat ditawarkan dan dilakukan melalui platform, mulai dari opsi hingga lisensi akhir.

Dalam hal ini, KaryaKarsa mewakili kepentingan bisnis dan dokumen ruang belakang yang diperlukan, termasuk pendaftaran resmi hak kekayaan intelektual kepada pemerintah dan dokumen hukum. Lebih jauh lagi, IP management KaryaKarsa juga akan menyarankan harga dan persyaratan terbaik untuk pembuat dan penerima lisensi, menuju hubungan kreatif yang lebih adil.

"Kadang kala kreator ini belum punya pengetahuan cukup untuk bagaimana, misalnya, berhadapan dengan PH (production house), urusan legalnya seperti apa. Kita hadir di situ untuk misalnya bantu liatin draf kontraknya, ngurusin pendaftaran hak cipta," jelas Ario.

"Jadi supaya karyanya tetap terjaga dan tetap akan dapat manfaat, tapi potensi ke depannya tetap terjaga juga. Kalau bagian fondasinya aman, untuk ke depannya aman. Jadi kalau mau ada adaptasi karya berbagai format itu udah dijagain sama KaryaKarsa," imbuhnya.


Baca juga: Dukung Pengembangan Ketahanan Gempa, UI Gelar Penelitian di NTB


Sebagai langkah awal, KaryaKarsa menggandeng platform konten audio asal Indonesia Noice, sebagai partner IP management. Kolaborasi ini akan menghadirkan ragam konten dari penulis dan storyteller pilihan KaryaKarsa yang diadaptasi Iewat format audio series di aplikasi Noice.

Chief Business Officer (CBO) Noice Niken Sasmaya menyatakan, apa yang dilakukan oleh KaryaKarsa dalam mengapresiasi dan mendukung para kreator lokal sejalan dengan komitmen Noice untuk menumbuhkan ekosistem konten audio lokal yang berkualitas. Antara lain dengan terus merangkul kreator-kreator dari berbagai daerah di Indonesia untuk bisa sukses dan berdaya lewat karya mereka.

"Format audio series ini sangatlah unik dan kian banyak peminatnya karena menghadirkan pengalaman berbeda dalam menikmati rangkaian cerita yang dibawakan dengan kekuatan suara sehingga dapat menciptakan theatre of mind atau interpretasi visual tersendiri dari masing-masing orang berdasarkan apa yang mereka dengar," ujar Niken pada kesempatan yang sama.

KaryaKarsa sendiri akan segera membuka pendaftaran untuk platform lP management. Saat ini, KaryaKarsa telah menaungi sekitar 100 ribu kreator yang rata-rata menghasilkan lebih dari 3.000 karya per bulan. Lewat platform ini, kreator bisa mendapatkan pendapatan bulanan langsung dari fans mereka.

Ario menjelaskan, semua penulis dapat 90% dari pendapatannya. Harga dari sebuah karya pun ditentukan oleh kreatornya.

"Kalau buka website kita, ada fitur penghitung, misalnya, berkarya berapa kali per bulan, nilai karyanya berapa rupiah per karya, kira-kira sebulan dapat berapa. Mereka bisa kira-kira sendiri. Ngukur sendiri, kira-kira sanggupnya berapa, kasih harga berapa, biar dapat penghasilan berapa," jelasnya.

Head of Growth KaryaKarsa Pribadi Prananta menunjukkan sejumlah storyteller di KaryaKarsa sudah bisa hidup dari karyanya. Dia mencontohkan, ada sekitar 300-an kreator yang penghasilannya di atas UMR.

"Ada misalnya kreator kita dari Surabaya yang dalam dua hari bisa menghasilkan sekitar Rp12 juta. Semakin banyak fans atau orang yang suka dengan karyanya, tentu penghasilannya akan semakin besar. Caranya bisa dengan rajin menulis, mengembangkan personal branding lewat media sosial masing-masing," katanya.

Pada November 2021 lalu, KaryaKarsa juga mendapatkan investasi sebesar US$500.000 atau Rp7 miliar dari sejumlah investor. Dalam dua tahun terakhir, KaryaKarsa disebut sudah membagikan lebih dari Rp20 miliar kepada para kreator. (Ifa/S-2)

BERITA TERKAIT