29 May 2022, 06:20 WIB

Kegigihan sang Juara Debat


Nike Amalia Sari |

DEBAT menjadi ajang pertukaran pendapat mengenai suatu hal. Banyak hal positif yang dihasilkan dari berdebat, seperti pemikiran kritis dan terbuka, menghargai pendapat orang lain, menambah pengetahuan, dan dampak lainnya.

Dampak-dampak tersebut telah dirasakan Fanny Laurensia, mahasiswi baru jenjang sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatra Utara. Sejak 2020, anak kedua dari tiga bersaudara itu giat berkecimpung di berbagai kompetisi debat, baik nasional maupun internasional.

Fanny tidak menapaki awal yang mulus. Saat awal-awal mengikuti kompetisi, dirinya kerap berhadapan dengan kegagalan. Apalagi, berdebat bukan karakter alaminya. Namun, Fanny mampu menjadikan rintangan-rintangan tersebut sebagai pijakan untuk mencapai prestasi yang lebih baik pada kemudian hari. Baginya, tidak ada yang benar-benar gagal kecuali jika seseorang berhenti mencoba.

Bagaimana Fanny mendidik dirinya menjadi pendebat nan lihai? Simak petikan percakapan Muda bersama gadis berusia 18 tahun itu via aplikasi video konferensi, Kamis (12/5).

 

Saat ini kamu sudah mengantongi puluhan kemenangan dalam kompetisi debat. Seperti apa mulanya? Apa kamu sudah jago debat dari awal?

Awalnya itu saya mengikuti debat karena penasaran. Saya ikut beberapa lomba debat dan dihantam dengan kegagalan. Awalnya itu sangat hancur karena tidak bisa menang lomba kayak ngomongnya harusnya 7 menit, tapi cuma ngomong 2 menit atau 1 menit. Namun, dari sana ada urgensi untuk terus berkembang.

Hingga pada saatnya, dari Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), saya tahu ada Lomba Debat Bahasa Indonesia (LDBI) dan National Schools Debating Championship (NSDC). Dari sana, saya coba untuk mengikuti seleksinya pada 2020 di bidang LDBI. Awalnya saya mengikuti debat berbahasa Inggris, sih, tapi karena ingin menantang diri sendiri, saya mengikuti debat bahasa Indonesia.

 

Bagaimana hasilnya?

Jadi, saya terus berlatih, beribu latihan dan bekerja keras. Namun, pada akhirnya saya tidak lolos, tidak sampai top 10 di provinsi. Saya sempat merasa hancur karena merasa sudah menghabiskan satu tahun untuk terus berlatih sehingga saya jadi down. Selama satu minggu, saya merenungkan kegagalan saya. Namun, tiba-tiba berpikir, kayak, kegagalan ini kan bukan akhir perjalanan debat saya.

Pada 2021, walaupun masih ada rasa takut gagal lagi, saya tetap mencoba ikut seleksi, bidang LDBI juga. Saya mengubah pola pikir dan terus berlatih. Akhirnya bisa menjadi juara 2 di provinsi dan menjadi wakil di kancah nasional untuk lomba LDBI. Dua teman dekat saya yang satu sekolah dengan saya juga lolos. Kami berjuang sampai akhirnya mendapatkan juara 3 bersama di LDBI nasional. Ini pencapaian yang sangat berarti, bersyukur, dan sangat saya hargai karena awalnya itu dari kegagalan, tetapi akhirnya bisa mendapatkan medali perunggu.

 

Tadi kamu bilang kamu mengubah pola pikir saat ikut kompetisi LDBI 2021, maksudnya?

Saat itu saya sempat memiliki mindset bahwa yang penting saya memberikan (kata) sebanyak-banyaknya, tanpa memperhitungkan bahwa di debat itu bukan kuantitas, tapi kualitas. Kata-kata saya tidak beraturan, jadi mungkin jurinya kurang mengerti apa yang saya sampaikan. Setelah itu, saya mengevaluasi bagaimana cara debaters menstruktur dan membuat argumentasi agar lebih bisa dimengerti dan diinginkan juri di LDBI.

Lalu, pada 2020 juga saya kayak overthinking. Tiap hari berlatih sampai kurang istirahat. Ternyata itu menyakiti diri saya sendiri, saya jadi burnout. Itu salah satu faktor saya gagal juga. Seharusnya, seimbang. Harus tahu kapan berlatih, kapan istirahat, dan menenangkan pikiran.

 

Debat itu kan skill, ya. Apa yang kamu lakukan untuk mengasahnya? 

Saya ikut pelatihan di sekolah dengan pelatih. Saya juga berlatih sendiri. Saya mencari sumber-sumber dan platform-platform lain untuk bisa mengembangkan kemampuan debat saya seperti dari Youtube dan sumber lainnya.

 

Apa tantangan yang kamu hadapi selama menekuni debat? 

Tantangannya banyak, dimulai dari tekanan karena dalam debat itu kita akan dikenalkan dengan mosi-mosi yang sangat baru yang belum kita ketahui sebelumnya, kita akan dihadapkan dengan debaters yang jauh lebih pintar, jauh lebih awal berdebat dari kita. Ada juga tekanan untuk memenuhi ekspektasi diri sendiri dan orang lain.

 

Apa mosi yang paling berat dari pengalaman kamu? 

Masalah kebanyakan debaters itu di mosi hubungan internasional karena kita sebagai kaum awam, apalagi di sekolah, tidak belajar tentang Rusia dengan Ukraina, Afganistan dengan Taliban, kayak itu sangat berat bagi kita. Mosi ini sangatlah susah karena kita harus mengerti konsep dulu, harus mempunyai pengetahuan tentang mosi hubungan internasional.

Untuk mempelajari mosi hubungan internasional, bisa dengan salah satunya banyak membaca berita global. Namun, kita harus mengerti apa yang kita baca dan apa yang kita cari dari bacaan kita itu.

 

Biasanya seperti apa pembagian peran dalam tim debat? 

Ada tiga anggota dalam tim debat. Pembicara pertama itu lebih kayak menyusun strategi, membuka debat, dan memberikan argumentasi-argumentasi. Pembicara kedua, bagaimana kita membangun kembali argumen yang sudah dihancurkan lawan dan menyanggah pihak lawan, serta memberikan argumen tambahan sebagai salah satu cara memperkuat sisi kita. Pembicara ketiga, mereka akan menyanggah dan membuktikan kepada dewan juri kenapa sisi kita seharusnya menang. Saya lebih ke pembicara pertama.

 

Lalu, bagaimana dukungan orangtua selama kamu berkecimpung dalam debat?

Orangtua selalu mendukung dan menjadi inspirasi saya. Secara tidak langsung, mereka mengajarkan apa yang dikerjakan sepenuh hati akan lebih baik ketimbang apa yang dipaksakan ke anak atas apa yang mereka tidak suka, itu akan berdampak lebih buruk. Jadi, mereka lebih mendengarkan opini saya.

 

Selama kamu berkecimpung di bidang debat, perubahan apa yang terjadi?

Awalnya ketika SD atau SMP aku kayak orang yang tidak mau beropini karena cenderung kayak ‘kamu itu masih kecil’, ‘kamu itu perempuan, jadi tidak usah beropini’, dan lain sebagainya. Jadi, dari sana saya cenderung merasa kecil, merasa suara saya ini tidak worth it, lo. Akan tetapi, setelah saya mengikuti debat, saya dapat lebih mempergunakan suara yang saya miliki sekarang.

 

Jadi, banyak manfaat positif yang kamu petik dari berdebat, ya? 

Bagi saya, debat itu sebuah wadah yang penuh dengan masalah-masalah yang dihadapi di dunia ini. Dengan mengikuti debat, kesadaran akan isu-isu global menjadi lebih umum dan terlepas dari echo chamber yang mana seseorang tidak mau melihat ataupun mendengar gagasan atau perspektif orang lain. Tingkat literasi juga akan meningkat karena dalam debat menyangkut banyak topik, jadi akan ada urgensi dari orang yang mengikuti debat untuk terus membaca.

Debat juga mengajarkan saya menghargai orang lain karena debat tidak hanya berargumentasi, menyanggah, dan lain sebagainya. Ada prinsip-prinsip yang harus dihargai, seperti perilaku diskriminasi, bullying, dan lain sebagainya, tidak diperbolehkan selama berdebat.

Tidak jarang di lingkungan saya sendiri, apalagi saya sebagai kaum minoritas, Chinese, dan wanita, khususnya di sekolah saya, sering saya melihat orang-orang cenderung menyudutkan opini, khususnya dari perempuan. Mereka anggap perempuan itu lebih rendah dan lain sebagainya. Sebenarnya tidak begitu, perempuan memiliki tingkat yang sama dengan lelaki.

Jadi, dengan debat, saya dapat mempelajari semua ini. Kita sebagai wanita juga memiliki suara yang dapat kita keluarkan. Saya ingin menginspirasi kaum muda dalam debat ini bahwa kita semua sama, tidak ada derajat yang lebih rendah ataupun yang lebih tinggi.

Debat juga mengajarkan saya untuk mengevaluasi lebih baik masalah yang saya hadapi dan mempertimbangkan dampak-dampak yang mungkin terjadi dari suatu pengambilan keputusan.

 

Menurut kamu, bagaimana ketertarikan generasi muda terhadap debat?

Pada saat saya di lingkungan sekolah saya, orang-orang cenderung masih menganggap debat itu umum kayak debat itu paling cuma berargumentasi, marah sana sini, gitu. Jadi, debat di lingkungan saya pada saat itu sangat minim, sangat sedikit orang-orang yang tertarik untuk mempelajari debat lebih dalam.

 

Bagaimana cara kamu memunculkan ketertarikan generasi muda kepada debat?

Di sekolah saya, saya dan teman-teman di komunitas English Debate Society (EDS) mengajarkan kaum-kaum muda ataupun teman-teman sekolah saya bahwa debat itu bukan sekadar marah atau tidak beraturan argumentasinya.

Cara saya menginspirasi ialah dengan cara memperlihatkan apa yang membuat debat itu berdampak pada hidup saya. Cara lain ialah dengan mengikuti komunitas debat yang ada di Indonesia. Salah satunya yang saya ikuti sekarang ialah National Debate Community Center (NDCC)--NDCC merupakan komunitas yang dibentuk para alumnus debaters dari 34 provinsi dan SILN di bawah naungan Puspresnas. Di sini, kami membangun komunitas yang akan ditujukan untuk memploriferasikan debat di provinsi kita seperti kita membangun workshop, membangun proyek yang akan menarik atensi daripada pendebat-pendebat yang baru akan mulai.

 

Bagaimana perubahan yang terjadi?

Mungkin pada awalnya agak susah karena masih minim, tetapi lama-kelamaan makin banyak orang-orang dari sekitar sekolah saya yang tertarik dengan debat kayak di komunitas sendiri provinsi Sumatra Utara lumayan dominan di komunitas NDCC. Selain itu, di sekolah sendiri saya sudah merencanakan program-program yang saya sampaikan kepada adik-adik kelas saya bahwa bagaimana mengikuti komunitas debat atau mengikuti debat akan adanya banyak sekali manfaat yang akan didapatkan. (M-2)

 

 

BERITA TERKAIT