28 May 2022, 22:37 WIB

Penyaluran Dana Filantropi Meningkat 23,05% di Awal Pandemi


Atalya Puspa |

TREN penyaluran dana filantropi di Indonesia dalam tiga tahun ke belakang menunjukan kenaikan. Kenaikan terbesar justru terjadi di awal pandemi covid-19 dengan total kenaikan penyaluran bantuan adalah sebesar 23,05%.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo dalam soft-launching Survei Outlook Filantropi 2022 pada diskusi publik bertajuk Giat Berbagi di Kala Pandemi. Survei Outlook Filantropi 2022 adalah inisiasi Filantropi Indonesia yang dilakukan bersama Lembaga Survei KedaiKOPI, berdurasi dari tanggal 31 Januari sampai dengan tanggal 3 Maret 2022. Survei dilakukan dengan metode telesurvey kepada 1.023 organisasi filantropi di Indonesia dengan 224 organisasi filantropi yang menanggapi dan berpartisipasi dalam survei ini.

Kunto lebih lanjut mengelaborasi temuan surveinya dengan menggarisbawahi bahwa filantropi agama adalah jenis filantropi yang kontribusinya paling besar dalam penyaluran dana filantropi di Indonesia. ”Filantropi agama menyalurkan lebih dari 80% dari total penyaluran dana filantropi apada 2020, disusul oleh filantropi perusahaan,” kata Kunto dalam keterangan, Sabtu (28/5).

Ia menambahkan bahwa penyaluran dana oleh filantropi perusahaan naik paling drastis di tahun 2020 sebesar 41% dari tahun 2019. Dikatakan pandemi covid-19 membuat warga dan perusahaan di Indonesia semakin giat berbagi dengan sesama.

Sebagai survei pertama yang melihat perkembangan filantropi di Indonesia, survei ini mencatat bahwa pandemi covid-19 mengakselerasi penerima manfaat kegiatan filantropi. Tercatat, pertumbuhan penerima manfaat sebesar 42,15% dari 27,42 juta jiwa di tahun 2019 menjadi 38,71 juta jiwa di tahun 2020. "Kegiatan filantropi di Indonesia telah menjangkau 91,6 juta jiwa dari tahun 2018-2020 yang merupakan pencapaian yang patut diapresiasi," ungkap dia.

Kunto juga menyatakan bahwa pandemi covid-19 mendorong inovasi dalam penggalangan dana untuk kegiatan filantropi dengan pemanfaatan teknologi digital. "Terdapat 55,3% organisasi filantropi yang menggunakan teknologi digital dalam penggalangan dana. Teknologi digital yang paling banyak dimanfaatkan adalah media sosial dan situs web organisasi," kata dia.

Pendorong pemanfaatan teknologi digital menurut organisasi filantropi adalah kemudahan untuk meningkatkan keterlibatan publik dan kemampuan untuk membuat data donatur untuk pemetaan dan jejaring pendanaan.

“Di lain sisi penggunaan teknologi digital juga menyisakan tantangan yaitu potongan bagi platform crowdfunding, periode penggalangan dana yang terbatas, dan isu yang sangat fokus pada charity”, imbuh Kunto.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Baznas RI, Moh. Arifin Purwakananta mengamini temuan Outlook Filantropi ini. Arifin menyatakan filantropi agama sangat berperan di Indonesia, yang mencakup zakat yang dihimpun oleh gerakan zakat dan zakat informal dari masyarakat.

Arifin menyatakan saat pandemi, meskipun inflasi sedang naik, donasi masyarakat pun meningkat. Menurut Arifin, donasi ini berasal dari mereka yang tidak terkena krisis dan mereka yang berharap, dengan menyumbang, pandemi akan segera berakhir. “Ketika ada krisis dan itu diberitakan, orang akan menjadi donatur,” ungkap Arifin. (OL-15)

BERITA TERKAIT