24 May 2022, 18:17 WIB

Wapres: Ancaman Krisis Pangan Dunia Beri Peluang Bagi Produk Halal Indonesia


Emir Chairullah |

BERBAGAI gejolak perekonomian dunia justru merupakan peluang besar bagi produk halal Indonesia. Menurut Wakil Presiden Ma’ruf Amin, sektor makanan halal menarik untuk dicermati karena dunia saat ini menghadapi persoalan yang sama, yaitu keamanan pangan.

“Inflasi harga dan gangguan rantai pasok akibat krisis iklim maupun kondisi geopolitik, justru membuka peluang peningkatan perdagangan intra-OKI, investasi pada riset dan inovasi teknologi pangan hingga digitalisasi sistem ketertelusuran halal,” katanya pada acara peluncuran the State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report di Jakarta, Selasa (24/5).

Baca juga: Menko PMK: Vaksin Covid-19 belum Tercatat karena Pemerintah Kejar Target

Berdasarkan SGIE Report 2022, posisi Indonesia tetap menduduki peringkat 4 Global Islamic Economy Indicator secara keseluruhan. Capaian ini ditopang oleh sektor-sektor halal unggulan yang tetap tumbuh di tengah desakan pandemi.

“Salah satu yang menggembirakan adalah sektor makanan halal yang naik ke peringkat ke-2,” ungkapnya.

Menurut Ma’ruf, capaian Indonesia pada sektor makanan halal juga membawa pesan kuat bahwa Indonesia memiliki modal dan potensi besar. “Utamanya untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai pusat produsen halal dunia,” tegasnya.

Lebih lanjut Ma’ruf menjelaskan, sebenarnya stok produk makanan halal hasil produksi Indonesia sangat mencukupi. Namun, tambahnya, standardnya masih belum memenuhi kriteria.

“Memang standardnya yang harus dikurasi untuk bisa menjadi standard bersaing ekspor. hanya itu saja. tadi saya lihat produk kita sudah masuk di retail modern berarti sudah siap ekspor,” ungkapnya.

Namun demikian, tambah Ma’ruf, diperlukan terobosan-terobosan baru yang konkret dan implementatif. “Oleh karena itu, saya ingin memanfaatkan kesempatan yang baik ini untuk menegaskan kembali bahwa pekerjaan besar ini menuntut keterlibatan seluruh aktor dalam ekosistem ekonomi dan keuangan syariah untuk saling menyangga dan bekerja sama,” jelasnya.

Ia menambahkan, tanpa dukungan riset dan inovasi, Indonesia akan kehilangan peluang besar untuk ekspor produk halal, baik ke negara-negara OKI maupun non-OKI. “Selain itu, kolaborasi riset akan mendorong inovasi pada industri produk halal, termasuk untuk memenuhi kebutuhan bahan dan produk substitusi impor,” paparnya. (OL-6)
 

BERITA TERKAIT