23 May 2022, 07:20 WIB

Pelonggaran Masker, Jubir Satgas: Mari Tetap Lindungi Kelompok Rentan di Sekitar


Ferdian Ananda Majni |

PELONGGARAN penggunaan masker telah diumumkan oleh Presiden Joko Widodo. Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan sudah diperbolehkan untuk tidak memakai masker.

Menanggapi perihal itu, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito tetap mengingatkan masyarakat untuk tetap melindungi kelompok rentan di sekitar masing-masing.

"Tidak lelah saya ingatkan, mari lindungi kelompok rentan di sekitar kita, para penderita komorbid, anak-anak, orang lanjut usia hingga mereka yang belum dapat vaksin," kata Prof Wiku kepada Media Minggu (22/5).

Baca juga:  Tinjau Hotel Jemaah Haji di Madinah, Menag Mengaku Puas

Baca juga: MUI: Umat Muslim Hindari Hewan Terpapar PMK untuk Kurban

Semua orang tetap harus menjaga prokes untuk kepentingan melindungi diri dan orang lain dari penularan. Lanjut Prof Wiku, mempraktekkan perilaku hidup yang bersih dan sehat menjadi kebiasaan yang dapat menghindarkan dari penyakit.

"Jangan sampai kita tertular dan menjadi sumber penularan terlebih di tengah potensi adanya orang tanpa gejala. Pastikan jangan bawa virus pulang," tuturnya.

Prof Wiku memastikan kelompok rentan adalah mereka yang usia lanjut, penderita komorbid dan anak-anak yang belum lengkap vaksinasinya.

Sebelumnya jika melihat dari sejarah pandemi dalam kehidupan manusia, transisi terjadi ketika masyarakat sudah menyadari pentingnya protokol hidup di dirinya dan keluarganya masing-masing. Ada beberapa latar belakang yang menjadi dasar Pemerintah mengambil langkah transisi secara bertahap.

Seperti, adanya kenaikan kasus yang disebabkan adanya varian baru. Hal ini jauh lebih menentukan dibandingkan adanya acara-acara besar seperti periode tahun baru dan lebaran. Dan sebagaimana kenaikan di beberapa negara di dunia diakibatkan varian baru.

Lalu, kekebalan atau antibodi masyarakat di Indonesia khusus pulau Jawa - Bali, sudah cukup tinggi. Dari hasil sero survei yang dilakukan Pemerintah pada Desember 2021 dan Maret 2022, terlihat ada kenaikan cukup signifikan khususnya di Jawa - Bali. Pada hasil sero survei Desember lalu, angkanya mencapai 93% yang didapat dari vaksin maupun infeksi Covid-19.

Sementara, hasil sero survei sebelum masa mudik lebaran pada grup orang yang sama, angkanya terjadi kenaikan dari 93% menjadi 99,2%. Data menarik lainnya, kadar antibodinya juga jauh lebih tinggi. Jika pada Desember lalu rata-rata ordenya di angka ratusan, sekitar 500 - 600, di bulan Maret kadar anti bodinya naik ke orde ribuan di angka 7000 - 8000.

Hal ini membuktikan selain antibodi tumbuh, tetapi kadar antibodinya juga naik lebih tinggi. Alasannya karena banyak masyarakat yang sudah divaksin kemudian terkena omikron. Dan hasil riset bahwa kombinasi dari vaksinasi ditambah infeksi maka akan membentuk super immunity yang bisa bertahan lama.

"Berdasarkan hal-hal ini, kita melihat masyarakat sudah memiliki daya tahan terhadap varian baru yang sudah beredar di dunia cukup baik. Sehingga demikian, kita melihat secara bertahap, kita bisa mulai melakukan langkah-langkah transisi awal dari pandemi menuju endemi," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Prof. Wiku Adisasmito menambahkan bahwa arahan presiden telah menimbang perkembangan terkini kasus tingkat nasional dan global dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian.

Baca juga: Embarkasi Makassar Bersiap Terbangkan 7.160 Jemaah Calon Haji

Satgas Penanganan Covid-19 segera menindaklanjutinya dalam Surat Edaran (SE) terbaru yang mengelaborasi arahan presiden melalui beberapa perubahan kebijakan pengendalian Covid-19 dengan masa berlaku efektif per 18 Mei 2022.

Untuk pelonggaran masker ini sendiri, dapat dilakukan untuk aktivitas di ruangan terbuka yang tidak padat orang. Meski demikian, kepada populasi rentan dan orang yang sedang dalam keadaan tidak sehat, disarankan tetap memakai masker. Agar mencegah peluang tertular atau menularkan secara lebih optimal.

Lalu, untuk kewajiban menunjukkan hasil tes Covid-19 bagi pelaku perjalanan internasional akan dihapus.

Tetapi untuk dapat melakukan perjalanan internasional maupun di dalam negeri dengan catatan sudah mendapatkan vaksin dosis lengkap dari negara asalnya.

Selain itu, dalam momentum ini pemerintah sepakat memanfaatkan waktu untuk melakukan Pemulihan ekonomi nasional yang terdampak akibat pandemi selama 2 tahun belakangan. Sehingga dapat pulih kembali.

Meski demikian, walaupun pemerintah telah banyak mengizinkan kembali aktivitas masyarakat, namun harus tetap melanjutkan upaya vaksinasi dan budaya hidup bersih dan sehat seperti protokol kesehatan. "Karena sejatinya pandemi belum resmi dinyatakan berakhir oleh WHO," pungkas Prof Wiku. (H-3)

BERITA TERKAIT