20 May 2022, 14:14 WIB

Perempuan Bangkitkan Kembali Tradisi Tenun di Tidore


Dinda Shabrina |

KAIN Tenun Puta Dino merupakan tenun khas Kesultanan Tidore yang sudah punah. Perempuan-perempuan penggerak di Pusat Pengrajin Kain Tenun Puta Dino mengaku ingin menghidupkan kembali tradisi menenun dan menyebarkan karya seni khas Tidore, Maluku Utara, itu.

Salah satu pelaku UMKM dari Pusat Pengrajin Kain Tenun Puta Dino, Anita, mengatakan kain, alat tenun, maupun pengrajinnya itu sendiri sudah tidak lagi dapat dijumpai di masyarakat Tidore-Maluku Utara. Padahal Kesultanan dan masyarakat Tidore, kata dia, masih mempertahankan banyak tradisi dan ritual yang mengharuskan masyarakatnya berpakaian adat.

“Cita–cita kami adalah agar masyarakat Tidore dapat menggunakan kain milik Tidore sendiri. Saat ini harga kain tenun sudah mahal, namun kami menjual kain ini dengan harga terjangkau agar masyarakat umum bisa mendapatkannya dengan mudah,” ujar Anita dalam keterangan tertulisnya, Jumat (20/5).

Anita merupakan seorang perempuan keturunan Kesultanan Tidore yang berhasil membangkitkan kembali Tenun Puta Dino yang sempat hilang. Dalam pembuatannya, Anita juga melakukan kerja sama dengan kepala sekolah di Tidore untuk melibatkan anak–anak sekolah dalam membuat kerajinan kain tenun. Anak–anak tersebut diberikan pelatihan pembuatan kain dan dilibatkan melalui kegiatan magang serta ekstrakurikuler.

“Alasan kami melibatkan pelajar sekolah dalam pembuatan kain tenun ini yaitu untuk memberikan pemahaman, wirausaha ini memiliki peluang ekonomi sehingga mereka tidak hanya berfikir untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Mereka bisa juga mengembangkan usaha ini sekaligus melestarikan kain milik Tidore,” ujar Anita.

Selain usaha perempuan pengrajin kain tenun di Puta Dino, ada pula perempuan kepala keluarga yang mendirikan UMKM ikan asap di Tomalou. Tempat usaha ikan asap Tomalou yang berlokasi di Kelurahan Tomalou, Kota Tidore Kepulauan, didirikan karena perempuan merupakan komponen penting dalam pembangunan ekonomi perikanan, terutama pada rantai penambahan nilai ekonomi hasil laut.

Pengrajin ikan asap di Tomalou mayoritas adalah perempuan dengan peran yang menyeluruh mulai dari pemilihan bahan baku, pembuatan ikan asap, penjualan produk ke pasar, hingga pengaturan dan pengelolaan keuangan bisnis dilakukan oleh perempuan.

Baca juga: Tenun Ikat Khas Sikka jadi Primadona buat Oleh-oleh Idul Fitri 2022

Pengolahan hasil laut inilah yang digeluti sebagai mata pencaharian oleh seorang perempuan pengrajin ikan asap yang secara tidak terduga harus menjadi tulang punggung keluarga setelah suaminya meninggal dunia.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga dalam kesempatannya mengunjungi perempuan-perempuan pelaku UMKM memberikan apresiasi atas ketangguhan yang dimiliki para perempuan Tidore. Sebab dengan di tengah keterbatasannya mampu berdaya untuk diri sendiri dan keluarganya sekaligus memberdayakan banyak orang dalam upayanya melestarikan budaya dan tradisi di tempatnya.

“Saya sangat mengapresiasi ketangguhan ibu sebagai perempuan kepala keluarga yang mampu mengembangkan UMKM ikan asap ini. Luar biasa hebat dapat menjadikan usaha ini sukses walaupun secara tiba-tiba harus menjadi tulang punggung keluarga pasca ditinggal suami yang telah meninggal dunia. Peran perempuan sangat penting dalam berbagai aspek, salah satunya ekonomi. Peran perempuan sebagai pelaku usaha di Provinsi Maluku Utara sangat diperhitungkan, apalagi banyak perempuan yang mendirikan usaha untuk membangkitkan kebudayaan setempat maupun membantu membangkitkan perekonomian di lingkungannya,” ujar Bintang.(OL-5)

BERITA TERKAIT