17 May 2022, 13:45 WIB

Gim Daring, Baik Atau Buruk untuk Remaja?


Basuki Eka Purnama |

PSIKOLOG klinis Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Nanda Rossalia berpendapat setidaknya ada sejumlah hal yang bisa didapat seorang remaja dari bermain gim daring, salah satunya dalam hal kompetensi.

"Alasan remaja bermain gim adalah untuk menunjukkan kompetensi mereka. Balik lagi ke identitas. Menangin permainan, saya tangguh dan kompeten. Berbeda dengan di dunia nyata, nilai saya jelek. Sesuai karakteristik remaja, dia mau untuk building karena ini nanti berguna untuk confident-nya," ujar Nanda dalam webinar Remaja dan Gawai yang diselenggarakan Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB), dikutip Selasa (17/5).

Hal lain yang bisa didapat saat bermain gim daring yakni dalam hal otonomi yakni suatu hal yang amat dibutuhkan bahkan diimpikan oleh seorang remaja dan ini belum tentu dia peroleh di dunia nyata.

Baca juga: YBP Kembangkan Potensi Kewirausahaan Kaum Muda Marjinal

Menurut Nanda, bermain gim daring memberi kesempatan dan kebebasan pada remaja untuk memilih serta mengambil keputusan atau langkah yang harus diambil. 

Di sisi lain, gim daring juga mampu mengisi kebutuhan untuk berinteraksi, terkoneksi dan mendapat perhatian orang lain yang ini mungkin tidak didapatkan remaja di dunia nyata.

Pada akhirnya, karena setidaknya tiga kebutuhan dasar sudah mereka dapatkan, hal itu kemudian membuat mereka nyaman dan terlarut di dalamnya. Sementara di dunia nyata, para remaja justru merasa tidak mendapatkannya.

"Karena gim daring mampu memberikan kebutuhan dasar, sehingga tidak heran kalau remaja larut. 'Di sinilah saya diterima. Inilah kompetensi saya'. (Gim daring) ini bisa memberikan rasa nyaman dan teman," tutur Nanda.

Lantas, apakah setiap gamer pasti berakhir dengan kecanduan? Nanda mengatakan, hal ini terkait dengan faktor kerentanan. Ada orang yang memang rentan sehingga akan bisa menjadi kecanduan. Biasanya mereka ini yang memiliki rasa percaya diri dan rasa diri mampu yang rendah dalam mengontrol tindakannya.

Sebenarnya, untuk keperluan diagnosis, ada sebuah kuesioner perilaku kecanduan bermain gim yang disusun berdasarkan lima faktor antara lain preokupasi, mood, toleransi, konflik, dan pembatasan waktu. 

Beberapa pertanyannya misalnya, 'Apakah Anda pernah mengabaikan kebutuhan dasar seperti makan dan tidur karena gim daring' atau 'Apakah Anda pernah gagal mencoba membatasi waktu bermain gim daring?'."

"Tidak pasti kita melihat setiap gamer itu kecanduan. Kita memiliki suatu tools dan memberikan asesmen untuk mengatakan anak ini kecanduan," kata Nanda.

Lalu apa yang bisa orangtua atau anggota keluarga lakukan pada remaja yang ternyata sudah kecanduan gim daring? Nanda menyarankan dibuatnya suatu program untuk bisa dilakukan bersama misalnya di dalam level sekolah. Kegiatan yang konsisten misalnya berolahraga bersama atau menstimulasi siswa untuk mengembangkan hobi baru.

Selain itu, orangtua bisa memberikan edukasi apa yang terjadi bila bermain gim daring berlebihan. Nanda menyoroti pentingnya pembahasaan di sini yang perlu dibedakan dari biasanya.

"Pembahasaan kita dalam melakukan promotive behaviour itu harus berbeda dari biasanya. Jadi tidak lagi konvensional. Misalnya menggunakan film, animasi. Penyampaiannya melalui komunikasi. Orangtua secara aktif dan pasif memonitor kegiatan anak saat bermain gim daring. Ini meningkatkan keterlibatan orangtua," saran Nanda. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT