16 May 2022, 15:42 WIB

Storytelling Cara Edukasi Efektif Jangkau Generasi Muda


Mediaindonesia.com |

STORYTELLING menjadi media pembelajaran yang efektif. Metode ini berkembang menjadi salah satu kompetensi yang perlu dikuasai anak di era digital. 

Hal itu disampaikan founder Kampung Dongeng Indonesia (Kado) Awam Prakoso dalam acara pengumuman pemenang lomba Story Telling Edukasi Gizi, Sabtu (14/5). Kegiatan yang digagas bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekian Indonesia (YAICI) fokus pada pelibatan generasi muda untuk dapat lebih peduli lagi pada kecukupan asupan gizi. 

Metode storytelling merupakan salah satu bentuk penyampaian pesan-pesan yang secara tidak langsung dekat dengan keseharian generasi muda, bahkan sejak anak-anak. "Melalui kegiatan ini, anak akan terlatih untuk berkomunikasi, berani tampil di depan banyak orang, dan kreativitasnya akan terasah. Di samping itu anak akan terbiasa untuk belajar, menggali lebih banyak informasi, seperti dengan topik edukasi gizi seperti ini akan lebih melekat baik untuk si anak maupun audiensnya," jelas Awam Prakoso. 

Lomba storytelling dengan topik edukasi gizi dan susu yang baik untuk anak telah dimulai sejak Maret 2022. Selama kurun waktu lebih kurang satu bulan penyelenggaraan terkumpul sekitar 200 karya berupa video edukasi yang dipublikasikan di sosial media, baik melalui platform Instagram maupun Youtube. Lomba video edukasi gizi tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan usia, mulai dari usia dini, SD, hingga dewasa. Saat ini, terpilih 20 karya terbaik yang selanjutnya menjadi materi yang dapat digunakan sebagai materi sosialiasasi dan edukasi gizi. 

Ketua Harian YAICI Arif Hidayat dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasinya terhadap Kado dan seluruh peserta. "Selama ini topik gizi identik dengan orang tua. Namun melalui metode storytelling, kami dapat menjangkau lebih banyak lagi kalangan. Bukan hanya orang tua, tetapi edukasi ini langsung ke anak-anak dan para remaja yang memang sebenarnya sasaran utama dari edukasi ini. Kami berharap selanjutnya, para generasi muda dapat menjadi agent of change untuk kita dapat memutus rantai gizi buruk di Indonesia," jelas Arif Hidayat. 

Sebelumnya, YAICI dan Kado melakukan rangkaian kegiatan literasi gizi. Sebagaimana diketahui, Indonesia masih darurat literasi. Hasil Programme for International Students Assessment (PISA) tahun 2018, menunjukkan bahwa 70% siswa di Indonesia memiliki kemampuan baca rendah (di bawah Level 2 dalam skala PISA). Artinya, mereka bahkan tidak mampu sekadar menemukan gagasan utama maupun informasi penting dalam suatu teks pendek. 

Baca juga: Batu Bara masih Ancaman Utama bagi Tujuan Iklim Global

Hal itu diperparah dengan angka minat baca di Indonesia yang juga rendah. Pada 2018, survei dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penduduk di atas usia 10 tahun yang membaca surat kabar atau majalah hanya 14,92%. Angka ini lebih rendah dari 15 tahun sebelumnya (23,70%). Padahal, selama hampir 15 tahun, pemerintah menerbitkan berbagai kebijakan nasional untuk mengatasi krisis literasi ini. Buruknya budaya literasi di Indonesia ini yang menjadi pemicu persoalan gizi buruk dan stunting yang tak kunjung usai. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT