14 May 2022, 12:25 WIB

Ini Alasan Remaja Semakin Gilai Idola K-Pop Saat Pandemi


Basuki Eka Purnama | Humaniora

PSIKOLOG klinis dari Himpunan Psikologi Indonesia Nanda Rossalia mengungkapkan salah satu alasan sebagian remaja semakin menyukai para idola K-pop selama pandemi covid-19, dua tahun terakhir, adalah karena munculnya perasaan dekat dengan sang idola, meski hanya dari media sosial.

Merujuk pada hasil konseling yang dia lakukan dengan klien remajanya, dia mengatakan kecenderungan itu awalnya bersumber dari stres saat berada di rumah. Penyebab stres itu tidak lain berasal dari orang-orang terdekat mereka.

"Mereka banyak yang lebih bebas ketika ada di luar sebenarnya. Tetapi untuk mereka yang tinggal dengan stres itu yang agak sulit, karena memang proximity-nya tidak ada. Jadi kemudian mereka ke mana? Ke media sosial, ke internet," ujar Nanda, yang berasal dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, dalam webinar Remaja dan Gawai yang diselenggarakan Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB), Sabtu (14/5).

Baca juga: aespa Masuk Daftar Next Generation Leaders Versi Majalah TIME

Seiring para remaja itu menyukai idola atau artis K-pop tertentu berkembanglah hubungan parasosial yakni hubungan antara seseorang dengan figur yang ada di layar. 

Terlebih, para idola K-pop membangun kedekatan dengan para penggemar mereka misalnya melalui siaran langsung di media sosial dan itu disambut positif penggemar.

"Karena semakin dia membuka media sosial apalagi bila dia mem-follow, suka ada live, saya melihat mereka. Saya merasa ada intimacy, kayaknya hanya dia (idola) yang bisa mengerti saya sehingga itu yang menjadi part of social interaction," jelas Nanda.

Menurut Nanda, sebagian penggemar bahkan bisa merasa hanya idola mereka yang memberi perhatian pada mereka dan berkembanglah istilah halu walau bukan dalam artian sebenarnya (halusinasi yakni pengalaman indra tanpa adanya perangsang pada alat indra yang bersangkutan, misalnya mendengar suara tanpa ada sumber suara tersebut).

"Semakin kuat itu kemudian menjadi suatu hubungan, jadi hubungan interpersonal kemudian ini jadi realita-nya. Karena dia (idola) sudah ada di kepala itu seperti imajinasinya dan bondingnya kuat, kami menyebutnya hubungan parasosial. Itu perlu juga suatu pendekatan yang lain untuk kita bantu," kata dia.

Menurut Nanda, para remaja ini tidak bisa melawan apa yang terjadi sehingga orang dewasa termasuk orangtua tidak perlu berharap mereka bisa melawan karena remaja ini tidak bisa dielakkan termasuk generasi yang hadir pada saat teknologi itu berkembang pesat.

Dia menuturkan, ada harapan para remaja ini memunculkan semacam self regulation atau regulasi diri, yang sebenarnya bagi orang dewasa saja termasuk sesuatu yang sulit. 

Merujuk salah satu jurnal psikologi, regulasi diri yakni kemampuan seseorang untuk mengontrol respons dalam diri, baik itu perilaku (kepribadian) dan biologis (temperamen/watak). 

Pengaturan diri yang optimal secara langsung berkaitan dengan seberapa baik pelaku mengelola peristiwa baru, kapasitas yang dipengaruhi oleh temperamen, pengalaman perkembangan awal, dan ciri-ciri kepribadian.

"Butuh support system yang baik untuk kita bisa fokus dan tidak terpapar hal yang membuat kita kembali pada suatu rutinitas yang tidak adaptif. Kita bisa minta mereka (melakukan self regulation) tetapi mereka tetap butuh monitoring dan supervisi dari orang-orang di sekitar," pungkas Nanda. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT