13 May 2022, 22:53 WIB

Pemanasan Global, Dunia Usaha Dituntut Percepat Pengendalian Emisi Gas di 2040


Insi nantika Jelita | Humaniora

DUNIA usaha diminta ikut aktif mempercepat pengendalian emisi gas. Ahli ekonomi sekaligus tokoh lingkungan Emil Salim mengatakan, pemanasan global yang terjadi saat ini, target net zero emission dipangkas menjadi 2040. 

Ia mengatakan, dalam perkembangan dunia saat ini, berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change, sasaran pengendalian suhu agar tidak lebih dari 1,5 derajat celcius (dari hasil Pertemuan Paris 2015) sulit tercapai karena peningkatan suhu tersebut kini telah terjadi.

"Hal inilah yang membuat target net zero emission bergeser dari 2050 ke 2040. Dari situ, usaha pengendalian greenhouse dan gas karbon dioksida (CO2) perlu dipercepat. Penting bagi dunia usaha agar aktif melakukan pembangunan berkelanjutan," ungkapnya dalam keterangan resmi, Jumat (13/5). 

Emil berpendapat, usaha pengendalian emisi gas rumah kaca menjadi sangat mendesak untuk dipercepat memasuki tahun 2023-2040 sebagai tahun kritis pada perubahan iklim. 

Sementara itu, sebagai produsen pupuk urea terbesar di Asia Tenggara, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) menyatakan komitmen besar dalam mengurangi emisi CO2 mencapai 30% pada 2030. 

PKT mengaku akan mengurangi emisi karbon sebanyak sepertiga tiap satu dekade. Upaya ini kian ditempuh melalui pendekatan geological atau biological untuk bisa menyerap CO2.

Baca juga : Yuk, Belajar Sistem Peredaran Darah Manusia

"Kami telah mengusung tiga strategi, antara lain supply chain excellence, diversification excellence dan geographical expansion excellence," jelas Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi. 

Praktik-praktik ini, sambungnya, tidak hanya sebagai upaya mengurangi jejak karbon, tetapi dinilai dapat memberikan dampak keberlanjutan dan multiplier effect bagi perusahaan dan masyarakat.

Rahmad menambahkan, pihaknya juga melakukan green  initiatives melalui pemanfaatan solar panel hingga mengeluarkan produk-produk yang eco-friendly, salah satunya adalah Smart Bioball. Produk ini merupakan salah satu produk unggulan untuk mereklamasi lahan-lahan bekas tambang. 

Bekerja sama dengan Kaltim Prima Coal (KPC) yang merupakan open pit (mining) terbesar di dunia, Bioball yang mengandung seed dan nutrient ini nantinya diberikan ke open pit sehingga bisa mereklamasi lahan tambang KPC tersebut.

"Ke depan, kami akan terus melakukan pengembangan bisnis dan teknologi baru, termasuk yang difokuskan pada penyerapan CO2 untuk digunakan sebagai bahan baku produk lainnya," pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT