11 May 2022, 14:20 WIB

Model Inovasi Pembangunan COREMAP-CTI Perlu Diperkuat


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

PROGRAM COREMAP-CTI WB (Coral Reef Rehabilitatoon and Management Program- Coral Triangle Initiative World Bank/ Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang- Segitiga Terumbu Karang Inisiatif Bank Dunia) yang berakhir Mei 2022 ini, diharapkan dapat menjadi model bagi pengelolaan ekosistem pesisir prioritas di wilayah lainnya yang ada di Indonesia.

Contoh baik ini hanya bisa berlanjut jika diperkuat dengan komitmen dan dukungan koloborasi pemerintah pusat dan daerah, swasta, CSO, akademisi, dan juga masyarakat setempat. Apalagi program ini juga telah dirancang dengan memadukan science based policy (kebijakan berdasarkan ilmu pengetahuan) dan juga community based implementation (pelaksanaan berbasis masyarakat).

Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Arifin Rudyanto, mengatakan peraturan yang dibuat juga tepat dengan yang dibutuhkan masyarakat serta kondisi lingkungannya. "Melalui ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund) dan para mitranya, program COREMAP-CTI ini telah diterapkan di dua Provinsi yang terpilih dan masuk dalam bagian penting Segitiga Terumbu Karang Dunia, yaitu di Raja Ampat, Papua Barat, dan Laut Sawu, di NTT (Nusa Tenggara Timur), dengan hibah dari Bank Dunia melalui GEF sebesar US$ 6,2 juta," kata Arifin dalam agenda Penutupan Proyek dan Diseminasi Capaian COREMAP-CTI WB Hibah Global Enviroment Facility (GEF), di Jakarta Rabu (11/5).

Meskipun periode yang cukup singkat yaitu 2019-2022, namun telah memberikan dampak bagi rehabilitasi lingkungan setempat. Lebih penting dari itu, program ini juga telah memperkuat pemberdayaan masyarakat, bukan saja memberikan alternatif ekonomi, tetapi juga kesadaran arti penting wilayah tempat mereka tinggal. “Kami ingin contoh-contoh baik pengelolaan ekosistem pesisir prioritas yang telah dicapai dalam COREMAP-CTI terus berlanjut meski programnya telah berakhir," sebutnya

Hal ini hanya bisa terjadi jika ada kesungguhan komitmen dari stakeholders setempat. Jangan sampai masyarakat dibiarkan berjuang sendirian. Jika perlu program ini direplikasi, diperkuat dalam aturan dan anggaran, bahkan masyarakat juga terus di dukung upaya dan semangatnya dalam melestarikan dan menjaga keutuhan alam di wilayahnya.

Bappenas sendiri sangat berkomitmen dalam target pengelolaan laut dan pesisir yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Sri Yanti menyebut antaranya menarget luas kawasan konservasi hingga 26,9 juta hektar; Penyelesaian Penataan Ruang Laut dan Zonasi Pesisir Sebanyak 102 Rencana Zonasi. “Dalam pelaksanaanya kita memerlukan sinerginitas antar pusat dan daerah, lintas sektor dan tentu saja pendanaan. COREMAP-CTI telah memberikan contoh bagaimana kolaborasi antar sektor ini dilakukan," ujarnya.

Meski tidak mudah, tapi ketika semua dalam satu komitmen dan tujuan, semuanya bisa berjalan untuk mencapai tujuan utama untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi. Sri Yanti juga menambahkan peningkatan efektifitas pengelolaan kawasan ini diimplementasikan melalui tiga pendekatan yaitu pemanfaatan sumber daya kawasan secara berkelanjutan, perlindungan jenis terancam punah, implementasi RZWP3K dan dukungan kepada Pokmaswas dan pemberian akses pengelolaan sumber daya perikanah oleh masyarakat.

Sementara itu Executive Direktur ICCTF Dr, Tonny Wagey, menyatakan rasa qpresiasinya terhadap para mitra yang selama ini menjadi pelaksana program COREMAP-CTI. Seperti Yappeka, Yayasan Reef Check Indonesia, PILI, PKSPL IPB , Terangi, yang telah menunjukkan kesungguhan kerjanya di lapangan.

“Di Yensawai, Raja Ampat, Papua Barat, dan juga di Sumba Timur, NTT, misalnya, kami melihat rehabilitasi kawasan bisa dilakukan oleh masyarakat setempat. Bahkan laki-laki, perempuan, dewasa, remaja dan kaum muda bergerak bersama untuk keselamatan dan kelestarian pulau mereka," paparnya.

Pihaknya juga melihat perubahan perilaku masyarakat yang semula jadi pengebom laut kini menjadi pembela keselamatan laut seperti yang ditunjukkan warga Mutus, Raja Ampat, Papua Barat. Bukan itu saja, di Nusa Manuk, NTT, program tersebut juga menyentuh penyediaan listrik tenaga surya yang membuat masyarakat setempat akhirnya bisa menikmati listrik setelah lebih dari 20 tahun hidup tanpa listrik, dan dapat memberikan nilai tambah untuk hasil sumber daya perikanan yang mereka hasilkan.

"Mustahil berbicara kelestarian ekosistem pesisir dan laut kita jika masyarakat setempat tidak sejahtera. Mereka semua, termasuk mitra kami, telah menunjukkan pekerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati,” jelas Tonny.

Tonny juga menambahkan, kegiatan COREMAP-CTI merupakan intervensi terbesar pemerintah Indonesia dalam bidang pengelolaan ekosistem pesisir untuk mendorong peningkatan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi agar dapat dikelola secara optimum dan berkelanjutan. (H-1)

BERITA TERKAIT