05 May 2022, 06:40 WIB

Alumnus LPDP Ditawari Jadi Dosen, Menariknya Apa Sih?


Dinda Shabrina |

AJAKAN Rektor IPB University, Arif Satria yang mengharapkan lulusan yang dibiayai dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berkarir menjadi dosen ditanggapi beragam alumnusnya. Arif Satria berharap dengan kembalinya ke kampus, lulusan LPDP ini diharapkan bisa memberikan sumbangsih pengetahuannya untuk kekayaan riset di Indonesia.

Salah satu alumnus yang mendapat beasiswa LPDP dari University of Queensland, Emir Chairullah PhD, justru mempertanyakan tawaran itu basa-basi atau serius. Kemudian, dimana menariknya berkarier sebagai dosen di Indonesia. Ia membeberkan fakta soal betapa sulitnya menjadi dosen di Indonesia. Menurut Emir, jika pun ada yang berminat menjadi dosen, seleksinya pun sangat ketat dan terkadang diskriminatif.

"Pertanyaan pertama saya, adakah lowongannya? Kampus mana yang mau menarik kami? Kampus negeri itu selektif banget. Selektifnya dalam artian terkadang diskriminatif terhadap yang non-kampus asalnya. Mungkin kampus itu bilang, nggak kok kita terbuka. Tapi kan penyeleksiannya yang tidak terbuka,” ungkap Emir kepada Media Indonesia Rabu, (4/5).

Selain mengajar, jelas Emir yang masih bekerja di sektor swasta ini, dosen juga diwajibkan melakukan riset. Hal ini yang juga dipertanyakan Emir. Apakah lulusan LPDP yang kelak menjadi dosen mendapatkan insentif yang cukup untuk melakukan penelitian. Belum lagi Emir menuturkan birokrasi untuk pengajuan penelitian itu sendiri juga sangat berbelit-belit.

Baca Juga: Aturan Baru BKD Bikin Dosen Leluasa Rencanakan Karier

"Kalau mau jadi dosen atau periset, sistemnya mau diberesin nggak? Kalau belum, itu omong kosong aja, basa-basi. Untuk mengajukan dana penelitian saja berbelit-belit,” imbuh Emir.

Emir juga menambahkan, ketika menjadi dosen pasti akan disibukkan dengan birokrasi kampus. Sebab selain mengajar dan melakukan riset, dosen juga dibebankan tugas mengurus administrasi. Sehingga, kata Emir, menjadi dosen justru dijadikan pilihan terakhir bagi lulusan LPDP.

"Terus juga ketika sudah jadi dosen. Kita sering disibukkan dengan birokrasi kampus. Akhirnya banyak yang nggak tertarik untuk kembali ke dunia akademis. Kecuali yang sudah background-nya, yang ketika dia ambil beasiswa (LPDP), memang sudah dosen,” ujar Emir.

Tanggapan lain datang dari Deti Kusmalawati, yang juga merupakan lulusan beasiswa LPDP dari University of Queensland. Deti mengungkapkan untuk menjadi dosen atau tidak semestinya dikembalikan lagi kepada pilihan pribadi dan kondisi dari masing-masing lulusan LPDP.

Sebab banyak dari penerima beasiswa LPDP sudah memiliki pekerjaan tetap dan sudah ada kontrak dengan perusahaan atau instansi tempat dia bekerja. Sehingga, kata Deti mereka mau tidak mau harus kembali ke instansi tempat mereka bekerja.

“Kalau saya kan PNS ya. Background awardee itu gak harus semuanya jadi dosen menurut saya. Kalau posisi dia apply dia sudah ada pekerjaan ya terus melanjutkan pekerjaan yang lain gapapa juga kan. Sebagian besar, kayak misalnya PNS, dia kan sudah ada kontrak dengan instansinya, dia harus kembali ke instansinya itu. jadi itu tidak bisa dipaksakan ke semua sih. Tergantung kondisi dia bagaimana,” dalih Deti. (OL-13)

Baca Juga: Irfan Rahadian : Dari Dosen Jadi Petani

BERITA TERKAIT