26 April 2022, 17:39 WIB

Akibat Pandemi, Perempuan Indonesia Alami Beban Tiga Kali Lipat


Hilda Julaika |

PEREMPUAN mengalami beban hingga tiga kali lipat saat pandemi covid-19. Hal ini berkaitan juga dengan beban ekonomi dan psikologis dalam satu keluarga. 

Temuan itu mengacu studi terhadap sejumlah responden yang dilakukan Plan Indonesia. “Perempuan mengalami beban triple (tiga kali lipat). Ada yang menjadi tuang punggung dan peyangga kewarasan rumah tangga,” ujar Direktur Eksekutif Yayasan Plan International Indonesia Dini Widiastuti dalam seminar virtual, Selasa (26/4).

Apalagi, perempuan harus bekerja untuk membantu finansial keluarga yang jatuh akibat guncangan pandemi. Selain itu, ada juga perempuan atau ibu yang memang menjadi kepala keluarga dan tulang punggung keluarga.

Baca juga: Iriana Sebut Hari Kartini Sebagai Era Kebangkitan Perempuan Melawan Pandemi

Di lain sisi, akibat kebijakan sekolah dari rumah, perempuan pun dituntut terkait pengasuhan dan pendampingan. Sehingga, menambah beban bagi perempuan, sekaligus memperlihatkan ketidaksetaraan gender di dalam keluarga.

“Temuan studi responden ini terus menantang norma gender. Lebih sadar akan peran yang setara dalam pengasuhan anak, pandangan lebih progresif, pemisahan pekerjaan sebagian besar pekerjaan terkait identitas gender,” imbuhnya.

Dosen Filsafat FIB Universitas Indonesia Ikhaputri Widiantini menyebut perempuan cenderung lebih rentan di-PHK ketimbang laki-laki saat pandemi. Khususnya, pada bidang pekerjaan yang dianggap tidak strategis.

Baca juga:  Baru 10% Pelaku Ekonomi Kreatif yang Punya Perlindungan Kekayaan Intelektual

Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan pada 2021, sebanyak 623.407 perempuan terpaksa dirumahkan atau diputus hubungan kerja selama pandemi covid-19.

Namun, pihaknya menemukan para perempuan tetap berusaha untuk menjaga kestabilan perekonomian. Salah satunya dengan masuk ke sektor informal, terutama industri rumahan.

Baca juga: Parlemen Perempuan Soroti Ketimpangan Pendidikan dan Penyelesaian Konflik

"Banyaknya keterlibatan perempuan pada sektor informal justru menunjukkan peran yang signifikan dalam perekonomian di masa pandemi," jelas Ikhaputri.

“Namun, masih banyak kebijakan yang tidak berpihakpada perempuan yang memegang pimpinan atau kepala sektor informal tersebut. Apakah jaminan investasi, pinjaman yang mempersulit perempuan,” sambungnya.

Oleh karena itu, sebagai solusi, penting untuk mendengarkan pengalaman perempuan. Kemudian, melakukan tramsformasi pengetahuan atas pengalaman perempuan yang perlu dipahami dan dibagi.(OL-11)

BERITA TERKAIT