19 April 2022, 21:15 WIB

Pendidikan Vokasi Kemaritiman Mampu Lahirkan SDM Berkualitas


Widhoroso |

SATUAN pendidikan vokasi, baik sekolah menengah kejuruan (SMK), perguruan tinggi vokasi maupun lembaga kursus dan pelatihan, telah banyak mencetak sumber daya manusia (SDM) kompeten yang siap bersaing. Salah satu bidang pendidikan vokasi yang turut meningkatkan percepatan pemulihan ekonomi Indonesia adalah bidang kemaritiman baik formal maupun nonformal.

"Keberhasilan pendidikan vokasi bidang kemaritiman ini dibuktikan melalui lulusan yang benar-benar menjawab dan memenuhi tantangan dunia kerja maritim di level internasional,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Wikan Sakarinto di Jakarta, Senin (18/4).

Pasalnya, jelas Wikan, ketautsesuaian (link and match) dengan mitra (stakeholder) nasional dan luar negeri, telah semakin mengarahkan kurikulum dan sistem pembelajaran pendidikan vokasi untuk menciptakan lulusan yang kompeten, terampil, unggul dan berdaya saing, serta tentunya berstandar internasional. "Lulusan kampus vokasi kemaritiman atau lembaga kursus dan pelatihan vokasi kemaritiman terserap dengan cepat oleh perusahaan-perusahaan pelayaran dan perkapalan luar negeri,” tutur Wikan.

Ia menyebut Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin) dan LKP Overseas Training Center (OTC) Bali merupakan contoh pendidikan vokasi bidang kemaritiman yang mampu mencetak capaian-capaian berkelas dunia SDM kompeten lulusan Polimarin telah terbukti diakui dunia usaha, industri maupun kerja (Dudika). Kampus yang berlokasi di Semarang, Jawa Tengah, ini melayani bidang kemaritiman, khususnya pelayaran dan kepelabuhanan. Polimarin tercatat telah melahirkan banyak SDM yang berperan aktif dalam roda perekonomian dan proses perdagangan nasional hingga dunia. "Polimarin berhasil mencetak SDM maritim yang unggul melalui kerja sama dengan Dudika sehingga memperoleh output para alumni yang berkompeten sesuai kebutuhannya," kata Wikan.

Lebih lanjut Wikan menjelaskan, keterlibatan Dudika dalam program link and match tersebut terdiri atas input di mana industri meminta kriteria dan standar SDM yang mereka inginkan, proses yakni industri terlibat dalam membangun kurikulum serta mendidik mahasiswa sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan, output di mana industri terlibat dalam menentukan capaian pembelajaran, bahkan profil lulusan sesuai bidang keahlian dan penempatan di industri nantinya, dan outcome yakni Polimarin dan Dudika membangun sistem yang berkelanjutan.

Terkait dengan program magang, Reederei Nord, perusahan yang bergerak di bidang pengoperasian kapal kontainer, tanker, dan barang kiriman reguler (general cargo) dari Jerman melalui PT Silo Bahari, telah merekrut lebih dari 20 mahasiswa Polimarin. "Dalam program yang dilaksanakan selama 12 bulan ini, Reederei Nord turut memberikan fasilitas uang saku mencapai US$480 setiap bulan bagi mahasiswa," terang Wikan.

Selain itu, kata dia, mahasiswa juga selalu mendapatkan evaluasi pelaksanaan magang untuk mencapai kriteria kompetensi yang telah ditetapkan. Reederei Nord pun memberikan program sistem bergabung kembali (re-join) bagi mahasiswa yang mendapatkan kondite baik selama magang untuk kembali bergabung sebagai staf maupun insinyur di kapal-kapal Reederei Nord.

Di sisi lain, penanggung jawab LKP OTC Bali, I Wayan Rediyasa menyebutkan sebagai bagian dari unsur lembaga pendidikan vokasi Indonesia, pihaknya turut serta membentuk konsep ketautsesuaian (link and match) dengan dunia industri. “Hal ini dilakukan dengan beberapa pola kerja sama yang dibangun dengan industri perhotelan di dalam negeri seperti Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) dan manning agency dan beberapa hotel mewah di luar negeri,” ujarnya. (RO/OL-15)

 

BERITA TERKAIT