19 April 2022, 12:08 WIB

Dosen UGM Kembangkan Metode Pemetaan Padang Lamun Optimalkan Penyerapan Karbon


Atalya Puspa | Humaniora

PADANG lamun merupakan salah satu ekosistem yang memiliki potensi besar untuk menyerap karbon. Meskipun luasnya kurang dari 1% dari lautan bumi, namun padang lamun menyimpan sekitar 18% total karbon di laut. Kemampuan padang lamun dalam menyerap karbon dan menguburnya dalam sedimen mencapai lebih dari 30 kali lipat lebih tinggi daripada hutan hujan tropis, yang selama ini dikenal sebagai ekosistem penyerap karbon yang tinggi.

Indonesia merupakan pusat keanekaragaman hayati padang lamun dunia dan memiliki 5%-10% luas padang lamun dunia. Namun demikian, keberadaan dan potensi padang lamun masih dipandang sebelah mata. Saat ini saja, estimasi luas padang lamun di Indonesia yang sudah divalidasi oleh Pusat Riset Oseanografi-BRIN (PRO-BRIN) dan dipublikasikan dalam buku Status Padang Lamun Indonesia 2018 baru seluas 293.464 hektare. Angka itu baru sekitar 16 - 35% dari potensi luasan padang lamun di Indonesia.

Baca juga: Puan Minta Pemerintah Maksimal Lakukan Persiapan Mudik

Melihat kondisi tersebut, Dosen Departemen Sains Informasi Geografi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Paramaditya Wicaksono bersama timnya mengembangkan metode pengolahan data pengindraan jauh untuk memetakan padang lamun secara akurat, efektif dan efisien.

Hal ini selaras dengan rekomendasi aksi dari PBB (UNEP) terkait pengelolaan padang lamun yang menyebutkan bahwa penginderaan jauh menjadi pendekatan utama dalam melengkapi global dataset distribusi spasial padang lamun yang masih belum lengkap. Selain itu memetakan jasa ekosistem padang lamun yang saat ini masih sangat terbatas.

“Mengingat luasnya ekosistem karbon biru di Indonesia, apabila informasi tersebut dapat diperoleh dan Indonesia berhasil memasukkan kontribusi ekosistem karbon biru ke dalam NDCs, peran Indonesia dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim akan semakin signifikan,” katanya dikutip dari laman resmi UGM, Selasa (19/4).

Baca juga: Duh, Penyakit Hepatitis Misterius 'Menyerang' Anak Usia 1-6 Tahun di Eropa

Pramaditya menyebutkan nilai ekonomi jasa ekosistem padang lamun jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ekosistem karbon biru lain seperti hutan mangrove dan terumbu karang. Valuasi ekosistem padang lamun mencapai US4419.004 per hektare per tahunnya. Sementara hutan mangrove US$9.990 per hektare per tahunnya dan terumbu karang US$6.075 perhektare pertahunnya.

“Namun, jasa ekosistem padang lamun tersebut belum banyak mendapat eksposur dan masih kalah populer jika dibandingkan dengan ekosistem karbon biru lain seperti terumbu karang dan hutan mangrove,” terang Ketua Program Studi Sarjana Kartografi dan Penginderaan Jauh UGM ini.

Ia menyatakan, sejak 2013 Coastal Biodiversity Remote Sensing Research Group Fakultas Geografi UGM terus mengembangkan berbagai metode penginderaan jauh untuk memetakan berbagai macam parameter ekosistem karbon biru termasuk padang lamun dan hutan mangrove.

Beberapa diantaranya adalah metode pemetaan distribusi spasial dan temporal, spesies, persentase tutupan, leaf area index, cadangan karbon, dan serapan karbon padang lamun.

Khusus padang lamun, melalui research group ini juga telah mengembangkan perpustakaan spektral (spectral library) berbagai spesies lamun di Indonesia. Tak hanya itu kini juga tengah mengembangkan algoritma dan toolbox untuk pemetaan cadangan dan serapan karbon padang lamun secara otomatis.

"Dalam memetakan dan memantau dinamika padang lamun, serta menganalisis dampak aktivitas manusia terhadap perubahan luas tutupan padang lamun dan runtuhnya ekosistem padang lamun dilakukan bersama dengan PRO BRIN dan Wageningen University," ungkap dia. (H-3)

BERITA TERKAIT