10 April 2022, 12:16 WIB

Operasi TMC Cegah Karhutla Tahap Pertama Siap Dimulai Pekan Depan


Atalya Puspa |

OPERASI teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan segera dimulai pekan depan. Adapun, pada tahap pertama, operasi TMC akan dilakukan di wilayah Riau.

"Alat dan bahan hari ini sudah tiba di Pekanbaru. Personil kami juga sudah ada yang stand by di sana. Awalnya akan kami rencanakan mulai besok. Tapi pesawat TNI AU belum ada yang siap untuk besok. Insya Allah minggu depan sudah bisa dimulai," kata Kooordinator Laboratorium Pengelolaan TMC Budi Harsoyo kepada Media Indonesia, Minggu (10/4).

Budi menjelaskan, bahan semai yang telah disiapkan untuk operasi TMC di Riau ialah garam powder sebanyak 20 ton. Nanti dalam realisasinya, bahan semai bisa saja bertambah, menyesuaikan kebutuhan di lapangan.

Baca jugaHati-Hati, Gangguan Tidur Jadi Salah Satu Gejala Depresi

Adapun, operasi TMC di Riau tahap awal diperkirakan akan berjalan selama 15 hari. "Kemungkinan bisa diperpanjang, melihat situasi dan kondisi di lapangan juga nantinya," pungkas Budi.

Berdasarkan data yang diakses dari Sipongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, (KLHK) hingga Minggu (10/4), terdapat kurang lebih lima titik panas dengan confidence medium di wilayah Riau. Titik panas tersebut tersebar di Kepulauan Meranti, Rokan Hilir, dan Indragiri Hilir.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Laksmi Dhewanthi mengungkapkan belajar dari kejadian buruk karhutla 2015 Pemerintah Indonesia bersama dengan para pihak berhasil menekan kejadian karhutla.

Sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo, KLHK telah memperbaiki pola pengendalian karhutla dengan mengutamakan pencegahan karhutla, peningkatan partisipasi masyarakat, serta mengintensifkan sinergi dan koordinasi para pemangku kepentingan.

“Indonesia optimistis dalam mencapai Folu Net Sink 2030 karena baiknya kinerja yang berdampak pada penurunan karhutla. Pada tahun 2015 tercatat 2,6 juta hektar karhutla, namun pada tahun 2021 turun menjadi 358.864 hektar atau 86,2% lebih rendah dari tahun 2015,” ungkap Laksmi. (H-3)

BERITA TERKAIT