10 April 2022, 13:05 WIB

Pakar Beberkan Peran Biosistematik untuk Merunut Kekerabatan Spesies


Zubaedah Hanum |

DALAM memahami makhluk hidup, manusia melakukan klasifikasi yang dikenal dengan urutan taksonomi yang terdiri dari Kingdom, Division, Class, Order, Family, Genus, dan Species.

Lahirnya banyak tingkatan dari klasifikasi makhluk hidup itu karena terdapat banyak sekali makhluk hidup di dunia ini yang harus diketahui dan dikenal. Maka dari itu, ilmu Biosistematik hadir untuk membantu manusia mengenal keanekaragaman organisme dan hubungan kekerabatan antarorganisme.

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wita Wardani menjelaskan, biosistematik adalah ilmu tentang keanekaragaman organisme dan hubungan kekerabatan antarorganisme.

"Fungsi penting dari ilmu Biosistematik meliputi pengenalan taksa, diagnosis universal taksa, memberikan dan menetapkan nama taksa yang diterima secara universal, menganalisis hubungan antartaksa, dan pengelompokkan taksa berdasarkan hubungan yang ada," terangnya seperti dilansir dari laman IPB University.

Ia melanjutkan, taksonomi dan sistematika juga memiliki perbedaan. Taksonomi berfungsi untuk melakukan pengenalan karakter, memahami klasifikasi, dan mengetahui standar penulisan nama melalui proses pencirian, penamaan, dan penggolongan.

Sementara itu, sistematika berfungsi untuk melakukan klasifikasi dan filogenetik berdasarkan kekerabatan, diversifikasi, dan evolusi.

Hasil kerja dari taksonomi adalah revisi, monograf, flora, dan kunci identikit. Sementara hasil kerja dari sistematika adalah kajian kekerabatan dan kajian filogenetik.

Ia memberi contoh, tumbuhan paku jenis Deparia Stellata bertipe Papua Nugini karena tumbuhan ini ditemukan di pedalaman hutan Bintang, Papua Nugini. “Penelitian ini dilakukan berdasarkan spesimen yang dikoleksi oleh WR Barker dalam ekspedisi Pegunungan Bintang pada tahun 1975,” papar Wita.

Wita juga menegaskan bahwa penemuan ini sebagai langkah penting untuk terus mendapatkan informasi variasi dan inventarisasi jenis tumbuhan paku, khususnya di wilayah fitogeografi Malesia.

Kesediaan spesimen herbarium yang dipinjamkan oleh Natural History Museum London menjadi salah satu kunci terpenting dalam penemuan spesies baru ini. Spesies Deparia Stellata ini ditemukan melalui pengamatan mikroskop berdaya pembesaran tinggi di Herbarium Bogor.

"Hasilnya, terkonfirmasi spesimen baru tersebut yang akhirnya diterbitkan dalam jurnal Reinwardtia pada 6 Desember 2021," cetusnya.

Sederet tips diberikannya ketika mahasiswa hendak melakukan penelitian terhadap jenis flora yang baru. Pertama, lakukan observasi berbagai jenis spesimen sebanyak-banyaknya dan ketahui variasinya secara menyeluruh. Lakukan investigasi literatur untuk memeriksa kebenarannya.

Selain itu, tambahnya, kita juga harus membangun konsep jenis seperti mengenali keunikan karakter. Lalu, sematkan nama yang merepresentasikan konsep jenis sesuai ICBN. "Dan terakhir selalu ingat bahwa taxonomy come first, nomenclature follows,” pungkas Wita. (H-2)

 

BERITA TERKAIT