08 April 2022, 08:05 WIB

Optimisme Pemuda Tanah Laut Budidayakan Madu Kelulut


Faustinus Nua |

DI era modern, menjadi petani atau peternak bukan merupakan profesi pilihan generasi muda. Dengan bekal pendidikan yang tinggi, para kaum milenial selalu mendambakan pekerjaan kantoran atau lainnya.

Hal itu berbeda dengan sekelompok pemuda di Desa Sungai Pinang, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Sejumlah 18 orang dengan kisaran usia 20-40 tahun tergabung dalam kelompok tani hutan (KTH).

"Jumlah anggota kami ada 18 orang terdiri dari 17 laki-laki dan 1 perempuan. Jenis usaha kami itu ada beberapa, pertama budidaya madu Kelulut, ternakkan sapi dan perkebunan karet," ucap Ketua KTH Pinang Muda Muhammad Nur Qolbi, Rabu (6/4).

Baca juga: Ilmuwan Temukan Spesies Laba-Laba yang Ke-50 Ribu

Dia menerangkan bahwa sesuai nama kelompok, para anggota memang semuanya masih terbilang muda. Dengan membentuk kelompok, pihaknya bisa mendapat legalitas untuk mengembangkan usaha di kawasan hutan. Dan

Salah satu bidang usaha yang menjadi primadona adalah madu kelulut. Menurut Qmelalui kelompok tani pula, mereka bisa membuktikan bahwa anak muda memiliki kemampuan untuk berwirausaha yang sekaligus melindungi dan melestarikan hutan.olbi, mereka mencoba mencari tahu permintaan pasar akan madu kelulut. "Setelah kami coba pasarkan, lumayan banyak minatnya. Jadi kami tertarik untuk teruskan budidaya madu kelulut," kata dia.

Didukung oleh KPH Tanah Laut dan instansi pemerintah terkait, para anggota KTH Pinang Muda mendapat banyak bantuan. Mulai dari bimbingan hingga dukungan saran-prasarana telah mendorong usaha mereka menjadi lebih bergairah.

Baca jugaJakarta Arts Garden 2022 Gairahkan Kembali Seni Rupa Indonesia

Pada tahun 2019, Program Investasi Hutan atau Forest Investment Program jilid 2 (FIP 2) yang dilaksanakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan dukungan World Bank dan Danida juga hadir membatu Qolbi dan kawan-kawannya. Terjadi peningkatan yang cukup signifikan pada usah yang dikembangkan KTH Pinang Muda.

"Sebelum ada FIP 2, penghasilan kami kurang lebih 7-8 liter per bulan di musim kemarau. Setelah ada bantuan FIP 2 kemarin mencapai 30-40 liter. Kalau diuangkan dulu kurang lebih Rp4 jutaan, sekarang sudah bisa capai Rp16 jutaan," jelasnya.

Peningkatan tersebut membuat usaha KTH Pinang Muda semakin bergairah. FIP 2 telah mendukung dengan memberi bantuan berupa alat pemanen, penurun kadar air, alat tes kadar air dan sarang lebah hingga kemasan.

Dengan dukungan berbagai pihak, KTH milenial tersebut optimis bisa terus mengembangkan usaha mereka. Dengan nama produk Raja Madu, mereka berharap bisa merajai pasaran madu baik secara lokal maupun nasional. (H-3)

BERITA TERKAIT