07 April 2022, 12:49 WIB

Kiat Mengantisipasi Penyakit Komorbid


Eni Kartinah |

SAAT tertular covid-19 dan didiagnosis terdapat penyakit bawaan barulah, banyak orang menyadari bahwa tubuh kita tidak dalam keadaan seratus persen sehat.

Dokter Penyakit Dalam RS Premier Jatinegara Jakarta, dr. Ario Perbowo Putra, Sp. PD, FINASIM menyarankan agar masyarakat tidak mengabaikan komorbid terutama saat pandemi.

 "Jika seseorang sudah tahu riwayat penyakit terdahulu dan ada obat yang biasa dikonsumsi rutin maka sudah pasti termasuk orang dengan komorbid. Sebaiknya, selalu informasikan perihal ini kepada dokter yang merawat," sebut dr. Ario.

Bagi mereka yang belum mengetahui apakah memiliki komorbid atau tidak, dr.Ario menyarankan agarberkonsultasi dengan dokter.

"Diagnosis akan dilakukan dokter melalui anamnesis tanda serta gejala sebelumnya, pemeriksaan fisik, dan beberapa pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan darah, pemeriksaan rekam jantung atau elektrokardiogram(EKG), dapat juga melalui pemeriksaan pencitraan, seperti rontgen, ultrasonography, Computerized Tomography (CT) scan, atau Magnetic Resonance Imaging (MRI)," kata dr. Ario.

Jika pasien terbuka dan jujur, dokter dapat mengetahui sejauh mana kondisi komorbid pasien tersebut terkontrol karena kondisi komorbid pada setiap pasien berbeda.

Ada yang kondisi komorbidnya stabil terkontrol dan ada yang kambuh.

"Jika pasien komorbid terinfeksi covid maka dokter dapat mengetahui derajat berat penyakit covid-19 dan dapat melaksanakan tatalaksana secara menyeluruh. Jika komorbid terkontrol akan sama dengan pasien tanpa komorbid," sebut dr. Ario.

Baca juga: Dokter Gizi: Sahur Sebaiknya Mendekati Imsak

Berasuransi sebelum terkena komorbid

Sakit tidak dapat dicegah, selagi sehat dan produktif, lakukan tindakan preventif dengan memiliki asuransi kesehatan karena asuransi sifatnya bersyarat, yaitu hanya dapat dimiliki saat kondisi sehat dan tidak memiliki penyakit bawaan.

Nantinya, asuransi kesehatan akan berguna dalam pengelolaan finansial saat kondisi sakit, yaitu untuk membayar biaya medis.

Faculty Head Sequis Quality Empowerment, Yan Ardhianto, AWP, RFP, IPP mengartikan asuransi kesehatan dengan cara sederhana.

Saat rawat inap, keluarga harus menyiapkan dana untuk keperluan pengobatan dan urusan lainnya, seperti transportasi dan akomodasi menjaga pasien dan pemeriksaan lanjutan pascarawat inap.

Untuk mendanai semua itu, biasanya menggunakan dana darurat tapi bisa jadi hanya cukup untuk membiayai urusan lain, belum tentu cukup untuk pengobatan.

Berbeda dengan mereka yang memiliki asuransi kesehatan, tanggungan biaya pengobatan saat rawat inap hingga pascarawat inap akan ditanggung oleh perusahaan asuransi (dengan nilai sesuai ketentuan polis).

Jika produk asuransi yang dimiliki sudah menggunakan fasilitas cashless akan lebih baik lagi karena keluarga tidak perlu menyiapkan dana di depan untuk biaya jaminan rumah sakit.

 "Jika kita sudah memiliki asuransi kesehatan, saat terkena risiko sakit, kita tidak membebankan keuangan dan tidak mengganggu dana operasional rutin keluarga, seperti kebutuhan sekolah dan dana belanjarumah tangga," jelas Yan.

"Dengan memiliki asuransi kesehatan, kita juga bisa fokus melakukan perawatan kesehatan dan tidak khawatir dana darurat keluarga terganggu," imbuh Yan.

Tips memilih asuransi

Tips sederhana memilih produk asuransi pada masa pandemi dari Yan adalah carilah asuransi kesehatan yang memberikan manfaat tidak hanya biaya kamar saja.

 "Sebaiknya miliki asuransi kesehatan yang menanggung biaya rawat inap, perawatan intensif, dan pembedahan yang membayarkan sesuai tagihan (as charged)," kata Yan.

"Juga memberikan manfaat perawatan penyakit kritis dengan limit manfaat tahunan yang tinggi bahkan lebih baik jika nilainya selalu diperbarui setiap tahun oleh perusahaan asuransi," jelasnya.

"Hal ini karena biaya rumah sakit naik setiap tahunnya sedangkan manfaat asuransi yang kita miliki belum tentu mencukupi jika membutuhkan rawat inap yang panjang,” sebut Yan.

"Pada Sequis, manfaat ini terdapat dalam produk Sequis Q Infinite MedCare Rider (SQIMC)," tambahnya.

Bagi mereka yang bekerja lebih banyak di luar ruang, terdapat riwayat penyakit kritis dalam keluarga, memiliki tanggungan yang banyak maka jika penghasilan memadai, dapat menambahkan asuransi tambahan (rider) pembebasan premi (waiver of premium) pada asuransi kesehatan.

Rider ini untuk berjaga-jaga bilamana mengalami ketidakmampuan total akibat penyakit atau kecelakaan.

Padahal, masa pembayaran premi bersifat jangka panjang. Dengan menambah fasilitas pembebasan premi pada polis akan sangat membantu menjaga finansial keluarga tapi tetap bisa mendapatkan manfaat asuransi.

Yan juga menyarankan bagi mereka yang pendapatannya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, sudah memiliki tabungan, investasi, juga asuransi kesehatan maka dapat menambah asuransi penyakit kritis.

"Asuransi penyakit kritis berfungsi menjaga kondisi keuangan bilamana dalam jangka panjang terdapat komorbid lalu terdiagnosis penyakit kritis. Uang Pertanggungan dari asuransi penyakit kritis adalah pengganti pendapatan agar tetap dapat berobat dan membiayai kebutuhan sehari-hari," sebut Yan.

Masyarakat bisa mendapatkan manfaat asuransi penyakit kritis yang memberikan fasilitas premi kembali hingga 150% jika tidak ada klaim dari produk Sequis SOFI (System and Organ Function Insurance).

"Berasuransi tidak harus memiliki penghasilan tinggi dulu karena dengan bujet terbatas pun kita tetap dapat melindungi finansial kita jika terkena risiko sakit dengan berasuransi melalui produk asuransi berpremi terjangkau," jelasnya.

 Pada asuransi online, biasanya preminya murah dan tidak memerlukan cek kesehatan.

Sequis memfasilitasi kebutuhan asuransi kesehatan dengan premi terjangkau melalui Superyou.co.id dengan menyediakan Super Easy Health (asuransi kesehatan umum), Super Well Protection (asuransi penyakit kritis), dan Super Care Protection (asuransi kesehatan penyakitmenular).

Menutup diskusinya, Yan memberikan tips pengelolaan keuangan bagi yang terlanjur memiliki komorbid dan penyakit bawaan.

"Sangat disayangkan jika kita tidak segera berasuransi karena pengobatan medis akan butuh biaya besar," katanya.

"Jika sudah terlanjur memiliki komorbid, satu-satunya cara menjaga finansial adalah menyisihkan penghasilan untuk dana darurat, minimal 10% dari penghasilan tetap," ucap Yan.

"Dana ini hanya boleh diambil jika benar-benar darurat dan menyisihkan pendapatan untuk dana darurat haruslah dilakukan dengan disiplin," tutup Yan. (Nik/OL-09)

BERITA TERKAIT