02 April 2022, 09:03 WIB

Kepala BRIN Dorong Peneliti Libatkan Kampus dalam Kegiatan Riset


Faustinus Nua | Humaniora

KEPALA Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mendorong para periset untuk melibatkan kampus/perguruan tinggi dalam kegiatan riset mereka. Hal ini sebagai upaya mengatasi keterbatasan sumber daya riset yang saat ini masih tersebar di banyak tempat dan sedang dalam proses pengalihan ke BRIN.

Salah satu riset yang dapat melibatkan kalangan kampus adalah riset bidang perikanan perairan umum daratan. 

“Terkait dengan kajian stok perikanan perairan umum daratan, menurut saya, harus melibatkan kampus. Seharusnya, kita (periset) yang mendesain risetnya, pelaksanaan dan monitoringnya melibatkan mahasiswa,” ungkap Handoko dalam keterangan resmi, Sabtu (2/4).

Baca juga: BRIN Kembangkan Upaya Deteksi Produk Halal yang Cepat

Di sisi lain, lanjut Handoko, keterlibatan kampus juga sekaligus mendidik generasi muda untuk melakukan kegiatan riset yang tidak bisa serta merta diajarkan di bangku kuliah.

“Karena riset itu learning by doing, yang tidak bisa diajarkan di bangku kuliah. Kita tidak perlu sumber daya banyak. Walaupun sedikit, tapi harus excellence, dengan melibatkan kampus,” tegasnya.

Dalam rangkaian kunjungannya ke Sumsel, Handoko meninjau Kantor Arkeologi Sumsel. Ia menerangkan, lokasi itu akan menjadi kantor coworking space Kawasan BRIN Palembang.

Terkait riset arkeologi dan bahasa, Handoko meminta para periset untuk fokus pada mekanisme kerja dan substansi riset apa yang akan difokuskan. 

Penyiapan tahapan atau Standard Operational Procedure (SOP) sangat diperlukan, termasuk digitalisasi pada riset arkeologi dan bahasa.

“Kalau ada koleksi masuk, apa yang harus dilakukan. Misalnya artefak, harus ada digital 3D, termasuk mengetahui usia artefaknya dengan carbon dating, sehingga semua datanya komplit. Kalau orang mau melakukan riset terkait, tinggal mengambil data yang ada, tanpa harus memegang artefak tesebut yang bisa berpotensi merusak,” kata Handoko.

Handoko juga mendorong para periset untuk segera mengambil jenjang S3 untuk memperkuat kapasitas SDM. Menurutnya, riset arkeologi dan bahasa menjadi kunci dalam mengatasi masalah di masa mendatang.

“Riset arkeologi dan bahasa sangat penting dalam mengungkap kearifan lokal, mengubah sejarah, bahkan sebagai bahan untuk memperkuat diplomasi,” pungkasnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT