01 April 2022, 21:05 WIB

Gaungkan Narasi Toleransi, Wahid Foundation Fasilitasi 10 Kreator Konten Islam Moderat


Faustinus Nua |

WAHID Foundation berkolaborasi bersama Google/ YuoTube dan UNDP terus mengampanyekan nilai-nilai islam moderat di tengah keberagaman bangsa. Lewat kampanye Salam Forum, 10 kreator konten Tanah Air difasilitasi untuk menebarkan toleransi dan perdamian melalui platform digital.

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkumham) Mahfud MD menyambut baik dan memberikan apresiasi atas inisiatif dan upaya bersama tersebut. Hal itu merupakan tugas bersama anak bangsa dalam membangun kapasitas cendekiawan islam moderat yang mampu menyebarkan pesan-pesan damai pada masyarakat Indonesia.

"Pemerintah memerlukan kerja sama dan dukungan dari berbagai pihak dalam menangani dan mengelola narasi negatif, informasi hoaks, dan konten-konten ekstrimisme kekerasan lainnya di ruang digital," ungkapnya dalam sambutan acara Gala Premiere SALAM Campaign: Peluncuran dan Bedah Film, Jumat (1/4).

Baca juga: Ada Perbedaan Awal Puasa, MUI Ajak Umat Jalani Puasa dengan Semangat Kebersamaan

Baca juga: Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan pada 3 April, Puasa Dimulai pada Minggu

Menurut Mahfud, ketersediaan saluran informasi yang timbul akibat perkembangan teknologi dan informasi telah merevolusi cara berkomunikasi dan cara masyarakat memperoleh sumber-sumber berita. Ruang digital telah menjadi sumber informasi bagi masyarakat yang pada kenyataannya kerap mengabaikan etika publik. "Bahkan tidak jarang menjadi ruang penyebaran secara luas informasi hoaks dan berbagai konten negatif lainnya," tuturnya.

Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid mengatakan bahwa Wahid Foundation sebagai organisasi masyarakat sipil berusaha melakukan upaya kontra narasi dengan menggagas langkah konkret dalam menyebarkan toleransi dan perdamaian dengan menonjolkan praktik-praktik baik di masyarakat. Kampanye yang bernama Salam Forum merupakan kolaborasi Wahid Foundation bersama Google/YouTube dan UNDP dengan mendukung 10 kreator konten dari kalangan tokoh, agama, media moderat dan aktivis perempuan.

"Ini sebagai bentuk komitmen dalam mendukung peningkatan kemampuan para creators dalam menyebarkan pesan-pesan damai di ruang digital. Kami menyediakan program fellowship berbentuk mentoring dan pendanaan awal dalam produksi video kampanye untuk perdamaian. Nantinya, video hasil kolaborasi dengan 10 kreator konten ini akan dapat di akses melalui kanal Youtube oleh masyarakat di seluruh Indonesia," terangnya.

Sebetulnya, berbagai upaya kontra narasi telah dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat sipil untuk meredam sirkulasi pesan-pesan intoleransi dan ekstremisme kekerasan di ruang digital. Salah satunya adalah melalui kolaborasi berbagai pihak sentral termasuk tokoh agama dan media dalam menyebarkan kontra dan alternatif narasi di ruang digital.

Danny Ardianto, Head of Government Affairs, YouTube Indonesia dan Frontier Asia Selatan mengatakan bahwa upaya mencegah meluasnya intoleransi dan ekstremisme tidak hanya terbatas melalui pengembangan teknologi. Namun juga pemberdayaan masyarakat melalui literasi digital.

Baca juga: Dirjen Nakes Kemenkes Serahkan Santunan JKM BPJS Ketenagakerjaan

“Melalui Salam Forum, kami mendorong para kreator konten untuk aktif menyuarakan pesan perdamaian dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Sepuluh video hasil kolaborasi ini merupakan upaya kolektif untuk membangun kesadaran dan literasi digital serta perwujudan komitmen YouTube dan Google untuk menciptakan ruang digital yang aman, sehat dan positif, baik melalui kebijakan, fitur teknologi maupun kemitraan dengan para pemangku kepentingan,” jelasnya.

Asisten Kepala Perwakilan UNDP, Siprianus Bate Soro mengatakan bahwa upaya mempromosikan nilai toleransi dan perdamian melalui media sosial sangat penting. Mengingat, media sosial memberikan akses yang luas dan mudah bagi semua masyarakat.

"Media sosial juga menjadi wahana untuk mempertemukan berbagai gagasan karena itu menjadi penting untuk mendukung peran dan kapasitas para ulama dan cendekiawan muda melalui sosial media sehingga menambah daya jangkau meluaskan jaringan dan tentu saja memperlebar sebaran substansi yang bermuatan pesan perdamaian, promosi toleransi dan pengharagaan terhadap keberagaman," kata Kepala Unit Demokrasi, Tata Kelola Pemerintahan dan Pengentasan Kemiskinan UNDP Indonesia itu.

Maraknya ujaran kebencian (hate speech) yang beredar di ruang digital, juga berdampak negatif dalam menjalin hubungan baik antar sesama manusia dan antar umat beragama. Hal ini menjadi tantangan dan ancaman perihal toleransi di Indonesia.

Habib Husein Ja’far Al Hadar, seorang Da’i Islam Cinta dan sekaligus kreator konten yang juga berdakwah melalui media sosial menegaskan masyarakat harus sangat bijak dalam bermedia. “Saat ini publik diberikan kemudahan dalam mengakses dan menyebar informasi apapun. Media sosial menjadi platform utama penyebaran informasi. Jika tidak digunakan secara bijak dan sesuai etika, media sosial menjadi lahan subur menyebarkan konten terlarang yang bisa menyebabkan intoleransi. Masyarakat harus berpikir sebelum menulis, dan berpikir sebelum menyebarkan konten” kata dia.

Adapun, video perdamaian hasil kolaborasi 10 kreator konten bertemakan perdamaian dengan durasi tiap konten sekitar 4-8 menit. Video ini juga dilengkapi dengan toolkit yang berisi informasi tentang 7 langkah jitu, yang bisa membantu publik untuk menyebarkan konten-konten toleransi di media sosial. (H-3)

BERITA TERKAIT