30 March 2022, 06:02 WIB

Dua Spesies Burung Baru Ditemukan di Kalimantan Tenggara


Faustinus Nua |

BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi berhasil mendeskripsikan dua spesies burung baru yang diterimukan di Kalimantan Tenggara. Bekerja sama dengan mitra internasional, penemuan yang diawali dari penelitian sejak tahun 2016 itu akhirnya berhasil dipublikasikan tahun 2022.

Peneliti senior BRIN Dewi M. Prawiradilaga menerangkan kedua spesies burung baru itu merupakan hasil kolaborasi internasional. Cyornis kadayangensis (Sikatan Kadayang) dan Zosterops meratusensis (Kacamata Meratus) menjadi dua spesies burung baru dari tanah Borneo.

"Penemuan dua jenis baru ini merupakan salah satu hasil dari kolaborasi riset bersama mitra peneliti internasional. Sebelumnya pada tahun 2020, kami mendeskripsikan satu burung jenis baru dari lokasi yang sama," ungkap Dewi dalam keterangannya, Rabu (30/3).

Dijelaskannya, mitra internasional yang berkolaborasi dengan BRIN adalah Lousiana State University, USA. Dewi merupakan Principal Investigator dari kerja sama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi - BRIN ysng saat itu masih bernama Pusat Penelitian Biologi – LIPI.

Baca juga: KLHK Tegaskan tidak Ada Spesies Orang Utan di Wilayah IKN

Peneliti dari Museum Zoologicum Bogoriense, Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi - BRIN Mohammad Irham menyampaikan bahwa penelitian burung jenis baru ini dilakukan melalui serangkaian proses. Mulai dari studi morfologi, DNA, hingga vokalisasi dari jenis baru ini dan kerabatnya.

"Hasil kajian tersebut menunjukkan populasi Zosterops dan Cyornis di Pegunungan Meratus berbeda dari kerabatnya, sehingga kami anggap sebagai spesies yang terpisah dan baru," kata dia.

Lebih lanjut, Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi - BRIN lainnya Tri Haryoko mendeskripsikan secara penampakan fisik, Kacamata Meratus berwarna hijau zaitun dengan corak zaitun kekuningan pada tubuh bagian bawah. Keduanya dapat dibedakan dan kerabat yang paling dekat yaitu Kacamata Laut (Z. chloris) yang memiliki warna kuning yang lebih terang.

Sedangkan Sikatan Kadayang memiliki warna yang lebih khas. Tubuh bagian atas berwarna biru dan bagian bawah bewarna coklat jingga terang sampai putih.

“Sikatan Kadayang berbeda dari Sikatan Dayak (C. montanus) yang memiliki warna biru lebih pekat dan tubuh bawah kecoklatan tanpa warna putih,” tambah peneliti yang juga terlibat dalam riset tersebut.

Pegunungan Meratus yang terisolasi dari rantai pegunungan lain di Kalimantan, membentuk komunitas fauna yang unik seperti yang terlihat pada kelompok burung. Terkait status konservasi, kelestarian burung di Pegunungan Meratus mendapat potensi ancaman dari perubahan dan kerusakan habitat.

"Wilayah dataran rendah dari Pegunungan Meratus telah mengalami perubahan. Sehingga menyisakan habitat yang relatif utuh di zona pegunungan di atas 500 m diatas permukaan laut dengan luasan yang cukup terbatas," imbuhnya.

Ancaman lainnya adalah perburuan burung untuk memenuhi pasar burung berkicau. Perburuan ini mendorong populasi burung di Meratus ke jurang kepunahan. Oleh karena itu konservasi habitat dan spesies di Pegunungan Meratus sangat penting untuk dilakukan.

Adapun, artikel temuan dua spesies burung baru di Pegunungan Meratus, Kalimantan Tenggara ini telah terbit dalam Journal of Ornithology.(OL-5)

BERITA TERKAIT