29 March 2022, 11:03 WIB

Tanoto Foundation Kembangkan DBM untuk Menekan Angka Stunting


mediaindonesia.com |

INDONESIA telah menetapkan visi Indonesia Maju 2045 yaitu menjadi negara berpendapatan tinggi dan ekonomi terbesar kelima dunia.

Dengan memaksimalkan bonus demografi, Indonesia juga diharapkan mampu mencapai produk domestik bruto (PDB) per kapita sebesar USD 23.199 sehingga bisa keluar dari negara middle income trap.

Deputi Bidang Kemaritiman dan Konservasi Sumber Daya Alam, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/ Bappenas) Arifin Rudiyanto mengatakan upaya mencapai visi tersebut memang tidak mudah.

Banyak tantangan yang harus dilewati, secara khusus pada pembangunan SDM yang membutuhkan pendekatan holistik dan terintegrasi.

"Kita dituntut untuk menyediakan SDM yang berkualitas, meningkatkan produktivitas yang tinggi juga menguasai teknologi modern untuk peningkatan efisiensi dan percepatan pembangunan ekonomi, termasuk juga teknologi kesehatan," kata Ketua Tim Pelaksana Koordinasi SDGs Indonesia itu dalam Seminar Nasional dan Diseminasi Hasil Riset Basic and Applied Science (BASC 2022) Universitas Yarsi, Sabtu (26/3).

Baca juga: HaloPuan Libatkan Kaum Ibu Melawan Stunting di Kabupaten Tasikmalaya

Menurut Arifin, pemerintah telah menetapkan 6 strategi dalam transformasi ekonomi. SDM berdaya saing, produktivitas sektor ekonomi, ekonomi hijau, transformasi digital, integrasi ekonomi domestik dan pemindahan IKN selaras dengan semua tujuan atau 17 goals SDGs sampai dengan tahun 2030.

"Dengan demikian pencapaian SDGs 2030 akan memberikan landasan yang pokok menuju Indonesia Maju di tahun 2045," imbuhnya.

Lewat Presidensi G20, Indonesia juga mendorong semua negara untuk bekerja sama mencapai pemulihan dunia yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Indonesia fokus pada tiga pilar utama, yakni arsitektur kesehatan global, transformasi digital, transisi energi berkelanjutan. "Sehingga kesehatan ini menjadi salah satu pilar yang kita perjuangkan," kata dia.

Arifin menekankan bahwa dalam upaya mewujudkan SDM berkualitas, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Butuh dukungan dari berbagai pihak dalam mengembangkan berbagai solusi dan inovasi terbaru.

"Oleh karenanya sangat diharapkan komitmen semua pihak untuk bersama-sama, gotong royong, bahu- membahu," terangan Arifin.

Dalam mendukung pemerintah dan juga sebagai bentuk tanggung jawab sosialdalam mempercepat penurunan stunting,

Tonoto Foundation terus berkomitmen pada pelayanan kesehatan dan pendidikan dan peningkatan kapasitas para pemangku kepentingan bagi anak-anak Indonesia.

Tanoto Foundation mengembangkan studi pendekatan Desain Berbasis Masyarakat (DBM) sebagai inovasi untuk menekan prevalensi stunting di Indonesia.

Perwakilan Tonoto Tanoto Foundation Fransisca Wulandari menjelaskan bahwa pendekatan DBM merupakan studi yang menggunakan human-centered design atau pendekatan yang bertumpu pada gagasan.

Dalam DBM, masyarakat merupakan bagian terpenting yang harus terlibat secara langsung dalam merancang proses perubahan untuk dirinya sendiri dan menjadi kunci untuk menentukan kebijakan atau pun program pelayanan.

Kondisi stunting dan intervensi pemerintah daerah perlu dipahami, sehingga semua program bersama bisa efektif dalam mencapai target penurunan stunting di Indonesia.

"Studi Iini untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang perilaku kunci pemberian makan bayi dan anak usia 6-23 bulan (PMBA) serta konsumsi ibu pada populasi yang berbeda," jelasnya.

Indonesia dengan wilayah yang luas dan keanekaragaman budaya merupakan tantangan tersendiri dalam mewujudkan visi Indonesia Maju.

Kebijakan atau program yang diterapkan tidak bisa dilakukan secara merata dan sama di semua daerah atau kelompok masyarakat. Tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi sosial budaya setiap masyarakat lewat berbagai pendekatan.

Tanoto Foundation menggunakan penelitian yang berpusat pada manusia melalui observasi partisipatif dan membangun prototipe untuk solusi efektif serta mendorong komunikasi perubahan perilaku dan sosial (SBCC).

Selain itu juga mengembangkan rekomendasi untuk melengkapi strategi SBCCkomunikasi perubahan perilaku (KPP), khususnya di tingkat lokal.

"Pembelajaran dari pendekatan bottom-up ini diharapkan dapat memperkaya strategi upaya penurunan stunting yang meliputi strategi komunikasi perubahan perilaku di tingkat kabupaten/kota dan penguatan desa untuk pemberian pelayanan prima melalui kader-kader desa," ucapnya.

Saat ini, areaArea fokus penelitian atau pendekatan tersebar di sejumlah provinsi di Tanah Air. Mulai dari Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, NTT, Maluku, Sumatera Barat dan Jawa Barat menjadi titik fokus Tanoto Foundation.

Dalam desain berbasis masyarakat, ada empat tahapan yaitu tahap imersi – inspirasi – desain – uji coba. Tahap 1 atau imersi, para fasilitator tinggal dan terlibat langsung dalam keseharian keluarga di desa lokasi. Temuan-temuan di lapangan akan dibahas secara intensif bersama para ahli dalam tahap inspirasi. 

Selanjutnya, pada tahap desain para fasilitator kembali ke lapangan untuk berdiskusi dengan masyarakat, mengeksplorasi ide dan mengembangkan model solusi yang efektif.

Kemudian, di tahap uji coba masyarakat pun melakukan uji coba atas potensi solusi yang telah dikembangkan dan menilai efektivitasnya.

Lebih lanjut, Fransisca membeberkan bahwa sudah banyak temuan terkait praktik dan pemahaman masyarakat lokal dari studi yang dilakukan Tanoto Foundation.

Masih ada masyarakat yang menganggap ASI eksklusif sebagai asupan sekunder, tidak bergizi, dan ibu merasa bangga ketika bayi bisa makan lebih awal. MPASI tidak disertai dengan protein hewani walaupun sebenarnya terjangkau. 

Kemudian ada juga kudapan diberikan sebelum 6 bulan dan dianggap sebagai alternatif makanan sehari-hari. Pemberian makanan pada anak tidak teratur, bahkan MPASI kemasan lebih disukai ibu muda karena mudah dan ada takarannya.

Dari berbagai temuan di lapangan, Tanoto masyarakat mengembangkan berbagai inovasi asuhan anak yang  prototype berbeda di masing-masing daerah. Misalnya di Kalimantan Selatan memasukkan sayuran dan ikan ke dalam menu makan anak-anak, di Jawa Barat mempromosikan praktik sehat dan memantau pertumbuhan balita.

Fransisca menegaskan bahwa desain berbasis masyarakat memerlukan beberapa prasyarat untuk keberhasilan penerapannya, terutama dalam percepatan pemenuhan gizi anak.

Menurutnya, pertama fasilitator harus mengakui bahwa masyarakat adalah pihak yang paling memahami konteks lokal dan kondisi lingkungan.

"Pemberian informasi atau peningkatan kesadaran saja tidak cukup untuk mendorong perubahan perilaku. Diperlukan keterlibatan langsung para pemangku kepentingan di masyarakat," ungkapnya.

Masyarakat, lanjutnya, secara mandiri dapat menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Lantas, para mitra lembaga pembangunan dan para ahli cukup memfasilitasi proses desain bersama masyarakat, bukan menyampaikan solusi.

"Melakukan percobaan berulang merupakan   tahapan terpenting dalam desain berbasis masyarakat. Evaluasi atas percobaan dapat menghasilkan ide dan perbaikan untuk percobaan berikutnya," tandas Fransisca.

Pendekatan Desain Berbasis Masyarakat juga menjadi referensi bagi Dosen Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung dalam membuat kuliah tematik, pedoman pengabdian masyarakat dan kelas aksi Pengubahan Perilaku Pencegahan Stunting yang dilakukan dosen serta mahasiswa Poltekesos di delapan lokasi di Bandung Barat.

Dosen Poltekesos Bandung Dwi Yuliani menyampaikan bahwa mahasisiwanya terlibat sebagai fasilitator di lapangan. Dalam KKN, para mahasiswa tinggal bersama masyarakat untuk bisa lebih dekat dan memahami kondisi di lapangan.

"Mereka melakukan asesmen, melihat masalah, kebutuhan di masyarakat. Mahasiswa sudah punya panduan, kita punya pedoman pendamingan masyarakat," tuturnya.

Selama satu setengah bulan, mahasiswa hadir di tengah masyarakat. Di masa pandemi, mereka menjalankan praktik di tempat tinggal masing-masing.

"Mahasiswa kami tersebar di selurh Indonesia sehingga aksi hunting hanting ini tersebar di berbagai daerah," kata dia.

Sementara itu, Kepala Prodi Magister Kenotariatan Universitas Yasri Endang Purwaningsih menekankan bahwa tugas perguruan tinggi ada pada tri dharma.

"Tugas kita tri dharma ada pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat," ucapnya.

Ketiga harus dilaksanakan secara seimbang sehingga bisa berdampak langsung pad masyarakat. Para dosen atau mahasiswa tidak hanya berkutat dengan buku-buku, tetapi perlu turun langsung ke lapangan. 

Dunia pendidikan menjadi solusi berbagai permasalah di masyarakat termasuk stunting. Dan pengabdian masyarakat harus  berbasis pada riset dan penelitian lewat kerja sama atau kolaborasi dengan berbagai pihak atau mitra seperti Tanoto Foundation.

"Sebenarnya tidak terlalu jauh kata stunting itu dengan miskin. Jadi di sinilah peran perguruan tinggi menjalankan tri dharma," tutupnya. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT