26 March 2022, 11:05 WIB

Kenali Ciri-Ciri Epilepsi Pada Anak


Dinda Shabrina |

SAAT anak mengalami kejang-kejang, sebaiknya orang tua jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa anak terkena epilepsi.

Dokter spesialis anak, Irawan Mangunatmadja, mengatakan ada perbedaan antara kejang yang menandakan epilepsi dan kejang bukan epilepsi.

Epilepsi merupakan gangguan sistem saraf pusat akibat pola aktivitas listrik yang berlebihan di otak. Epilepsi lebih dikenal masyarakat dengan sebutan penyakit ayan.

Penyebab epilepsi pada anak bisa karena kerusakan otak akibat sang ibu yang terinfeksi, kekurangan oksigen atau mengalami gizi buruk.

Baca juga: Sonata Mozart ini Diklaim Bermanfaat bagi Penyandang Epilepsi

Kata Irawan, kejang yang disebabkan epilepsi ditandai dengan gerakan seluruh tubuh, gerakan bola mata dan wajah ke satu sisi.

Selain itu ia juga mengatakan kejang pada epilepsi terjadi berulang.

“Kita bisa membedakan gerakan kejang-kejang yaitu dari gerak bola matanya. Kalau ada gerakan seluruh tubuh dan gerakan bola mata ke satu sisi, mungkin saja itu terkena epilepsi,” kata Dokter Spesialis Anak, Irawan Mangunatmadja, Jum’at (25/3) dalam diskusi Instagram Live RSCM Kencana.

Ia juga menjelaskan, kejang epilepsi terjadi berulang selama beberapa detik sampai menit.

Kejang yang dialami anak juga harus dipastikan dengan ciri-ciri yang sama. Jika kejang berlangsung lama, lebih dari hitungan menit, kata Irawan bisa dipastikan itu bukan epilepsi.

Baca juga: Ini Mitos Epilepsi yang Salah Kaprah

Irawan menuturkan ada ciri yang khas dari anak yang terkena epilepsi. Orang tua bisa memperhatikan saat anak sedang bermain.

Apabila anak yang sedang asyik bermain lalu tiba-tiba termenung, berhenti sejenak kurang lebih selama 20 detik dengan bola mata yang disebutkan tadi, dan itu terjadi berulang, Irawan menyarankan untuk segera konsultasikan ke dokter untuk memastikan apakah anak terkena epilepsi.

Anak dengan gangguan perkembangan otak akan lebih rentan. Harapan kesembuhannya hanya 20 persen dibandingkan anak yang terkena epilepsi tanpa gangguan perkembangan otak.

“Jadi kalau perkembangan anak itu normal, harusnya dia bisa tumbuh sempurna. Sekitar 70%-80% dia bisa tumbuh sempurna dan sembuh.

Tetapi kalau dia ada gangguan, maka ya itu yang 20 persen itu. Anak harus memerlukan pengobatan yang jangka waktunya lebih panjang dan menggunakan beberapa jenis obat,” jelas Irawan. (H-2)

BERITA TERKAIT