22 March 2022, 14:10 WIB

Doktor Fasilkom UI Teliti Kompetensi Tim Scrum dalam GSD


Faustinus Nua |

GLOBALISASI ekonomi dunia di abad 21 membuat Global Software Development (GSD) menjadi tren di industri software. Kebutuhan pengembangan software yang mudah dan cepat serta memenuhi kebutuhan investasi dan kualitas membuat GSD digemari dalam bisnis.

Pandemi covid-19 yang muncul juga memicu transformasi digital secara masif. Pada era adaptasi kebiasaan baru, penggunaan berbagai perangkat yang menunjang koordinasi dan kolaborasi menjadi sesuatu yang lazim. Banyak aktivitas yang semula dilakukan luring, beralih menjadi daring.

"Kondisi ini makin menguatkan alasan dibutuhkannya GSD yang memfasilitasi kolaborasi software engineers di berbagai negara," ungkap dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI), Anita Hidayati dalam keterangannya, Selasa (22/3).

Baca juga: Rayakan Hari Wayang Sedunia, Unima Indonesia Gelar Wayang Kulit di Solo

Dijelaskannya, kesuksesan proyek GSD salah satunya didukung dengan penerapan framework Scrum. Kesuksesan ini membutuhkan anggota tim yang menguasai kompetensi inti Scrum dan tambahan kompetensi global.

Lantas, untuk membangun model kematangan dan perangkat asesmen yang dapat digunakan untuk meningkatkan kompetensi Scrum di GSD, Anita menelitinya dalam disertasi berjudul 'Metode Penyusunan, Model Kematangan, dan Perangkat Asesmen Kompetensi Tim Scrum di Global Software Development'.

Menurut Anita, metode penyusunan kompetensi yang dihasilkan merupakan mixed-methods yang menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif. Setiap tahapan melibatkan para pakar dan praktisi dari berbagai negara sehingga menghasilkan daftar kompetensi yang kaya perspektif. Luaran tambahan dari metode penyusunan adalah daftar kompetensi dari role Product Owner, Scrum Master, Development Team untuk menerapkan Scrum di GSD.

Baca juga: Rencana Evaluasi Aksi Pengurangan Merkuri Undang Perdebatan di COP-4 Minamata

“Metode ini menghasilkan kompetensi tim Scrum GSD berbasis KSA (knowledge, skill, attitude) yang dapat dikembangkan menjadi perangkat pembelajaran dan pelatihan. Kompetensi ini menjadi bahan untuk penyusunan model kematangan,” kata Anita.

Model kematangan tim Scrum GSD mengadopsi CMMI 2.0, Scrum Maturity Model, dan Agile Maturity Model. Setiap anggota tim Scrum GSD harus menguasai practice area sesuai dengan role tertentu.

Tiap practice area berisi sekumpulan kompetensi yang dikelompokkan berdasarkan capability level. Pengelompokan capability level menggunakan standar yang disusun berdasarkan SFIA dan e-CF.

Practice dengan capability level dipetakan ke maturity level. Satu practice area bisa berada di maturity level yang berbeda bergantung pada kesesuaian capability level-nya. Satu maturity level bisa berisi beberapa practice area dengan capability level yang berbeda. Model kematangan ini digunakan sebagai dasar penyusunan perangkat asesmen.

Selanjutnya, perangkat asesmen digunakan untuk mengukur tingkat kematangan tim Scrum GSD. Perangkat asesmen berupa kuesioner yang disebar ke beberapa perusahaan Scrum global. Berdasarkan kuesioner tersebut, hasil asesmen dapat berupa maturity level dari tiap anggota tim dan daftar kompetensi yang masih harus ditingkatkan.

Hasil asesmen ini menunjukkan, pencapaian nilai kompetensi tim di perusahaan yang menerapkan Scrum secara utuh lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang menerapkan Scrum secara parsial. Hal ini membuktikan pentingnya penerapan Scrum secara utuh di lingkungan GSD untuk mendukung capaian kompetensi anggota tim. Perangkat asesmen dikembangkan menjadi aplikasi Macro VBA Excel yang siap digunakan untuk self-assessment.

Berkat temuannya ini, Anita berhasil mendapat gelar doktor pada Sidang Promosi Doktor yang diadakan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. (H-3)

BERITA TERKAIT