21 March 2022, 23:08 WIB

Dukung IKN, Pegiat Budaya Harap Pusaka Kutai Dapat Kembali


Widhoroso |

KEBERADAAN Ibu Kota Nusantara (IKN) di wilayah Kutai Kertanegara dan Paser Penajam, Kalimantan Timur yang akan menggantikan Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia, disambut positif para pemimpin adat, para sultan, serta pegiat budaya di Kalimantan Timur.

Namun mencuat harapan agar bumi Kalimantan Timur yang terpilih sebagai IKN tersebut tetap dapat terjaga kelestarian adat budayanya serta pusaka yang berada di bumi Borneo tersebut. Hal tersebut mengemuka pada pertemuan Forum Inspirasi Pojok ARN yang dikordinir Arief Rahmat Nugraha bersama pegiat budaya Kutai Kertanegara Iwan Santoso Lolang serta sesepuh Kesultanan Kutai Kertanegara, beberapa waktu lalu.

"Jangan jadikan Kalimantan khususnya Kutai hanya menjadi bagian dari IKN. Semoga dengan hadirnya dan berpindahnya IKN di Bumi Kalimantan ini dapat menyatukan cita-cita para leluhur Nusantara bersatu dalam keberagaman adab adat budaya," kata Iwan Santoso Lolang pada pertemuan  yang ditayangkan di media sosial Youtube Forum Inspirasi Pojok ARN itu.

Mengutip peribahasa dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung, Iwan berharap hadirnya IKN jangan melupakan adab adat budaya dan marwah Kutai sebagai bagian sejarah panjang budaya Indonesia. "Jangan sampai hadirnya IKN justru menghilangkan keberadaan adab adat budaya dan marwah warga aslinya seperti Koetai, Dayak, Paser, Banjar, Berau, Bulungan," paparnya.

Dikatakan, pihaknya sebagai putra daerah Kalimantan Timur sangat bangga dengan terpilihnya Kalimntan sebagai lokasi IKN. "Namun yang menjadi pertanyaan dan tantangan khususnya bagi orang Kalimantan, secara utuh kami ini dapat apa dan jadi apa. Kalau jadi IKN yang berdiri sendiri, apakah Kalimantan Timur juga terbangun," cetusnya.

Ia melanjutkan adanya harapan cita-para leluhur terutama berkaitan dengan kebangkitan Kutai. "Jujur saja sejauh ini kami hanya menerima bentuk kesultanan yang dilestarikan sebagai sebuah museum di kota Tenggarong, " ungkap Iwan.

"Harapan kami juga, sejak 1997, pihaknya diminta pemerintah untuk melestarikan adat budaya sehingga dibentuklah dan disepakati mengangkat Sultan Adat, menghidupkan kembali adat dengan mengangkat Sultan Adat dan keluarga-keluarga," imbuhnya.

Menjadi sebuah pertanyaan lagi, lanjut Iwan, Keraton Kutai sudah menjadi museum namun barang dan pusaka keraton tidak ada di museum Keraton Kutai tetapi ada di Jakarta. "Jadi bisa dibayangkan ketika kami mengadakan acara adat, mengangkat sultan, kami harus pinjam pusaka kami dan harus ada bank garansinya," cetus Iwan.

Dia mengungkapkan saat masih menjabat Gubernur DKI Jakarta dan ingin maju dalam pilpres 2014, Jokowi meminta restu dan secara pribadi menghadap ke Sultan Koetai ASM Salahoeddin II di Tenggarong pada 2014.

"Saya saksinya. Saat itu, kami sampaikan permohonan ke Pak Jokowi agar pusaka keraton Kutai kelak dapat dikembalikan. Jadi uneg-uneg kami utarakan. Kami ingin keturunan kami bisa melihat langsung pusaka peninggalan leluhur kerajaan Kutai tersebut," papar Iwan. 

Dikatakan sebagai bangsa Timur percaya dengan kekuatan-kekuatan di luar diri pribadi.Tentu paling utama kekuatan Tuhan,  kedua kekuatan doa para leluhur, ketiga kekuatan yang terkait pusaka.

Dalam kesempatan itu, Adji Nakia Abdurahman Raden Sudjono, putra dari Adji Pangeran Hario Atmo Kesumo dari Kesultanan Kutai, mengutarakan sejumlah pusaka sangat penting itu yang semestinya ada di museum Kutai bernama Kalung Uncal, Ketopong atau Mahkota Raja Kutai. Lalu ada Keris Buritkang, serta pedang Pusaka Sultan Soelaiman.

Pusaka-pusaka ini mesti kembali pada tempatnya. Pesan saya tidak henti hentinya untuk melestarikan budaya, kalau budaya hilang kita tidak punya ciri khas di setiap daerah, " tukas Adji Nakia Abdurahman. (RO/OL-15)

BERITA TERKAIT