18 March 2022, 10:30 WIB

Antropolog Unair: Ritual Kendi Nusantara Bukan Klenik


Citra Larasati |

PRESIDEN Joko Widodo mengadakan ritual Kendi Nusantara di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara pada Senin, 14 Maret 2022.  Ritual itu merupakan penyatuan tanah dan air dari 34 provinsi di Indonesia.
 
Tanah dan air tersebut dibawa oleh para kepala daerah atau wakilnya dari masing-masing  wilayah. Proses penyatuan tanah dan air di IKN tersebut mendapat banyak tanggapan dari berbagai tokoh masyarakat.
 
Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Linggar Rama Dian Putra mengatakan, bahwa ritual Kendi Nusantara dapat menjadi media pembelajaran bagi masyarakat. Melalui ritual itu, masyarakat akan terbiasa melaksanakan budaya dan tradisi yang ada di Indonesia.

Baca juga: Sesuaikan Aktivitas Daerah dengan Level PPKM

Baca juga: Kebun Raya Cibodas Kembali Gelar Wisata Edukasi bagi Anak Usia Dini

Linggar juga menyebut ritual Kendi Nusantara akan membuat masyarakat tidak ‘alergi’ terhadap ritual. Sebab, ritual adalah bagian dari tradisi dan budaya bangsa Indonesia. Linggar mengatakan, baik ritual Kendi Nusantara di IKN Nusantara maupun ritual-ritual lainnya merupakan bagian dari identitas bangsa Indonesia.
 
Dosen sekaligus peneliti di Departemen Antropologi Unair itu menyebut, seseorang yang lupa akan ritual apalagi ‘alergi’, maka akan lupa siapa jati dirinya.
 
“Bangsa yang tahu akan identitas masa lalunya itu bisa merencanakan ke depan bangsa ini mau seperti apa. Tapi kalau bangsa yang tidak tahu dengan identitas masa lalunya, maka dia tidak akan bisa merencanakan apa yang akan dilakukan ke depannya,” ucap Linggar.

Bukan Klenik
Linggar menilai, dari kacamata antropolog, ritual Kendi Nusantara bukan persoalan klenik. Menurutnya, ritual Kendi Nusantara memiliki makna yang berkaitan dengan persoalan persatuan, kesungguhan dari kebijakan politik pemerintah, dan sebagai bentuk pengharapan.
 
“Karena kita sudah modern, terus menganggap sesuatu yang berkaitan dengan ritual itu klenik, tidak juga. Karena bangsa modern pun juga punya banyak ritual,” jelasnya.
 
Selanjutnya, menurut Linggar, tidak semua ritual adalah klenik. Ritual adalah upaya yang secara psikologis berada pada satu frekuensi sama dengan apa yang kita inginkan. Ia mencontohkan ritual yang dilakukan oleh bangsa modern yaitu Coronation British di Kerajaan Inggris.
 
Ritual itu, lanjutnya, menunjukkan negara sebesar Inggris masih melaksanakan ritual dalam sistem politik dan sistem kemasyarakatan.  “Ritual itu adalah jati diri kita sebenarnya. Semakin kita peka terhadap ritual, kita akan mengetahui dan peka terhadap siapa diri kita,” imbuhnya.
 
Kemudian, Linggar mengungkapkan bahwa seharusnya ritual-ritual harus sering dilakukan bukan hanya di tingkat pemerintah pusat tetapi juga pemerintah daerah. Misalnya mengadakan kegiatan ritual bersih desa. Kalau yang muslim mengadakan ritual nyadran atau pergi ke makam sebelum bulan puasa. (H-3)

BERITA TERKAIT