15 March 2022, 15:00 WIB

Duta Jamu Diharapkan Menekan Jumlah Produksi Ilegal 


Gana Buana |

MENINGKATNYA kebutuhan konsumsi jamu dan obat di masa pandemi sering disalahgunakan oknum yang tidak bertanggungjawab. Sehingga, demi menekan laju produksi jamu dan obat yang tidak memenuhi standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membentuk duta jamu dan kosmetika yang berasal dari kalangan masyarakat. 

“Obat tradisional, suplemen kesehatan dan kosmetika di masa pandemi sering disalahgunakan oknum dengan memproduksi dan mendistribusikan produk yang tidak memenuhi standar keamanan, mutu dan manfaat," kata Kepala BPOM Penny K Lukito dalam keterangan resmi yang diterima, Selasa (15/3).

Menurut dia, biasanya pelaku menambah bahan kimia obat (BKO) pada obat tradisional, penggunaan bahan berbahaya atau bahan dilarang seperti Merkuri dan Rhodamin B di kosmetik, serta promosi dan pencantuman klaim berlebihan atau menyesatkan. Klaim tersebut umumnya disematkan pada kemasan produk jamu pegal linu, batuk atau pilek dan stamina pria serta dapat mengobati berbagai penyakit termasuk menyembuhkan covid-19.

Ia menyebut, hasil pengawasan BPOM pada 2021 menemukan peningkatan tren pelanggaran iklan kosmetika dan obat tradisional dibandingkan tahun 2020. Pelanggaran iklan kosmetika sebesar 27,85% atau meningkat 19,89% dibandingkan 2020. Iklan Obat Tradisional yang tidak memenuhi ketentuan sebesar 51,68% atau meningkat 41,08% dibandingkan 2020.

Baca juga: BPOM Sita Produk Obat Ilegal Hingga Kopi Berbahan Kimia

Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat, BPOM bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Perguruan Tinggi serta Dinas Pendidikan di daerah melakukan ‘Program BPOM Goes to School dan BPOM Goes to Campus’.

Program itu untuk membentuk Duta Kosmetik Aman dan Duta Jamu Aman yang berperan sebagai kepanjangan tangan dari BPOM tentang cara memilih dan menggunakan obat tradisional, suplemen kesehatan dan kosmetika yang aman, bermanfaat dan bermutu.

Menurut Penny Indeks Kesadaran Masyarakat (IKM) berdasarkan survei BPOM pada 2021 terhadap komoditi obat tradisional yaitu 75,51, suplemen kesehatan 76,30 dan kosmetika 76,88. Indeks ini lebih rendah dibandingkan IKM komoditi obat (79,26) dan pangan (78,99). 

"Para duta telah melakukan 116 kegiatan KIE yang diikuti 11.060 peserta. Dalam melakukan KIE, para duta memanfaatkan kemajuan teknologi informasi melalui berbagai platform digital khususnya media sosial," katanya.

Duta Jamu Aman dan Kosmetik Aman merupakan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat yang berperan menjadi pemengaruh masyarakat atau model percontohan dalam peningkatan pemahaman konsumen.

Selain itu, kata Penny, BPOM mengintensifkan pengawasan hingga pada jalur peredaran online dengan patroli siber, penyediaan klarifikasi terhadap kabar bohong atau hoaks, pemberdayaan masyarakat seperti komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) baik secara offline maupun online, serta peningkatan kerja sama dengan lintas sektor di pemerintahan maupun swasta. (R-3)

BERITA TERKAIT