11 March 2022, 13:34 WIB

Herd Immunity Harus Berdasarkan Vaksinasi bukan Infeksi


M Iqbal Al Machmudi | Humaniora

EPIDEMIOLOG dari Griffith University Australia Dicky Budiman menjelaskan antibodi masyarakat saat ini yang mencapai 80% merupakan hasil kombinasi dari 3 kategori yakni orang yang sudah divaksin, penyintas kemudian divaksin, dan orang yang terinfeksi.

"Namun bicara pandemi covid-19 ini namanya imunitas yang terbentuk baik yang dari vaksinasi ataupun terinfeksi keduanya pasti mengalami penurunan," kata Dicky saat dihubungi, Jumat (11/3).

Jadi bukan hanya satu kekebalan yang sifatnya terus menerus yang menetap. Dicky mencontohkan adanya penyakit cacar yang bisa menetap dan ada seumur hidup.

Ini berbeda dengan covid-19, karena pada orang yang sudah divaksin kekebalannya menurun setelah 6-7 bulan kemudian dan mudah terpapar virus ini lagi. Sehingga pemerintah menggencarkan vaksinasi booster terutama pada lansia.

Baca juga: 23 Ribu Vaksin di Bengkulu Segere Kedaluwarsa

"Dan namanya mencapai kekebalan yang diinginkan kekebalan threshold bukan herd immunity, karena mencapai herd immunity masih panjang banget dan dinamis banget, itu bisa puluhan tahun tercapainya," ujar Dicky.

Saat ini yang diusahakan untuk tercapai namanya threshold immunity atau ambang batas imunitas yang tentunya tidak berbasis orang yang terinfeksi harusnya divaksinasi.

Dalam hal ini, angka terakhir dari total populasi sesuai target global yakni 70%. Dan bukan berdasarkan penyintas melainkan vaksinasi. (OL-4)

BERITA TERKAIT