04 March 2022, 05:45 WIB

Banyak Cerita di Balik Kopi Netra


Suryani Wandari Putri Pertiwi |

SIANG itu saat jam istirahat kantor, Kedai Kopi Netra diramaikan kembali oleh para pelanggan yang memesan kopi sebagai penyemangat sebelum memulai lagi bekerja. Setelah menyanggupi pesanan pelanggannya, tangan Restiawati, 38, meraih cup di antara deretan toples kopi bubuk dan mulai meraciknya. Tangan satunya mulai menuangkan air panas dengan penuh kehati-hatian sembari didekatkan ke telinganya.

Pemandangan ini mungkin belum biasa dilakukan barista kopi di lain tempat. Namun, di kedai Kopi Netra ini cukup berbeda. Pasalnya, perempuan yang akrab dipanggil Resti ini merupakan seorang tunanetra sehingga untuk meracik kopi ia perlu mengandalkan indra lainnya.

"Ada fungsi tubuh kita yang enggak ada, berarti fungsi tubuh lain yang dimaksimalkan sehingga bagaimana acaranya secara alamiah bisa menyesuaikan," jelas Resti yang juga Founder Kopi Netra kepada Media Indonesia, Kamis (17/2).

Resti menambahkan, selain indra pendengaran, kadang ia juga mengandalkan pula indra lainnya, seperti penciuman dan perabaan. Ia harus fokus merasakan air panas tersebut pada jari jemarinya ketika memegang permukaan cup yang terisi air panas.

"Selain bahaya juga tak higienis jika dirasakan secara langsung, makanya kita pakai feeling juga," tambahnya.

Menurutnya, untuk menjadi barista perlu keahlian khusus, tetapi ia bisa membuktikan seorang tunanetra pun mampu melakukannya, tentu dengan pelatihan. Sebelumnya Resti melakukan pelatihan bersama Komunitas Kopi Tunanetra (KKTunet) di akhir 2020. Berkat pelatihan itulah memicu semangatnya untuk meningkatkan taraf hidup. Terlebih sang suami yang terimbas PHK karena kondisi pandemi membuatnya putar otak untuk melakukan bisnis.

 

Menggunakan biji kopi lokal

"Akhirnya di Februari 2021, saya mulai bikin Kopi Netra yang kubangun sendiri. Paling dibantu teman dan keluarga untuk bikin foto produk yang dipromosiin di media sosial," kata Resti.

Dengan desain bar kopi gowes, kedai kopi ini dibangun di teras rumah miliknya dengan ukuran sekitar 1,5 x 3 meteran. Tak disediakan banyak tempat duduk ataupun ruangan untuk hang out lantaranya mengusung konsep kedai kopi take away yang kini tengah banyak dilakukan para UMKM. Upaya ini juga sebagai siasat usaha di masa pandemi.

Kopi Netra menyediakan kopi-kopi lokal dari berbagai daerah di Nusantara seperti kopi aceh gayo, kopi dampit malang, kopi lematang sumatera selatan, kopi mbajing perbukitan menoreh, hingga kopi bajawa dari Flores. Semua biji kopi ini didapat dari petani lokal secara langsung.

"Kami ingin mendukung teman petani lokal untuk semakin percaya diri memproduksi kopi mereka. Salah satunya dengan menampung kopi mereka dan menjualnya. Jadi, kami bukan jual dari brand kopi besar," kata Resti.

Selain itu, kedai kopi yang telah berdiri tepat setahun ini menyediakan kopi kekinian seperti kopi botolan atau ready to drink seperti kopi susu gula aren, kopi susu cokelat, kopi susu karamel dan kopi susu hazelnut, varian nonkopi lainnya seperti bubuk kopi dan drip kopi.

"Best seller-nya kopi susu gula aren, mungkin karena lagi happening jadi orang masih ke situ terus," kata Resti.

Meskipun begitu, kopi-kopi ini dibanderol dengan cukup bersahabat di kantong, yakni mulai Rp10 ribu untuk kopi lokal yang diseduh di tempat hingga Rp50 ribu untuk variasi kopi literan.

"Kita mengambil keuntungan sedikit karena menyesuaikan pula dengan lingkungan. Terlebih kami juga ingin menarik para pelanggan agar mencoba kopi asli dari lokal. Ya, salah satunya dengan menyesuikan harga," ungkap Resti.

Tak hanya itu, ia pun bermimpi dapat berkontribusi untuk pemeliharaan alam. Ia telah menyosialiasikan kepada petani untuk mengembangkan pertanian organik. Bahkan beberapa Kopi Netra berusaha untuk menggunakan peralatan atau kemasan yang ramah lingkungan.

"Waluapun belum semua, kita sudah mencoba kaya kemasan yang terbuat dari kulit singkong," ungkapnya.

 

Bikin Podcast

Ya, seperti tagline-nya ‘Kopi yang Membawa Cerita’, Resti berharap konsumen akan mendapatkan cerita baik mengenai asal kopinya, petani, baristanya, hingga cerita mengenai rasa kopinya tersebut.

"Jadi, tagline itu bisa multiinterpretasi, dapat mengandung cerita dan menghasilkan cerita," ucapnya.

Bahkan untuk itu, Resti pun membuat podcast di salah satu platform musik sebagai ajang sosialisasi mengenai berbagai hal mulai kedai kopinya hingga asal kopi yang ada di Kopi Netra. Mimpinya, ia ingin dapat menggali cerita dari berbagai pihak yang berhubungan dengan kopi seperti para petani lokal sehingga hal ini akan memudahkan petani lokal mendapatkan jaringan untuk memasok produknya.

Saat ini Resti sedang memerlukan konten kreator untuk mengambangkan podcast-nya ini.

Bagi Resti, Kopi Netra memang bukan semata-mata untuk mendulang keuntungan dalam hal materi saja, melainkan ia bermimpi jika usahanya sukses dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi para disabilitas lainnya.

Menurutnya, meskipun saat ini pekerjaan untuk para disabilitas sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas bahwa perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit 1% penyandang disabilitas dari jumlah pegawai pada kenyataannya tidak semudah itu. Alasanya ada beberapa hal menjadi kendala seperti belum siapnya fasilitas di sebuah perusahaan atau lainnya. Karena itu, ia berpikir untuk mendirikan Kopi Netra sebagai bentuk perjuangan bagi disabilitas di sisi yang lain.

“Kalau mungkin teman yang lain mengusahakan di perusahaan, kenapa aku tidak menyediakan pekerjaan untuk diriku sendiri," pungkas Resti. (N-1)

BERITA TERKAIT