03 March 2022, 20:47 WIB

Mutasi Virus Berlangsung Terus karena Siklus Alamiah


Mediaindonesia.com |

MUTASI virus disebut berlangsung terus-menerus. Ini terjadi karena hal itu merupakan siklus alamiah virus.

Ahli mikrobiologi klinik dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dr. Nia Krisniawati, Sp.MK. mengingatkan itu. Nia Krisniawati di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (3/3), mengatakan hingga saat ini covid-19 masih menjadi pandemi seiring dengan mutasi virus yang menyebabkan munculnya varian-varian baru yang lebih cepat menular. 

"Mutasi virus berlangsung terus-menerus dan merupakan siklus alamiah virus. Oleh karena pandemi covid-19 belum berakhir sekalipun kasus global mulai menurun dan covid-19 diprediksi terus ada. Untuk itu informasi yang benar dan faktual terkait covid-19, termasuk varian omikron, penting dalam pengendalian pandemi dan pencegahan penularan virus," kata anggota Tim Laboratorium Covid-19 dan Laboratorium Riset Terpadu Unsoed itu.

Terkait maraknya virus korona, terutama varian omikron, dia mengatakan kegiatan menjaga kebersihan harus lebih ditekankan. Upaya pencegahan penularan covid-19 perlu ditingkatkan hingga level terkecil masyarakat melalui penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro di desa/kelurahan. Selain itu, kata dia, pemerintah daerah juga perlu kembali menegakkan protokol kesehatan sesuai dengan level PPKM di daerah masing-masing demi menekan laju kasus positif covid-19. 

Baca juga: Pakai Masker di Kelas Merusak Perkembangan Anak?

Lebih lanjut, Nia memaparkan lima dampak varian omikron yang terdiri atas dampak terhadap insiden penyakit, dampak terhadap transmisi atau penularan, dampak pada keparahan penyakit, dampak pada infeksi berulang, dan dampak pada vaksinasi. "Dalam kaitannya dengan dampak terhadap insiden penyakit, berdasarkan data omikron terus menyebar secara global dan diidentifikasi di sebagian besar negara di enam wilayah WHO (World Health Organization/Organisasi Kesehatan Dunia)," katanya.

Secara global selama satu pekan atau 14-20 Februari 2022, kata dia, jumlah kasus baru covid-19 turun 21% dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Jumlah kasus kematian juga menunjukkan tren menurun yang tercatat sebesar 8%. "Penting untuk dicatat bahwa tren ini mungkin disebabkan penurunan tes diagnostik covid-19 secara keseluruhan yang dipengaruhi oleh perubahan kebijakan di tiap negara," kata dia yang juga anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI).

Terkait dengan dampak terhadap transmisi atau penularan, dia mengatakan sesuai analisis berdasarkan metode yang digunakan oleh Campbell et al dan yang berfokus pada negara-negara dengan data genom sekuensing yang diunggah ke GISAID (Global Initiative on Sharing Avian Influenza Data) pada 18 Februari 2022 menemukan keunggulan tingkat replikasi atau pertumbuhan omikron dibandingkan varian delta di semua negara. Menurut dia, tingkat reinfeksi (infeksi berulang) dilaporkan lebih tinggi pada omikron dibandingkan dengan delta, yakni 13,6% versus 10,1% di United Kingdom dan 31% versus 21% di Denmark. 

Baca juga: Penyebab Bencana Cuaca Buruk bukan hanya Perubahan Iklim

"Peneliti di Tiongkok, Hong Kong SAR menemukan bahwa omikron memiliki tropisme yang lebih tinggi di jaringan bronkus dibandingkan dengan paru-paru. Di United Kingdom, omikron ditemukan lebih cepat menginfeksi saluran pernapasan bagian atas daripada delta dan menghasilkan titer sekitar 100 kali lipat lebih tinggi," katanya. Tropisme adalah sifat infeksi dari sebagian patogen yang hanya spesifik menyerang inang dan jaringan inang tertentu. (Ant/OL-14)

BERITA TERKAIT