22 February 2022, 15:27 WIB

Bahasa Daerah Terancam Punah, Nadiem: Perlu Revitalisasi


Mohamad Farhan Zhuhri |

MENTERI Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menilai perlu adanya revitalisasi bahasa daerah. Mengingat, 718 bahasa daerah di Indonesia sebagian besar kondisinya terancam punah dan kritis.

“Saat ini, para penutur jati bahasa daerah banyak yang tidak lagi menggunakan dan mewariskan bahasa ke generasi berikutnya. Sehingga, khazanah kekayaan budaya, pemikiran dan pengetahuan akan bahasa daerah terancam punah,” ujar Nadiem dalam keterangan resmi, Selasa (22/2).

Untuk mengatasi hal tersebut, Nadiem menekankan prinsip dari program revitalisasi bahasa daerah. Itu mencakup dinamis, adaptif, regenerasi dan merdeka berkreasi dalam penggunaan bahasa.

Baca juga: Bahasa Daerah Bukan Beban, Tapi Aset Kekayaan Bangsa Indonesia

"Dinamis, berorientasi pada pengembangan dan bukan sekedar memproteksi bahasa. Adaptif dengan situasi lingkungan sekolah dan masyarakat. Regenerasi fokus pada penutur muda di tingkat sekolah dasar dan menengah, serta merdeka berkreasi dalam penggunaan bahasanya," jelas Nadiem.

Adapun sasaran dari revitalisasi bahasa daerah, yakni 1.491 komunitas penutur bahasa daerah, 29.370 guru, 17.955 kepala sekolah, 1.175 pengawas, serta 1,5 juta siswa di 15.236 sekolah. Untuk komunitas penutur, Kemendikbudristek akan melibatkan secara intensif keluarga, maestro, serta pegiat pelindungan bahasa dan sastra.

Baca juga: Presiden Ajak Pindah ke Ibu Kota Baru bagi Penyuka Jalan Kaki

Itu dalam penyusunan model pembelajaran bahasa daerah, pengayaan materi bahasa daerah dalam kurikulum dan perumusan muatan lokal kebahasaan dan kesastraan. Kemendikbudristek akan melatih guru utama dan guru bahasa daerah. Mengadopsi prinsip fleksibiltas, inovatif, kreatif, dan menyenangkan yang berpusat kepada siswa.

“Nanti siswa dapat memilih materi sesuai dengan minatnya. Bangga menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi. Didorong untuk mempublikasikan hasil karyanya, ditambah liputan media massa dan media sosial," imbuhnya.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyebut bahasa sebagai bentuk peradaban dan budaya, serta tradisi yang harus dilestarikan. “Mari kita jaga kelestarian bahasa daerah kita masing-masing. Tetap lestarikan dan jangan sampai punah,” tutur Tito.(OL-11)


 

BERITA TERKAIT