18 February 2022, 15:10 WIB

Kepala Badan Bahasa: Globalisasi Berdampak pada Monolingualisme


Faustinus Nua |

KEPALA Badan Pengembangan Bahasa (Badan Bahasa), Kemendikbud-Ristek, Prof. Endang Aminudin Aziz mengungkapkan bahwa mengungkapkan bahwa salah satu tantangan pelindungan bahasa daerah adalah golobalisasi. Banyak istilah asing yang masuk seiring perkembangan dan kemudian makin menguat.

"Globalisasi yang mengarah ke monolingualisme. Semakin mengglobal suatu, maka bahasa itu semakin menguat. Seperti bahasa Inggris yang semakin menguat," ujarnya dalam Forum Diskusi Redaktur Media Cetak, Jumat (18/2).

Amin menjelaskan bahwa tantangan tersebut memang sudah menjadi isu global pula. Sebab perkembangan bahasa sangat dinamis yang dipengaruhi oleh berbagai hal seperti kekutan politik, ekonomi hingga pada Iptek.

Baca juga: Kurikulum Merdeka Jadi Jawaban untuk Atasi Krisis Pembelajaran

Bahkan, kata dia, saat ini istilah asing seperti dari bahasa Inggris begitu banyak dipakai masyarakat. Semuanya terasa familiar tetapi sebenarnya berdampak pada bahasa ibu atau bahasa daerah yang kemudian mulai ditinggalkan penuturnya. Begitu pula dengan bahasa nasional bila istilah-istilah dari bahasa asing tidak dibahasaindonesiakan.

Untuk istilah asing, Amin menerangkan bahwa Badan Bahasa sudah memiliki kamus istilah untuk bahasa asing yang sudah dibahasaindonesiakan. Meski belum banyak hadir dalam KBBI, tetapi sudah banyak yang masuk dalam aplikasi Senarai Padanan Istilah Asing Indonesia (SPAI).

"SPAI ini akan memberi petunjuk kalau ada istilah ini padanannya apa," jelasnya.

Lebih lanjut, Amin mengakui bahwa globalisasi merupakan tantangan pelindungan bahasa yang datang dari luar. Akan tetapi ada tantangan lain yang justru datang dari masyarakat penutur bahasa daerah itu sendiri.

Pertama adalah sikap penutur jati atau asli. Ketika penutur asli mulai tidak menghargai bahasa ibu, merasa menggunakan bahasa daerah sudah tidak keren, maka akan menjadi ancaman pelindungan bahasa. Kemudian ada juga migrasi dan mobilitas serta kawin silang yang membuat bahasa ibu sulit untuk terus digunakan penutur aslinya.

Lantas Indonesia yang menjadi negara nomor 2 bahasa daerah terbanyak di dunia tentu harus menguatkan upaya pelindungan bahasa daerah. Lebih dari 700 bahasa daerah yang ada di Indonesia harus mendapat tempat di penuturnya sendiri.

"Model perlindungan bajasa dan sastra daerah harus dikaitkan dengan konteks saat ini. Kalau ingin berhasil harus kuat lembaga pemerintah, swasta, masyarakat. Paling kuat melalui jalur pendidikan," tuturnya.

Untuk itu, ke depan Badan Bahasa mengembangkan metode pembelajaran bahasa daerah, bahasa ibu di sekolah. Kemudian juga harus didukung di lingkungan keluarga sendiri.(Van/OL-09)

BERITA TERKAIT