15 February 2022, 23:36 WIB

Terapi Plasma Konvalesen pada Pasien Covid-19 Jadi Pelayanan Kesehatan Berbasis Penelitian 


Mediaindonesia.com |

PLASMA Konvalesen merupakan plasma yang diambil dari orang yang sudah pulih dari Covid-19, dan darahnya memiliki antibodi melawan SARS-CoV-2. 

Hasil studi dan penelitian Johns Hopkins Medicine and the Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menunjukkan, terapi Plasma Konvalesen yang efektif dapat mencegah pasien Covid-19 dirawat di rumah sakit dalam 28 hari setelah menerima transfusi plasma.  

Untuk saat ini, penggunaan Terapi Plasma Konvalesen masih terus dilakukan melalui serangkaian penelitian. Hal tersebut didasari pada pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pada 7 Desember 2021, di mana Plasma Konvalesen harus diberikan pada pasien yang berada di rumah sakit, sebagai bentuk pelayanan yang berbasis penelitian.  

“Ternyata hal tersebut juga banyak dilakukan baik di rumah sakit di Indonesia maupun di luar negeri,” papar Theresia Monica Raharjo , dokter spesialis dan Kpnsultan Anestesiologi yang juga Direktur Rumah Sakit Unggul Karsa Medika, Bandung, Jawa Barat.. 

Menurut Dok Mo, panggilan akrab DMonica, penelitian Plasma Konvalesen masih terus berlangsung. Menurutnya, dalam melaksanakan penelitian Plasma Konvalesen, pihaknya selalu berkomunikasi secara intensif dengan para peneliti Plasma Konvalesen, baik yang saat ini bertugas di Mayo Clinic, Johns Hopkins University, dan juga Albert Einstein College of Medicine.  

Dengan demikian diharapkan para pasien penderita Covid-19 akan mendapatkan Plasma Konvalesen dengan kadar antibodi yang terbaik, yang dapat disediakan oleh PMI pada saat ini. Informasi yang disadur dari PMIDKIJakarta.or.id, terapi Plasma Konvalesen ini juga dapat membantu dan mendukung  penelitian atau uji klinis yang saat ini masih berjalan, dan dilakukan oleh berbagai pihak, agar mengetahui efektifitas dari terapi Plasma Konvalesen bagi penderita Covid-19. 

Baca juga : Peduli Kesehatan Mental, Ratusan Orang di Berbagai Kota Ikuti Ajang #Pelarian 

Pada 28 Desember 2021 Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika (Food and Drug Administration/FDA) mengeluarkan pernyataan, bahwa Plasma Konvalesen dapat diberikan kepada pasien rawat jalan di samping kepada pasien rawat inap. Terapi ini diberikan  terutama kepada pasien-pasien yang memiliki gangguan imunitas atau mendapatkan terapi imunosupresif.  

Hal ini dilakukan berdasarkan hasil penelitian multicenter di AS yang menemukan pemberian Plasma Konvalesen secara dini, dapat mencegah hospitalisasi lebih dari 50%. Terlebih lagi penelitian besar tersebut mengacu kepada pemberian Plasma Konvalesen dalam 9 hari pertama, sejak gejala pertama penyakit Covid-19 timbul. Ternyata hal tersebut juga menjadi parameter pemberian Terapi Plasma Konvalesen (TPK) sesuai pedoman Buku TPK di Indonesia.  

Hasil penelitian pendahuluan yang sudah dilakukan menemukan bahwa pemberian Plasma Konvalesen dapat meningkatkan kadar antibodi, menurunkan Interleukin-6 dan CRP secara nyata, sebagai parameter inflamasi yang meningkat bila terjadi badai sitokin.  

Penelitian ini dilakukan pada sejumlah pasien Covid-19 dengan kriteria menderita gejala berat, yang memiliki minimal satu komorbid atau penyakit penyerta (Diabetes tipe 1 dan tipe 2), Hipertensi, Kanker, Kardiovaskular seperti Stroke dan penyakit Jantung, Ginjal, Paru kronis termasuk Asma, Hati seperti Hepatitis atau Kanker hati, Demensia, gangguan Kekebalan Tubuh karena Malnutrisi atau HIV, serta penyakit Autoimun seperti Lupus atau Rheumatoid Arthritis.  

Hingga kini penelitian ini masih berlanjut sesuai perkembangan meningkatnya kasus Covid19 saat ini. Monica menambahkan, sebaiknya lebih terbuka (open minded) dalam menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan, karena di sejumlah pusat penelitian plasma di AS, pemberian Terapi Plasma Konvalesen sudah mulai berlanjut dan ditujukan kepada mereka yang berusia muda (anak-anak), sesuai dengan indikasi dari hasil penelitian. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT