14 February 2022, 12:00 WIB

Meski Sudah Menjadi Endemi, Masyarakat Jangan Abai DBD


M. Iqbal Al Machmudi |

MESKI sudah menjadi endemi masyarakat tetap harus waspada terhadap Demam Berdarah Dengue (DBD) yang saat ini memang sedang naik di penghujung musim hujan.

Berdasarkan data dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P2PTVZ) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kematian akibat dengue selama 5 pekan di 2022 sudah mencapai 59 kasus. Adapun jumlah kasus bulan Januari dan awal pekan Februari 2022 mencapai 5.041 kasus.

Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) dr Masdalina Pane mengatakan kesadaran masyarakat selain covid-19 ada juga DBD yang harus diwaspadai masyarakat. Karena sama-sama menyerang imun tubuh sehingga daya tahan tubuh harus ditingkatkan.

Baca jugaMeski Gejalanya Ringan, Covid-19 Varian Omikron Harus Tetap Diwaspadai

Baca juga: Kepala BRIN Klaim Pemindahan Peralatan Lab Eijkman Sesuai Prosedur

"Tingkatkan daya tahan tubuh, periksa jentik di tempat-tempat penampungan air dan segera di matikan, pakai repellent dan celana panjang pada jam-jam di mana aedes banyak beterbangan," kata Masdalina saat dihubungi, Senin (14/2).

Nyamuk Aedes aegypti betina atau nyamuk DBD mencari protein sering muncul pada pukul 06.00-09.00 pagi dan 15.00-17.00 sore. Sehingga bayi dan anak-anak yang tidur di jam tersebut dipakaikan kelambu, dilakukan fogging selektif jika ada kasus di komunitas.

DBD sering terjadi setiap tahun dan biasanya pada penghujung musim hujan akan melonjak dan akan menyusut pada musim panas masuk.

Diketahui kasus dengue pada 2021 terjadi sebanyak 70.928 kasus dengan kasus kematian kumulatif mencapai 689 kasus. Jumlah kabupaten/kota yang terjangkit 467 kabupaten/kota dari 34 provinsi yang sudah melaporkan.

"Biasanya sesaat dan setelah musim hujan mulai naik angka DBD, biasa terjadi di Februari/Maret kalau tidak dilakukan apa-apa ya transmisi normal saja, nanti musim panas ya hilang sendiri," ungkap Masdalina.

Meski sudah menjadi endemi kecepatan penanganan kasus dengue tergantung dari satgas dan masyarakat pencegahan harus dilakukan bersama mengingat banyak satgas yang fokus pada penanganan covid-19.

"DBD sudah menjadi endemi di beberapa wilayah, maka mereka sudah cukup mengerti cara penanganannya. Untuk kecepatannya tergantung intervensi pencegahan yang dilakukan, populasi nyamuk dan efektivitas pengobatan," ungkapnya.

"Kita diuntungkan DBD itu virusnya tidak mudah bermutasi dan gampang dicegah dengan membasmi nyamuknya dan penggunaan berbagai cara seperti repellent, celana panjang, kelambu, 3 M Plus," pungkasnya. (H-3)

BERITA TERKAIT