11 February 2022, 05:45 WIB

Telinga tidak Bisa Mendengar, tetapi Kaya Prestasi


Suryani Wandari Putri Pertiwi |

LUKISAN berlatar warna cokelat dengan pecahan-pecahan puzzle tampak disusun empat orang yang masing-masing merepresentasikan ras dan agama berbeda. Puzzle tersebut hampir selesai dengan membentuk gambar Garuda Pancasila, yakni lambang negara Indonesia.

Menurut Muhammad Fauzan, 20 lukisan tersebut memang sengaja dibuat dengan menggunakan objek puzzle sebagaimana bertujuan menyatukan gambar secara utuh.

"Puzzle yang dimaksudkan yaitu mempersatukan kembali perpecahan yang ada dengan menyatukan burung garuda yang memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda, tetapi tetap satu jua," kata lelaki yang akrab dipanggil Fauzan itu kepada Media Indonesia, Rabu (26/1).

Sementara itu, makna dari empat tangan sambil memegang pecahan puzzle ialah representasi tiap ras, agama, dan budaya yang ada di Indonesia, yaitu Islam, Katolik, Buddha, Kristen, dan Hindu. Selain itu, objek-objek berunsur Indonesia bertujuan memperkuatkan nuansa Indonesia.

"Kita sebagai warga Indonesia harus saling menerima satu sama lain, tidak membeda-bedakan satu sama lain, meningkatkan rasa toleransi antarbangsa, dan menghindarkan sikap rasialisme," tegas Farhan.

Lukisan yang dibuat secara digital dengan aplikasi Paint Tool Sai dan Photoshop itu menjadi juara 1 Lomba Desain Poster Putra FLS2N Tingkat Kota Semarang 2019.

Bahkan lukisan itu menjadi salah satu yang mendapat penilaian Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) sehingga Fauzan dipilih sebagai Pemuda Difabel Berprestasi Nasional 2021. Acara penghargaan tersebut disiarkan langsung oleh salah satu stasiun televisi terbesar di Indonesia.

Sebelumnya, Fauzan mengirimkan curriculum vitae (CV) berupa informasi diri lengkap dengan prestasi dan karya yang ia miliki. Selanjutnya, Kemenpora melakukan tahap seleksi dan mengundang nama-nama yang lolos untuk ke Jakarta.

Menurutnya, untuk mendapatkan penghargaan itu, penilaian tidak berdasarkan satu karya, tetapi prestasi dan penghargaan dari berbagai lomba yang sudah diikuti para difabel. Fauzan saat itu telah mendapatkan 10 penghargaan yang memiliki keterkaitan dengan seni.

"Saya merasa senang dan bersyukur sekaligus tidak menyangka bisa terpilih menjadi pemuda difabel berprestasi nasional oleh Kemenpora," ucap Fauzan.

Saat itu terdapat tiga pemuda difabel terpilih yang sama-sama berprestasi sehingga membuatnya sadar bahwa setiap difabel pun memiliki keunikan dan keahlian masing-masing. Ia memberikan contoh Michael Anthony Kwok yang memiliki kekurangan tidak bisa melihat dan autis, tetapi memiliki bakat dalam musik dan mendapatkan rekor Muri pada musik piano.

Demikian juga Ivo Shadan yang memiliki kekurangan karena kakinya lumpuh. Namun, ia sukses menjadi atlet yang meraih penghargaan di cabang olahraga bulu tangkis.

Fauzan ialah pemuda penyandang disabilitas tunarungu yang sedang kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret, Jawa Tengah. Sejak lahir, Fauzan sudah mengalami gangguan pendengaran dan menggunakan alat bantu dengar di umur 1,5 tahun.

"Saya memiliki gangguan pendengaran berat dengan 90/100 dB," ungkapnya.

Sejak bersekolah di TKLB Santi Rama, Fauzan sudah dilatih berkomunikasi secara verbal. Di sekolah, ia mengaku selalu duduk di bangku paling depan agar dapat memahami apa yang diajarkan guru. Ia juga tak segan meminta bantuan apabila terdapat materi yang tidak kurang dipahami.

Ia tak memungkiri terdapat tantangan dalam melakukan sesuatu. Terkadang beberapa orang tak paham dengan apa yang ia sampaikan sehingga harus melalui tulisan atau dieja satu-satu.

Namun, baginya, keterbatasan fisik tidak membatasinya dalam berkegiatan, termasuk menekuni hobinya untuk melukis. "Ditekuni saja," jawabnya.

 

Gemar melukis sejak kecil 

Dukungan keluarga selalu ada untuknya. Orangtuanya yang menerima apa adanya telah mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Bahkan kedua orangtuanya memiliki peran sangat besar dalam mendukung bakat menggambarnya.

Dukungan itu dirasakan sejak dirinya menyukai aktivitas menggambar untuk menghabiskan waktu luang. Kini Fauzan mulai fokus dalam beberapa kompetisi. Di saat-saat seperti itulah, Fauzan menyadari bahwa kedua orangtuanya tidak pernah melarangnya melakukan kegiatan menggambar.

"Orangtuaku selalu mendukung, tak ada larangan buat berkarya. Jadi, bisa menang penghargaan juga masuk ke motivasiku buat berkarya lebih lanjut," ujar Fauzan.

Ia bercerita, kegemarannya ini sudah tertanam sejak TK dan dirinya mulai serius melukis pada kelas 4 SD. Pertama kali Fauzan mendapat penghargaan pada saat kelas 2 SMP dengan juara ketiga lomba manga drawing tingkat provinsi. Berkat penghargaan pertama itu, ia selalu termotivasi untuk terus menekuni minatnya.

Baginya, melukis dapat membuat pikirannya menjadi kreatif dan bebas berekspresi. Bahkan ia sangat terobsesi dengan karya-karya yang indah. Sering kali ia berpikir membuat karya indah seperti bayangannya.

Saat ini, ia dominan menggambar kartun jepang atau sering disebut anime. Namun, ia juga telah mencoba beragam variasi gambar, baik dari kartun maupun realis, bahkan benda dan tanaman.

Dalam waktu dekat, ia menargetkan untuk mengikuti kompetisi berskala internasional. Untuk saat ini, ia telah menyiapkan sebuah proyek untuk mengikuti kompetisi tersebut.

"Saya ingin membuatkan desain teknologi inovasi yang dapat membantu disabilitas tunarungu, atau tuli, di kalangan masyarakat," tandasnya.

Lebih jauh ia berharap, lewat melukis, pesan dapat disampaikan secara efektif. Fauzan juga mengharapkan kemampuannya itu dapat berkembang hingga dirinya dikenal banyak orang dan memproduksi sebuah animasi atau ilustrasi yang dapat menarik perhatian orang-orang.

Ia ingin membuktikan para penyandang disabilitas pun memiliki kemampuan dan dapat bersaing dengan yang lain. (N-1)

BERITA TERKAIT