10 February 2022, 20:00 WIB

Lonjakan Kasus Omikron Diprediksi Bisa Sampai 6 Kali Dibanding Varian Delta 


M. Iqbal Al Machmudi |

KEMENTERIAN Kesehatan meminta seluruh masyarakat untuk tetap waspada dan tidak meremehkan penyebaran Covid-19 varian omikron karena penularannya jauh lebih tinggi dibandingkan varian sebelumnya. 

"Kita akan melihat tren terjadinya peningkatan yang diprediksi pada akhir Februari atau di awal Maret 2022 ini merupakan puncak kasus omikron yang bisa diprediksi 3-6 kali lebih tinggi daripada varian delta," kata Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, M.Epid dalam konferensi pers daring Update Perkembangan Covid-19 Kemenkes, Kamis (10/2). 

Meski demikian, Nadia menyebutkan, tren peningkatan varian Omikron tidak berbanding lurus dengan peningkatan kasus-kasus yang membutuhkan perawatan di rumah sakit. Namun, masyarakat diminta tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan tetap waspada adanya potensi penularan. 

Masyarakat yang tidak bergejala atau gejala ringan seperti misalnya batuk, pilek, demam, kemudian sakit tenggorokan, dan saturasi oksigen lebih dari 95%, tidak memiliki komorbid, serta bukan lansia, diharapkan untuk dapat melakukan isolasi mandiri di rumah atau pun di tempat-tempat isolasi terpusat yang sudah disediakan. 

Baca juga : Kemenkes Pastikan Pengantaran Obat untuk Pasien Isoman Lebih Cepat, Bisa 1x24 Jam 

Nadia mengungkapkan, tingkat penularan varian Omikron lebih cepat dibandingkan gelombang penularan varian Delta sebelumnya. Ia mencontohkan, varian Delta membutuhkan waktu sekitar 3 minggu hingga mencapai puncak kasus 56 ribu kasus harian, sementara pada gelombang penyebaran varian Omikron per 10 Februari 2022 telah mencapai 40.618 kasus. 

"Kalau kita melihat bahwa kecepatan penularan ini yang kembali lagi harus menjadi perhatian masyarakat bahwa varian omikron ini sangat cepat menular, walau secara proporsi angka kematian jauh lebih rendah," ungkapnya. 

Ia menegaskan, vaksinasi masih menjadi upaya yang harus dipercepat mengingat proteksi yang diberikan dari vaksinasi menyebabkan kasus-kasus lebih ringan dan tentunya saat ini vaksinasi booster akan membuat penularan lebih sedikit. 

"Untuk masyarakat terutama lansia mari kita ajak untuk mendapatkan vaksinasi, karena saat ini jumlah lansia yang dapatkan dosis I masih cukup rendah baru 55%," pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT