06 February 2022, 14:55 WIB

Tiga Fotografer Tampilkan Karya pada Pameran Foto 'Kisah Senyap' di Bandung


Naviandri |

SEJUMLAH karya fotografi terkait kemiskinan hingga ketidakadilan terpampang dalam pameran foto bertajuk 'Kisah Senyap' yang digelar di Universitas Parahyangan (Unpar) Jalan Merdeka, Kota Bandung. Pameran ini akan berlangsung selama dua pekan dimulai Jumat (4/2).

Salah seorang fotografer yang turut serta ialah Arif Hidayah (Danun). Dia menuturkan acara pameran ini merupakan rangkaian kegiatan dari Jakarta Internasiomal Photo Festival yang diinisiasi oleh Panna Foto Institut dan terfokus pada foto-foto Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi.

"Ada tiga fotografer yang berpartisipasi, yakni saya, Albertus Vembrianto dan Malahayati. Karya pameran ini menjadi kali kedua setelah di Jakarta dan akan dipamerkan lagi di Makassar dan Papua, namun belum tahu waktunya,'' kata Danun di Unpar, Minggu (6/2).

Dia juga menyebut foto-foto yang dipamerkan sifatnya lebih kepada foto story atau foto yang bertutur (bercerita). Salah satu potretan yang dipamerkan ialah potret terkait bangunan rumah deret Tamansari Kota Bandung yang merupakan karya dirinya.

"Menurut saya polemik rumah deret Tamansari ini dari dahulu belum selesai dan foto ini menyuarakan dari sisi warga yang diberikan ruang besar untuk bersuara, karena warga menjadi bagian dari negara dan itu sudah menjadi hak warga untuk bersuara,'' jelasnya.

Arif mengaku foto-foto karyanya yang dipamerkan ini dimulai dari foto-foto yang dibuat pada 2018. Baginya, setiap warga mesti diperlakukan dengan sama di mata hukum secara demokrasi dan humanis. Sehingga, polemik Tamansari ini ada permasalahan yang harus 
diselesaikan.

"Mereka belum dapat menempati apartemen (rumah deret) dan Eva salah satu warga terdampak masih tinggal di sana dan terus melakukan proses-proses hukum," katanya seraya menyebut isu lain selain Tamansari, ialah poligami dan kemiskinan termasuk sungai di Papua yang perlahan menghilang.

Direktur Pelaksana PannaFoto Institute, Ng Swan Ti mengatakan, dalam beragam kesempatan tentu pernah mendengar slogan 'Dunia yang lebih Baik Diagungkan'. Bisa jadi dirinya dan juga yang ada di sini salah satu aktor yang mempercayai dan turut mengampanyekan kata-kata tersebut.

''Tidak ada yang salah, namun kita juga jangan menutup mata bahwa ada banyak kisah lara menyertai gagasan mulia tersebut. Ada banyak manusia yang dipaksa menanggung harga tak ternilai dalam perjalanan kita menuju dunia yang lebih baik itu. Peristiwa duka mereka viral dan menjadi perbincangan sesaat, kemudian terlupakan,'' terangnya.

Menurut Ng Swan Ti, pameran 'Kisah Senyap' menghadirkan karya-karya fotografer terpilih dalam program Photo-Demos Challenge yakni Albertus Vembrianto, Malahayati, dan Arif Hidayah. Mereka menuturkan kisah-kisah komunitas yang sedang memperjuangkan hak dasar mereka, baik secara kolektif maupun individu.

''Proyek foto Albertus menceritakan sungai yang hilang, menceritakan tentang dampak pembuangan tailing perusahaan tambang di Kabupaten Mimika, Papua terhadap kehidupan Suku Kamoro,'' lanjutnya.

Sementara proyek foto Malahayati mengangkat isu poligami dari sudut pandang dan pengalaman pribadi serta orang-orang terdekatnya yang berangkat dari kegelisahan dan sejumlah pertanyaan tentang poligami yang berkecamuk di pikirannya. Sedangkan proyek foto Aif Hidayat kenangan akan rumah berkisah tentang warga Tamansari yang mengalami penggusuran rumah demi pembangunan rumah deret. (AN/OL-10)

 

BERITA TERKAIT