06 February 2022, 18:02 WIB

Kasus Covid-19 Naik, Kemenkes: Pasien tanpa Gejala Cukup Isolasi Mandiri


Ferdian Ananda Majni |

KASUS positif covid-19 di Indonesia terus mengalami kenaikan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per Sabtu (5/2), kasus harian konfirmasi positif di Indonesia tercatat 33.729 orang.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menyebut varian omikron memiliki karakteristik tingkat penularan yang sangat cepat. Dalam hal ini, jika dibandingkan dengan varian alpha, beta dan delta.

Gejala dari varian omikron pun lebih ringan dan tingkat kesembuhan sangat tinggi. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau pasien konfirmasi omikron tanpa gejala atau gejala ringan, untuk melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Baca juga: Kemenkomifo Blokir 5.299 Hoaks Terkait Covid-19

“Pasien yang masuk rumah sakit, 85% sudah sembuh. Sedangkan yang kasusnya berat, kritis hingga membutuhkan oksigen, sekitar 8%,” ujar Nadia dikutip dari laman resmi Kemenkes, Minggu (6/2).

Bagi pasien isoman, lanjut dia, selama saturasi di atas 95% ke atas tidak perlu khawatir. Apabila ada gejala seperti batuk, flu dan demam segera konsultasi melalui telemedisin atau puskesmas setempat.

Dalam Keputusan Menkes Nomor HK.01.07/MENKES/4641/2021, terdapat lima derajat gejala covid-19. Pertama, pasien tanpa gejala atau asimtomatis, yaitu tidak ditemukan gejala klinis. Kedua, pasien gejala ringan, yaitu pasien dengan gejala tanpa ada bukti pneumonia virus atau tanpa hipoksia, frekuensi napas 12-20 kali per menit dan saturasi oksigen di atas 95%.

Gejala umum yang muncul, seperti demam, batuk, kelelahan, kehilangan nafsu makan, napas pendek, mialgia dan nyeri tulang. Adapun gejala tidak spesifik lainnya, seperti sakit tenggorokan, kongesti hidung, sakit kepala, diare, mual dan muntah, hilang penciuman (anosmia) atau hilang pengecapan (ageusia).

Baca juga: Kasus Malaria di Sejumlah Wilayah Alami Peningkatan

Lalu ketiga, pasien gejala sedang, dengan tanda klinis pneumonia seperti demam, batuk, sesak, napas cepat tanpa tanda pneumonia berat, dengan saturasi oksigen 93%. Keempat, pasien gejala berat, dengan tanda klinis pneumonia seperti demam, batuk, sesak dan napas cepat. Lalu, ditambah satu dari frekuensi napas di atas 30 kali per menit, distres pernapasan berat, atau saturasi oksigen di bawah 93%.

Kelima, pasien kritis, yaitu pasien dengan gejala gagal nafas, komplikasi infeksi, atau kegagalan multiorgan. Dalam penanganan varian omikron, rumah sakit diprioritaskan untuk pasien dengan gejala sedang, berat, kritis dan membutuhkan oksigen.

“Melihat kasus omikron yang kian bertambah, masyarakat tetap waspada jangan sampai lengah. Tetap disiplin protokol kesehatan,” pungkas Nadia.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT