05 February 2022, 12:10 WIB

Hanya 41% Wilayah Indonesia yang Miliki Kecukupan Dokter Spesialis


Atalya Puspa |

KETERSEDIAAN dokter di wilayah Indonesia belum merata dan jumlahnya masih jauh dari standar pelayanan kesehatan yang ideal. Tercatat baru 41 ribu dokter spesialis dan 145 ribu dokter umum yang ada di Indonesia, artinya, satu orang dokter spesialis harus melayani lebih dari 6 ribu orang.

Diungkapkan Rektor Universitas Airlangga, SUrabaya,  Mohammad Nasih, bahwa pelayanan kesehatan di Indonesia masih perlu pembenahan di sana-sini. "Salah satu yang paling mendesak ialah pemenuhan jumlah dokter baik spesialis atau dokter umum. Persoalan itu tentunya tidak mudah,” ucap Nasih dikutip dari laman resmi Unair, Sabtu (5/2).

Dibanding jumlah provinsi di Indonesia, imbuh Nasih, hanya ada 41% wilayah yang memiliki kecukupan dokter spesialis. Disparitas dokter spesialis antara kota dan kabupaten pun masih cukup tinggi. “Ini merupakan suatu problem yang harus kita pecahkan bersama,” kata guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair tersebut.

Untuk itu, penguatan kolaborasi pendidikan dilakukan Universitas Airlangga bersama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Penandatangan nota kesepahaman (MoU) kedua pihak menandai komitmen tersebut. Unair melihat TNI memiliki fasilitas dan potensi besar untuk bekerja sama. Terutama dalam memenuhi dokter spesialis yang siap ditempatkan di wilayah yang sangat membutuhkan.

Nasih menyatakan bahwa kerja sama antara Unair dan TNI diwujudkan dalam kolaborasi university based sebagai sarana pendidikan formal dan pemanfaatan potensi rumah sakit TNI sebagai laboratorium. Artinya, rumah sakit TNI bisa menjadi tempat pendidikan utama bagi para mahasiswa.

Rencananya, sebut Nasih, kerja sama itu dimulai pada semester gasal 2022. Saat ini ada sembilan program studi Fakultas Kedokteran (FK) Unair yang berpotensi dimasukkan dalam program tersebut.

Unair juga akan terus menambah jumlah program studi yang dikolaborasikan dalam program itu. Terutama yang berasal dari luar FK. Program studi spesialis Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), misalnya. Nantinya, total ada sekitar 14 program studi, termasuk dari FKG, yang masuk kerja sama itu.

“Kami juga akan bekerja sama dengan FK, Rumah Sakit Dr. Soetomo (RSDS), Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), dan dengan Profesi. Seluruhnya untuk menyukseskan program ini,” tuturnya.

Nasih menyebut Unair-TNI tidak hanya bekerja sama dalam program pendidikan dokter spesialis. Kedua pihak juga terus mendorong dan mengembangkan program lain. Di antaranya, pengembangan vaksin merah putih dan malaria. “Saya berharap kita (Unair-TNI) akan terus bekerja sama, bahu membahu membangun ketangguhan dan kemajuan Indonesia,” tutup dia. (H-1)

BERITA TERKAIT