04 February 2022, 18:56 WIB

Kemendikbudristek: Capaian Akademik Penentu Kelulusan Seleksi Masuk PTN 


Faustinus Nua |

PELAKSANA Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nizam menegaskan penentuan kelulusan seleksi masuk di perguruan tinggi selalu berdasarkan capaian akademik. Seleksi tersebut berdasarkan peringkat dan program studi (prodi). Adapun pemeringkatan itu juga bukan hanya rapor tapi juga prestasi. Bahkan, peserta itu sendiri dapat mengetahui hasil tesnya. 

“Yang nilainya rendah diterima dan tinggi tidak diterima, kan itu tidak mungkin. Kalau ada info jalur belakang itu bohong. Kalau adik-adik sukses (maka harus) ukir prestasi di SMA agar sukses mengikuti tes, maka insyaallah akan diterima di perguruan tinggi impian,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (4/2). 

Dia mengingatkan ketatnya persaingan dalam ujian. Ada perbandingan yang jauh sekali antara peserta yang diterima dengan peserta yang mendaftar. Rasio peserta yang diterima menyesuaikan dengan jumlah ketersediaan bangku di perguruan tinggi. 

Merespons stigma di masyarakat bahwa yang mampu membayar uang kuliah lebih tinggi maka akan diprioritaskan untuk diterima di perguruan tinggi, Nizam membantahnya. Ia justru mengimbau agar orang tua mengisi data sesuai dengan kondisi riil. 

“Misalnya mampu Rp5 juta jangan ditulis Rp50 juta. Dan ini tidak berdampak pada diterima atau tidaknya. Tetapi akan menjadi penentu besaran uang kuliah yang akan dibebankan ke orang tua,” tegasnya. 

Direktur Eksekutif Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), Budi P. Widyobroto menjelaskan, pihaknya membantu para Rektor untuk mendapatkan calon mahasiswa yang unggul. Pertama melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), kedua yakni jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) di mana keduanya memiliki persyaratan yang berbeda. Selain itu, juga ada jalur ketiga yaitu jalur mandiri. 

Melengkapi pernyataan sebelumnya, Ketua LTPMT, Mochamad Ashari menyampaikan, LTMPT berfungsi untuk mempermudah calon mahasiswa dalam mencari atau mendaftar di kampus pilihannya. Sementara bagi perguruan tinggi, keberadaan LTMPT adalah untuk membantu para rektor mendapatkan bibit generasi muda unggul di perguruan tinggi. 

LTMPT saat ini membantu proses seleksi untuk 74 PTN, 39 politeknik negeri, 11 perguruan tinggi keagamaan. “Kalau tidak ditata dan masing-masing melakukan tes sendiri maka akan rumit dan mahal sekali bagi adik-adik. Melalui LTMPT kita bantu untuk dilakukan serentak se-Indonesia,” ungkapnya. 

Baca juga : AKN Seni dan Budaya Yogyakarta Gelar Pameran Wayang dan Sarasehan

Ashari mengatakan, kriteria untuk menentukan kelulusan bisa berbeda di setiap PTN. Ia menambahkan, LTMPT di sini berperan membantu PTN dalam pelaksanaan seleksi mahasiswa baru. “Kita menerima data, mengolah data, kemudian mungkin ada kriteria tambahan dari PTN,” terangnya. 

Lebih lanjut, Ketua LTMPT menerangkan, setidaknya ada dua hal yang menentukan kelulusan yaitu indeks pribadi dan indeks sekolah. 

“Indeks pribadi yaitu termasuk rapor, prestasi yang diterima, ini akan di-scoring. Indeks sekolah adalah pemetaan sekolah, ada data (mapping) sekolah. Jadi dari nilai UTBK dirata-rata dari satu sekolah dalam tiga tahun terakhir, kemudian di-rangking setiap tahunnya dan kita ambil nilai tertinggi dari sekolah mana dan seterusnya,” tutur Ashari. 

Adapun pertimbangan lain adalah jenjang sertifikat prestasi yang memiliki siswa. 

“Ini cukup adil (fair) untuk menyamakan nilai rapor. Belum tentu jika salah satu anak dalam peringkat rapor di sekolah adalah peringkat atas namun kita bisa lihat dari prestasi yang dimiliki sebagai nilai tambahannya. Misalnya ada yang sama-sama mendapat nilai Matematika 9, di SMA yang peringkatnya paling tinggi tadi kita scoring 100 persen dan yang di bawahnya betul-betul 90 persen. Jadi ada indeks sekolah yang digunakan, dan ada beberapa kriteria lainnya. Misalnya untuk sertifikat internasional juara 1, 2, ada scoring-nya,” imbuh Ashari. 

Kelulusan siswa dalam seleksi juga ditentukan oleh prodi yang dipilihnya. Jika pilihan prodinya di kampus yang tingkat kompetisinya tinggi, maka siswa dengan nilai yang lebih rendah akan mudah tergeser dengan nilai siswa lain yang lebih bagus. Jadi memang ada beberapa parameter yang menyebabkan keberhasilan. 

“Mohon untuk dipelajari oleh adik-adik. Khusus untuk memilih prodi saat SNMPTN harus diteliti dan dipelajari dulu betul-betul pilihan yang benar-benar disukai. Jika minat adik-adik tidak besar, jangan dipilih karena akan mengurangi peluang (kuota) bagi orang lain yang betul-betul berminat pada prodi itu. Ukur diri sebaik mungkin,” pesan Ashari. (OL-7)

BERITA TERKAIT