04 February 2022, 06:10 WIB

Terima Keterbatasan, Hapus Stigma Negatif


MI |

"TUHAN menciptakan insan di dunia ini pasti ada tujuannya," tutur Sekretaris sekaligus Ketua Pengembangan dan Pelayanan Masyarakat Yayasan Sayap Ibu (YSI) Banten, Renowati Hardjosubroto, kepada Media Indonesia, Jumat (14/1).

Memasuki periode baru kepengurusan 2022-2026, Reno tetap mengajak masyarakat inklusi untuk menerima keterbatasan setiap orang terutama anak-anak multidisabilitas sebagai perbedaan kemampuan, bukan penyakit. Menurutnya, stigma negatif seperti itu masih ada di masyarakat. Padahal, meski berbeda kemampuan, anak-anak itu mempunyai potensi.

Sebagai sesama manusia, anak-anak disabilitas majemuk juga memiliki hak yang sama untuk pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan seperti anak-anak lainnya. Mereka juga berhak hidup berdampingan, berteman, dan bekerja sama dalam masyarakat. "Kita ingin berbagi dengan masyarakat luas, bukan menggurui atau mengajari. Kita mempersiapkan lima hingga enam tahun sebelum usia produktif dan keluar dari panti," jelas Reno.

Panti Sosial Asuhan Anak YSI Banten yang berdiri sejak 2005 aktif menjangkau masyarakat lewat tiga Unit Pelayanan Disabilitas (UPD) dan Paguyuban Keluarga Disabilitas Mandiri (PKDM).

UPD yang berlokasi di Tangerang Selatan, Tangerang, dan Depok itu melakukan berbagai kegiatan seperti penyuluhan deteksi dini disabilitas, family development session (FDS), parenting skill, pelatihan terapi bagi orang tua, fisioterapi anak, pemeriksaan kesehatan, pendidikan anak disabilitas, konseling disabilitas, serta publikasi dan sosialisasi.

Tercatat populasi anak-anak disabilitas dari keluarga prasejahtera yang dijangkau UPD di Tangerang Selatan sejumlah 150-200 orang, di Tangerang kurang lebih berjumlah 60 orang, dan di Depok 40-50 orang.

Untuk PKDM memiliki basis dari masyarakat untuk masyarakat. Berlokasi di salah satu rumah warga di daerah Depok, YSI Banten turut menyediakan terapi dan menyalurkan sembako serta kebutuhan harian dari hasil pengumpul iuran semampunya.

"Mereka yang mendapat bantuan dan binaan, mereka menghargai dan mau mempelajari pengasuhan sehingga bisa tegar dan berpikir positif," kata Reno.

Berupaya menjangkau lebih luas, acara 'Kopi Bareng Bapak' juga pernah dilaksanakan agar para kepala keluarga yang masih berstigma negatif, mau berbalik mendukung dan meyakini anak-anak dalam kondisi apa pun tetaplah amanah untuk mereka.

Panti Sosial Asuhan YSI Banten saat ini menampung 37 anak dari usia tiga sampai 27 tahun. Jumlah itu fluktuatif karena kondisi yang berbeda dengan dua anak meninggal pada 2021. Namun, saat covid-19 membuat semua anak dan staf di panti berstatus OTG, mereka sembuh dan selamat.

Meski kondisi panti sempat mencekam selama hampir sebulan, Reno mengapresiasi setinggi-tingginya puskesmas, dinas kesehatan, dan Pemerintah Kota Tangerang Selatan yang sigap memberikan bantuan selama lockdown penuh diberlakukan.

 

Gedung sekolah khusus

Menjalani tahun kelima sejak memiliki izin, Sekolah Khusus Sayap Ibu ingin memiliki gedung mandiri dengan sistem program pelayanan anak binaan terintegrasi satu sama lain. Sebagai sekolah pertama untuk disabilitas majemuk, pihak yayasan dan sekolah ingin menjangkau lebih banyak lagi anak-anak spesial. "Jadi, rencananya dalam satu gedung tiga lantai menampung 100 anak di 10 kelas. Pelayanan deteksi dini lalu dibuat klaster, lima anak akan dibina guru utama dan asistennya," lanjut Reno.

Lebih terorganisasi dalam satu tempat, anak-anak binaan yang terbagi dalam mampu rawat, mampu latih, dan mampu didik juga akan lebih fokus mendapatkan pengetahuan umum dan vokasional.

Kemudian, mereka diberikan simulasi bekerja atau berwirausaha. Rumah transisi dan pusat pelatihan juga akan dijalankan untuk nantinya hidup dalam masyarakat. "Golnya anak-anak yang ditelantarkan bisa mandiri," imbuhnya.

Sejak Desember 2018, lahan kosong senilai Rp2,8 miliar, hasil donasi, sudah dibayar tunai untuk dibangun sekolah. Namun, pembangunan gedung sekolah sendiri ditaksir membutuhkan biaya Rp8,5 miliar yang seluruhnya berasal dari penggalangan dana.

BERITA TERKAIT