04 February 2022, 06:00 WIB

Anak-Anak Disabilitas Majemuk Bisa Mandiri


Irene Harty Sihaloho |

PAGAR hitam dengan pelang Sekolah Khusus Sayap Ibu menyambut siapa pun yang datang. Wastafel portabel dengan latar besar Mickey Mouse langsung menarik perhatian di tengah rimbunnya beragam tanaman hijau di antara gapura kotak yang kukuh.

Terlihat beberapa anak dengan kursi roda elektriknya sedang berjalan-jalan. Rupanya, mereka baru selesai sarapan.

Setelah beberapa lama menunggu, Kepala Sekolah Khusus Sayap Ibu, Agus Tri Haryanto, datang menyambut Media Indonesia. Penuh semangat, Agus Tri menunjukkan beragam ruangan, dari aula serbaguna, ruang makan, hingga toko tunai di bagian depan dan dapur, toilet, ruang medis, kelas, asrama perempuan dan laki-laki yang berbeda lantai. Beberapa anak terlihat berkumpul di sisi taman bermain untuk bersiap melakukan senam kursi roda yang mendunia. Mimik ceria terpancar saat para perawat menggerak-gerakkan kursi roda mereka seiring alunan lagu.

Sekolah Khusus Sayap Ibu memang unik. Sekolah naungan Yayasan Sayap Ibu (YSI) Banten itu merupakan sekolah untuk anak-anak multidisabilitas atau disabilitas majemuk, seperti hydrocephallus, microcephaly, down syndromecerebral palsy, dan autisme.

Sejak mendapatkan perizinan resmi pada 2017, sekolah tersebut telah membina sekitar 100 anak multidisabilitas yang juga tinggal di Panti Sosial Asuhan Anak YSI Banten.

"Jadi, merintis sekolah khusus ini dari 2013," kata Agus memulai perbincangan.

Semula, Agus berniat menyekolahkan 12 anak ke SLB. Namun, keterbatasan akses, kemampuan, dan keyakinan pada potensi anak-anak multidisabilitas berujung pada penolakan.

Tanpa ragu, dengan bekal ilmu bidang pendidikan spesial, Agus justru melihat penolakan sebagai kesempatan untuk membuka sekolah khusus anak-anak multidisabilitas yang pertama di Banten.

"Tujuannya mendirikan sekolah khusus ini adalah quality of life dengan filosofi kami dalam mendidik adalah encouragement," lanjutnya.

Di sekolah tersebut anak-anak mendapatkan didikan untuk mandiri dalam menjalankan rutinitas harian. Kegiatan dasar seperti mandi, makan, mencuci, melipat baju, memasukkan ke lemari, memasak, menggunakan toilet, berkarya, bermain, berolahraga, berjualan, hingga bekerja dilatih secara bertahap sesuai dengan kemampuan anak.

Tentunya, beragam kegiatan itu didukung fisioterapi, hidroterapi, dan okupasiterapi yang diatur bergantian oleh 83 staf yang bekerja di sana.

Dengan 10 perawat yang sekarang tinggal bersama 37 anak, sekolah selalu berusaha memberikan pengasuhan yang proporsional dan positif sebagai persiapan anak-anak hidup mandiri.

"Mereka tidak akan pernah cukup secara afeksi dan tidak pernah pas dalam hal keterikatan dengan orang. Kami di sini hanya mengondisikan dan mempersiapkan mereka," imbuh Agus yang ingin sekolah itu menjadi sekolah percontohan se-Asia Pasifik.

Impian itu datang saat Agus menyadari nilai dalam hidup saat berproses dengan anak-anak tersebut. Berkaca pula pada pengalamannya sebagai difabel tuli yang mendapatkan pendampingan luar biasa, Agus termotivasi melakukan hal yang sama untuk anak-anak multidisabiltas. Kehilangan kedua gendang telinga jelang pada usia 40-an ternyata lebih berdampak pada keluarga Agus ketimbang dirinya.

"Dulu mereka malu, tapi sekarang tidak. Bahkan, ibu saya masih khawatir. Saya bilang saya berterima kasih untuk apa pun yang sudah diberikan dan butuh support. Mungkin belum jadi anak yang terlalu berbakti," tuturnya.

Bagi Agus, memikirkan apa yang tersisa dan bisa dilakukan jauh lebih baik daripada memikirkan apa yang hilang. Rasa syukur itu menjadi pesan bagi keluarga dengan anggota keluarga difabel untuk berani melewati tembok tinggi menuju jalan terang penuh cahaya.

Keluarga sebaiknya memanfaatkan komunitas dan perkembangan digital untuk menemukan pintu yang terbuka. Untuk masyarakat inklusi, Agus berharap anak-anak disabilitas mendapatkan kesetaraan karena mereka juga bagian dari masyarakat. Ungkapan terima kasih kepada pemerintah pusat dan daerah dilontarkan guru yang mampu bahasa isyarat dasar itu atas bantuan berkelanjutan, bahkan saat pandemi covid-19, kepada anak-anak didiknya.

 

Ucup dan Bayu

Muhammad Yusuf alias Ucup merupakan pemuda 21 tahun yang dibawa ke YSI Banten sejak usia enam tahun dengan cerebral palsy. Dengan fungsi motorik hanya pada jari-jari tangan kanannya, Ucup bergerak bebas di atas kursi roda elektriknya. Berasal dari Nusa Tenggara Barat, Ucup sangat lihai menggunakan gawai dan berselancar di dunia maya.

Ucup tertawa ketika Agus mengatakan sudah empat atau lima gawai baru diberikan kepada Ucup karena yang lama rusak. Minat besar pada gawai menjadikan pemuda berkacamata hitam itu agen penjual di salah satu e-commerce.

Ucup dan empat anak lainnya belajar di kelas selama 3 jam setiap Senin-Jumat. Selesai belajar, mereka memproduksi sabun dari bahan-bahan alami, garam mandi, hingga hasil tarik benang pada kain yang dijadikan tote bag dan sejenisnya. Hasil karya mereka itu kemudian dijual ke berbagai pihak, termasuk lewat e-commerce.

"Sejak lockdown, sabun mereka ini masuk ke Superindo Ratu Plaza, tapi dikemas lagi oleh Superindo. Biasa ambil 500 buah setiap dua bulan. Sekarang sabun sedang proses izin Badan POM," ungkap Agus.

Peran Ucup tidak sampai di situ. Dia juga menjabat sebagai Manajer Toko Tunai yang berada di kompleks sekolah. Tokonya berhias mural warna-warni. Meski toko sedang tutup, Ucup tetap menjual berbagai camilan, jus, serta pulsa dan paket data untuk para staf. Setiap keuntungan dari berjualan ia tabung. Uang tabungannya pernah dipakai untuk membeli sepatu. "Jadi itu pembelajaran jual beli dan legitimasi uang seperti apa," jelas Agus.

Ucup pernah menunaikan umrah pada 2017 dan bercita-cita sebagai polisi.

Berbeda cerita dengan Bayu Wijaya atau Bayu yang telah 11 tahun tinggal di sana. Datang dengan kondisi hydrocephallus, Bayu mengalami kemajuan pesat hingga mampu bersekolah di salah satu sekolah dasar swasta Islam di kawasan Serpong.

Bayu duduk di kelas empat dan mampu mengikuti pembelajaran daring sejak pandemi. Kendati hasil rapor masih rata-rata, Agus meyakini Bayu mampu lebih fokus sesuai dengan kemampuan otak, minat, konsentrasi, dan lingkungan. Harapan besarnya, Bayu dapat menjalani kehidupan bermasyarakat di masa depan.

BERITA TERKAIT