28 January 2022, 20:38 WIB

BNPB: Mitigasi Bencana dengan Kearifan Lokal Belum Terkodumentasikan dengan Baik 


Atalya Puspa |

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan, mitigasi bencana dengan kearifan lokal pada dasarnya dimiliki semua daerah, namun belum terdokumentasikan dengan baik. 

"Untuk mitigasi dengan kearifan lokal pada dasarnya hampir semua daerah, akan tetapi belum terdokumentasikan dengan baik sehingga belum bisa menjadi literasi dan pembelajaran secara masif," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari kepada Media Indonesia, Jumat (28/1). 

Ia menjelaskan, sejumlah wilayah diantaranya Aceh telah mengenal smong untuk tsunami. Selain itu, di Nias mengenal Omo Hada sebagai bangunan tahan gempa, dan masih sangat banyak lagi bentuk-bentuk kearifan lokal di tiap-tiap daerah sesuai dengan karakteristik bencana di daerah tersebut. 

Ia menyatakan, BNPB tentu saja memandang penting hal mengenai literasi kebencanaan khususnya kearifan lokal ini. 

"Untuk itu kita sudah menyiapkan dan terus mengumpulkan literasi kebencanaan baik itu dari catatan-catatan kuno di dalam negeri hingga di luar negeri, termasuk dari foklore dari daerah-daerah kita di nusantara," ucapnya. 

Ia menyatakan, bencana adalah peristiwa yang berulang, pada dasarnya kita hidup diantara kejadian bencana yang terjadi di masa lalu dan mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana di masa depan. 

Baca juga : Tracing secara Rutin Kunci Cegah Terjadi Klaster Sekolah

"Artinya memang literasi bencana berbasis kearifan lokal ini sangat penting dan BNPB menjadikan hal ini sebagai prioritas dan bagian penting dalam mitigasi bencana di Indonesia," pungkasnya. 

Sementara itu, Ahli Tsunami Perekayasa BRIN, Widjo Kongko mengatakan, mengatasi bencana di Indonesia seharusnya memang banyak melibatkan banyak sektor hingga perlu penguatan serta sinergisitas semua pihak. 

Dia menekankan, pulau-pulau kecil di Indonesia juga rentan dengan ancaman bencana apalagi dengan terbatasnya akses, energi, transportasi hingga komunikasi. 

"Seperti survei kita 2010 di Mentawai bagaimana di sana kita mendapatkan secara informasi daerah yang terdampak, kita begitu sulit mengakses dan ini meningkatkan kerentanan," paparnya. 

Kepulauan besar atau kecil di Indonesia terletak di daerah sumber gempa dan tsunami. Terlebih di pulau kecil terbatas infrastruktur sehingga menimbulkan kerentanan. Maka peningkatan kapasitas dan manajemen bencana secara terpadu berbasis komunitas dan kearifan lokal diperlukan meningkatkan resiliensi. 

"Ancaman bencana sudah ada dari dulu, artinya kearifan lokal juga sudah ada sejak dahulu namun bagaimana memanfaatkan kearifan lokal itu dalam konteks mitigasi ke depannya," pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT