27 January 2022, 06:10 WIB

Konsorsium Peduli Gajah


R Wisnu Nurcahyo | Humaniora

GAJAH sumatra tersebar di tujuh provinsi yaitu Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, dan Lampung. Saat ini di seluruh pulau Sumatra hanya tersisa 22 kantong populasi gajah yang sebagian besar dalam keadaan kritis. Sebanyak 85% populasi gajah di Indonesia berada di luar area terproteksi.

Tidak dimungkiri isu gajah kurang populer di tengah masyarakat. Padahal di banyak budaya, termasuk di Tanah Air, gajah menjadi hewan sangat penting yang dihormati. Sampai saat ini simbol gajah cukup banyak digunakan di rumah, instansi, dan restoran, terlepas fakta ironis ancaman kepunahan gajah.

Karena itu, kami berharap paparan riset ini dapat mendorong lebih banyak masyarakat yang terlibat dan peduli dalam aktivitas konservasi mamalia terbesar yang masih hidup hingga sekarang ini. Tujuan utama riset kami adalah mengatasi persoalan inbreeding, menangani penyakit pada gajah sehingga dapat memperpajang usianya, menurunkan risiko kematian gajah muda dan dewas, dan memberdayakan masyarakat yang tinggal dekat dengan gajah di area penyangga (buffer zone).

Kalau kita lihat di beberapa taman nasional, ada terjadi kelahiran-kelahiran gajah baru. Artinya, ada keberhasilan atau program yang kita upayakan bersama tersebut perlahan-lahan sudah mulai terlihat hasilnya.

 

Konsorsium

Pakar FKH UGM bersama ahli Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (Vesswic) telah membentuk konsorsium untuk meningkatkan populasi gajah sumatra hingga 10% pada 2019. Konsorsium itu didanai USAID/TFCA.

Salah satu upaya dilakukan ialah penyusunan buku panduan pengendalian gajah bagi mahout (pawang gajah) untuk mendukung program  breeding (pengembangbiakkan) dan buku panduan bagi dokter hewan dalam penanganan kesehatan gajah. Kami juga meminta masukan dari multistakeholder yang berkepentingan terhadap konservasi gajah. (Dro/Hym/X-6)

BERITA TERKAIT