24 January 2022, 13:02 WIB

PDPI Minta Pemerintah Tinjau Ulang PTM Antisipasi Penularan Omikron


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

PERHIMPUNAN Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyoroti lonjakan kasus Covid-19 Indonesia akibat merebaknya varian Omikron. Oleh karena itu, PDPI meminta pemerintah meninjau ulang kebijakan Pemmbelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah dalam upaya antisipasi penularan kasus tersebut.

Ketua Pokja Infeksi PP PDPI Erlina Burhan menyebut seharusnya PTM tidak dilakukan terhadap anak-anak usia 6-11 tahun sampai kasus varian Omikron terkendali di Tanah Air.

"Kepada pemerintah tolong ditinjau ulang PTM terutama untuk anak-anak yang di bawah 12 tahun karena memang kasus lagi naik," kata Erlina dalam konferensi pers daring, Senin (24/1).

Dia menjelaskan varian Omikron memiliki kemampuan penularan dan memperbanyak diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan varian-varian sebelumnya. Kondisi ini tentunya menjadi perhatian pemerintah dalam pelaksanaan PTM.

"Jangan PTM dulu sampai Covid-19 Omikron ini terkendali, jadi kalau bisa anak PAUD, SD ini ditinjau PTM. Saya menyarankan masih hybrid atau kalau perlu di rumah saja daring," paparnya.

Baca juga: Menko PMK Sebut PTM Masih Berjalan Baik Meski Ditengah Peningkatan Kasus Omikron

Menurutnya, kebijakan untuk kembali menerapkan belajar dari rumah secara daring bisa menjadi pertimbangan pemerintah. Terlebih cakupan vaksinasi untuk anak usia 6-11 tahun belum menyeluruh.

"Saat ini 6-11 tahun itu belum banyak yang divaksin, mereka jadi kelompok yang rentan terinfeksi covid-19," sebutnya.

Apalagi dalam perkembangannya, lanjut Erlina, banyak sekolah yang memutuskan untuk tutup sementara setelah ditemukan kasus covid-19 dari peserta didik dan guru.

"Dalam laporan kasus terbaru, juga makin banyak kasus di kalangan anak sekolah," ujarnya.

Dirinya tak memungkiri gejala akibat infeksi varian Omikron memang terkesan lebih ringan. Namun, pasien yang mengalami gejala tertentu diwajibkan untuk langsung memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

"Berbagai data menunjukkan gejala memerlukan perawatan seperti demam tinggi, napas berat, terutama pada tiga kelompok yaitu lansia, orang dengan komorbid dan anak-anak," terangnya.

Dia memastikan apabila masyarakat mengalami gejala tersebut maka segera memeriksakan diri ke failitas kesehatan atau melakukan isolasi mandiri di rumah dengan penerapan protokol kesehatan.

"Tentunya konsumsi vitamin, cukupi kebutuhan gizi, memperbayak istirahat dan tidak menunda-nunda memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan terdekat," pungkasnya.

Diketahui, program vaksinasi untuk anak usia 6-11 tahun telah bergulir pada Desember 2021. Target sasarannya mencapai 26,5 juta anak di Indonesia. Pelaksanaan pertama dimulai di DKI Jakarta, Banten atau Depok. Vaksin yang digunakan ialah Sinovac.(OL-5)

BERITA TERKAIT