23 January 2022, 20:35 WIB

Hadapi Perubahan Iklim dengan Adaptasi Perilaku


Faustinus Nua | Humaniora

AKHIR-AKHIR ini musim hujan berlangsung lebih panjang dari seharusnya. Perubahan cuaca yang ekstrem ini semakin sering dirasakan, dari sangat panas tiba-tiba turun hujan lebat disertai kilat dan gemuruh petir. Perubahan cuaca yang berkepanjangan berpengaruh juga dalam perubahan iklim.

Dosen Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip) Rahmat Gernowo menhatakan bahwa perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang statistik pola cuaca dalam rentan waktu yang sangat panjang dan dapat terjadi pada suatu daerah tertentu bahkan seluruh permukaan bumi. Perilaku manusia turut berpengaruh terhadap lingkungan, perubahan tersebut akan dirasakan kembali oleh manusia.

"Cuaca merupakan keadaan udara yang terjadi di suatu tempat dengan waktu yang singkat atau sesaat. Musim juga bisa diartikan sebagai keadaan cuaca yang paling sering terjadi dalam jangka waktu tertentu, sedangkan iklim adalah rata-rata cuaca dalam suatu tempat dan untuk jangka waktu yang lebih lama," ujar Rahmat dalam keterangannya, Minggu (23/1).

Lebih lanjut ia mengatakan cuaca dipengaruhi oleh kelembaban udara, kecepatan angin dan suhu udara di suatu daerah pada waktu tertentu. Kondisi cuaca dan iklim juga akan mempengaruhi, salah satunya bencana hidrometeorologi yang terjadi, seperti banjir dan putting beliung.

Sedangkan mengenai el nino dan el nina, El Nino dan La Nina adalah pola iklim yang terjadi di Samudera Pasifik, namun bisa mempengaruhi cuaca di berbagai negara karena ada perubahan suhu lautan di lautan pasifik. Ketika El Nino berlangsung, musim kemarau menjadi sangat kering . Sedangkan ketika La nina, musim penghujan akan tiba lebih awal dari biasanya.

Menurutnya dampak yang terasa di wilayah Indonesia secara umum pada saat terjadi El Nino adalah musim kemarau menjadi lebih lama dan hujannya sedikit (istilah BMKG, k

musim kemaraunya di bawah normal). Sebaliknya saat terjadi peristiwa La Nina, musim di Indonesia secara umum menjadi lebih basah (di atas normal).

Dampak dari dua fenomena tersebut sudah cukup di fahami masyarakat, yaitu kekeringan dan banjir. Demikianlah sektor-sektor pertanian, transportasi, manajemen pengelolaan air dan sektor lainnya menjadi sangat tergantung pada prediksi musim yang akurat, apakah akan terjadi El Nino, atau La Nina. ENSO hanyalah salah satu fenomena yang mempengaruhi sistim iklim di Indonesia, dalam skala waktu.

"Kondisi cuaca bisa diketahui dari satelit Himawari, jika kita lihat citra satelit yang paling penting adalah warna merah, menunjukkan siklon tropis yang terkait dengan terjadinya cuaca ekstrem di sejumlah wilayah tertentu. Perubahan iklim sudah terasa karena banyak bencana dimana-mana, ada banjir, tanah longsor yang merupakan efeknya. Fenomena terakhir adalah turbulensi puting beliung," ungkapnya.

Rahmat menuturkan upaya yang paling tepat dalam menghadapi perubahan iklim adalah manusia beradaptasi dengan datangnya perubahan iklim, mengubah perilakunya untuk selalu peduli pada lingkungan. Cara tepat manusia beradaptasi terhadap perubahan iklim adalah dengan peduli dan cinta pada lingkungan.

"Bencana bisa terjadi, tetapi bagaimana cara kita untuk dapat mengantisipasi sebelum terjadinya bencana dan sebelum tindakan-tindakan yang besar, kita memulainya dengan hal yang paling sederhana misalnya membersihkan selokan dan lingkungan," pungkasnya. (H-2)

 

BERITA TERKAIT