23 January 2022, 20:25 WIB

Utamakan Hak Sehat, Epidemiolog Serukan Tunda PTM dan Batasi WFO


Atalya Puspa | Humaniora

INDONESIA kembali mengalami lonjakan kasus covid-19 akibat adanya varian omikron. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, pada Sabtu (22/1) saja, penambahan kasus baru dalam sehari mencapai 3.205. Terlebih lagi telah dilaporkan adanya pasien omikron yang meninggal dunia.

Melihat hal tersebut, Epidemiolog Dicky Budiman mengungkapkan pemerintah harus mengambil langkah antisipatif dengan membatasi mobilitas masyarakat dalam beberapa waktu ke depan.

"Pembelajaran tatap muka (PTM) ini harus ditunda dulu. Setidaknya satu bulan di masa-masa kritis. Online dulu karena berbahaya bagi anak," kata Dicky saat dihubungi, Minggu (23/1).

Selain itu, ia juga mengimbau perkantoran kembali memberlakukan aturan work from home (WFH) dengan persentase 20%-30%.

Dicky mengingatkan, meskipun omikron memiliki gejala yang ringan, namun ia digolongkan dalam variant of concern (VOC) oleh WHO. Artinya, varian tersebut memang berbahaya dan perlu penanganan yang serius.

"Setiap VOC tentu punya kelebihan dan daya rusak masing-masing yang menjadi alasan kenapa dia jadi VOC. Berarti dia bisa memperburuk situasi pandemi dan menyebabkan kematian," ucap dia.

Terlebih lagi, saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang belum divaksinasi, khususnya lansia dan anak-anak yang kemudian menjadi kelompok yang rawan.

"Sebagaimapun 3T kita terbatas dan lemah, sehingga kasus terjadi secara senyap sebagaimana delta pada awalnya. Jadi meskupun gelombang 3 tidak sebesar dan selama gelombang 2, namun dampaknya akan sangat serius dalam jangka panjang," pungkas dia. (H-2)

BERITA TERKAIT