23 January 2022, 19:14 WIB

Kasus Covid-19 Meningkat, PTM 100% Diminta Dikaji Kembali


M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora

PENELITI Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nadia Fairuza menilai pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) 100% sebaiknya dikaji kembali mengingat kasus positif harian yang terus meningkat.

Per Hari ini 23/1/2022 kasus harian bertambah 2.925 kasus sehingga totalnya menjadi 4,2 juta orang.

"Menurut saya untuk daerah-daerah yang mengalami kenaikan kasus selama omikron, terutama di daerah DKI Jakarta dan sekitarnya, sebaiknya tidak dilakukan PTM 100%. PTM tetap jalan tapi lebih baik dikombinasikan daring-luring," kata Nadia saat dihubungi.

Hybrid learning menjadi alternatif yang bisa ditempuh karena pembelajaran tersebut sudah dilakukan sebelumnya dan anak-anak sudah sangat akrab dengan gawai. Oleh karena itu untuk menghindari anak-anak terpapar varian omikron sebaiknya PTM 100% dikaji kembali dan beralih ke hybrid.

"Terutama di sekolah-sekolah DKI Jakarta yang per 19 Januari lalu telah muncul 72 kasus positif, sebaiknya kebijakan PTM 100% ini dikaji lagi," ujar Nadia.

Sementara itu, lima organisasi profesi medis yakni Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Indonesia Intensif Indonesia (PERDATIN), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular (Perki), serta Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pekan lalu telah mengajukan surat permohonan ada empat kementerian yakni Kemendikbudristek, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Dalam Negeri agar pihak-pihak pembuat kebijakan mengevaluasi proses PTM 100% pada kelompok usia kurang dari 11 tahun.

Hal ini berdasarkan sejumlah pertimbangan di antaranya kepatuhan anak-anak usia 11 tahun ke bawah terhadap protokol kesehatan masih belum 100%, juga belum tersedianya atau belum lengkapnya vaksinasi anak-anak usia kurang dari 11 tahun.

"Laporan dari beberapa negara, proporsi anak yang dirawat akibat infeksi covid-19 varian omikron lebih banyak dibandingkan varian-varian sebelumnya dan juga telah dilaporkan transmisi lokal varian omikron di Indonesia, bahkan sudah ada kasus meninggal karena omikron," kata Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) DR. Dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), FISR, FAPSR.

Lima organisasi profesi medis tersebut mengajukan usul agar anak-anak dan keluarga tetap diperbolehkan untuk memilih pembelajaran tatap muka atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) berdasarkan kondisi dan profil risiko masing-masing keluarga, anak-anak yang memiliki komorbid dihimbau untuk memeriksakan diri terlebih dahulu ke dokter yang menangani.

Kemudian anak-anak yang sudah melengkapi imunisasi covid-19 dan cakap dalam melaksanakan protokol kesehatan dapat mengikuti PTM dan mekanisme kontrol dan buka tutup sekolah seyogyanya dilakukan secara transparan untuk memberikan keamanan publik.

“Kami juga menghimbau orang tua agar melengkapi vaksinasi reguler melalui imunisasi kejar bagi anak-anaknya agar tetap terlindungi dari kemungkinan penyakit lain yang mungkin timbul,” kata Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K)

Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat, tingkat rawat inap Covid-19 di antara anak-anak melonjak di Amerika Serikat, dengan rata-rata 4,3 anak di bawah 5 tahun per 100.000 dirawat di rumah sakit. Angka ini naik 2,6 anak dari akhir Desember 2021.

Terjadi peningkatan 48 persen dari pekan yang terakhir Desember 2021, dan peningkatan terbesar dalam tingkat rawat inap kelompok usia ini telah terlihat selama pandemi.

Di Indonesia, sejumlah sekolah yang telah melaksanakan PTM juga telah melaporkan munculnya sejumlah kasus pada siswanya. (Iam/OL-09)

BERITA TERKAIT