21 January 2022, 20:48 WIB

Perpaduan Budaya Jawa dan Tionghoa Lewat Batik Peranakan


Faustinus Nua |

DALAM rangka perayaan Tahun Baru Imlek, Hotel Borobudur Jakarta mengadakan acara yang bertemakan Lunar New Year Show di Pendopo Lounge pada, Jumat (21/1). Acara tersebut menghadirkan Komunitas Notaris Indonesia Berbudaya dan Perempuan Pelestari Budaya Indonesia.

“Acara yang diselenggarakan pada hari ini adalah dalam rangka menyambut Tahun Baru China dan juga memperkenalkan Pendopo Terrace pada tamu undangan,” ujar Karina Eva Poetry, Direktur Marketing Communication dari Hotel Borobudur Jakarta.

Selain tempat yang menarik agar pengunjung mendapatkan pengalaman kuliner yang berbeda, pemilihan tempat di Pendopo Lounge sekaligus bertujuan untuk memperkenalkan Pendopo Terrace yang merupakan section terbaik yang berada di Pendopo Lounge dan sudah dibuka sejak Desember 2021.

Baca jugaPemerintah Minta Jabodetabek Percepat Pelaksanaan Vaksinasi Booster

Pemandangan yang menarik yang berada di Pendopo Terrace disajikan bersama High Tea yang merupakan menu andalan dari Pendopo Lounge. “Dalam rangka Re-Opening Pendopo Terrace, kami menggunakan event ini sebagai pengenalan menu andalan kami yaitu High Tea,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu, juga dipamerkan batik peranakan Tionghoa. Budaya Jawa dan Tionghoa berpadu yang menunjukan keanekaragaman bangsa Indonesia.

Pemerhati dan edukator batik Dave Tjoa, mengatakan kebanyakan batik peranakan Tionghoa memang memiliki warna berani seperti pastel dan motif yang lebih cenderung lekat dengan nuansa bunga. Batik tersebut terus dilestarikan dari generasi ke generasi sebagai kekayaan bangsa.

“Kalau lihat batik peranakan, itu lebih detail pengerjaannya. Secara warna juga lebih cerah. Terutama pada batik peranakan Pekalongan. Warnanya lebih berani bila dibandingkan dengan warna batik di kalangan keraton yang cenderung menggunakan warna cokelat tua," tuturnya.

Pengrajin batik Widianti Widjaja mengungkapkan bahwa dirinya merupakan generasi ketiga Batik Oey Soe Tjoe. Mulai dari kakeknya, batik peranakan Tionghoa itu memiliki kekhasan dan nilai tersediri.

Dia mempekerjakan 12 pembatik dengan keterampilan khusus. Satu kain bisa memakan waktu hingga setidaknya tiga tahun adalah karena tiap pembatik mengerjakan sesuai spesialisasi mereka.

“Jadi yang bikin motif bunga ya khusus. Nanti untuk mengerjakan motif lainnya di satu kain itu, akan menunggu dari pembatik lain yang sudah beres,” kata Widianti.

Lewat perpaduan dua budaya tersebut, membuktikan betapa kayanya keberagaman bangsa Indonesia. Dan pada perayaan Tahun Baru Imlek kali ini, Hotel Borobudur ingin memperkenalkan dan memperkuat persatuan bangsa lewat budaya.(H-3)

BERITA TERKAIT